Surat Buat Kang Ridwan Kamil

Oleh: Dimas Supriyanto

 

 Surat ini saya tulis untuk Kang Ridwan Kamil dengan perasaan campur aduk. Haru biru. Dengan berat hati, dengan rasa malu : saya meminta Kang Ridwan Kamil agar pandai pandai menjaga diri.

Tolong, sebagai Gubernur Jawa Barat yang baru, jangan bekerja terlalu keras, jangan terlalu rajin dan jangan ambisius. Dan yang penting, Kang Emil saya minta Anda jangan kreatif !

 

 

Tolong jaga perasaan kami sebagai warga DKI Jakarta – warga ibukota. Apa kata dunia nanti, kok Gubernur Jawa Barat lebih kreatif dibanding Gubernur DKI Jakarta?

Cukuplah kami menahan malu dan kesedihan karena dua tahun ini harus mendapatkan gubernur ibukota yang hari hari hanya berwacana, pidato pidato, janji janji - yang tak kunjung ditepati. Bolak balik ke luar negeri dengan fasilitas VVIP, didampingi Wagub pengusaha kaya raya dan omdo, jeblok mewujudkan janji Ok-Oce - tapi berkat kardus yang berlimpah, kini naik kelas jadi calon wakil presiden – dan dapat predikat “ulama” - lalu mewariskan jabatannya kepada mantan terpidana.

Tidakkah Kang Emil merasakan kami di ibukota sedang depresi ?

BAIKLAH Kang Emil, saya mengaku saja. Kemarin saya memang suka mem-bully gubernur Jawa Barat – kader Partai Sapi yang memerintah dua periode tanpa prestasi itu - yang tak menghasilkan produk apa pun yang dibanggakan - kecuali Sungai Citarum jadi “sungai paling kotor sedunia” dan membangun masjid Satu Triliun. Ya, saya mem-bully-nya.

Tapi ‘kan memang benar? Kali Citarum akhirnya ditangani pemerintah pusat. Gubernur Jabar sebelumnya cuma bisa minta rakyatnya berdo'a.

Sekarang semua menimpa kami. Mengapa karma itu begitu cepat datangnya? Ujug ujug begitu saja.

Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama yang kami banggakan, karena telah membuat sungai dan kali di ibukota kinclong, Jakarta bersih dan megah mendadak jatuh. Masuk penjara.

Dulu - lewat berbagai inovasinya - kebersihan ibukota bisa dipantai lewat smartphone, pasukan oranye yang giat bekerja, aparat kelurahan yang diawasi kinerjanya lewat aplikasi ‘Clue’ dan seterusnya. Ahok menjaga untuk kami.

Ahok lah yang membuat program PPSU dan petugas UPK (unit pelaksana kerja) Badan Air Dinas Kebersihan; mereka yang mengawasi sungai – yang kini entah kemana.

Ahok lah yang membuat sistem dan mengintegrasikan seluruh sungai di ibukota dengan program “Jakarta Smart City”. Sehingga kebersihan sungai dapat terus diawasi.

Tapi kini, seluruh Indonesia memperolok kami. Gubernur DKI Jakarta yang baru membiarkan Kali Ciliwung butek, dan menyelesaikan masalah kali butek hanya dengan menutupinya menggunakan jaring hitam dan semprotan parfum – hasil studi banding di Amerika menggunakan pesawat klas VVIP. Lalu berwacana lagi.

Berwacana terus tiap hari.

Kang Emil, saya baca berita tentang Anda yang sedang mempersiapkan sejumlah program bagi masyarakat di wilayah "megapolitan". Anda sedang ngebut melakukan revitalisasi Kalimalang di Bekasi : di depan hidung wilayah DKI Jakarta.

Kang Emil tidak salahkah ? Ini ‘kan seharusnya digagas oleh gubernur kami di ibukota, dalam membereskan keruh kali Ciliwung yang tak kunjung henti, lulusan Amerika pemegang gelar PhD – mantan rektor universitas dan jadi menteri di Kabinet Kerja – meski cuma dua tahun dan dipecat Jokowi.

Mengapa Anda ?

Gubernur kami di DKI Jakarta sudah mewacanakannya, ada rencana membuat kali bersih dan jadi obyek wisata. Ya, rencana, eh, wacana.

Maksudnya rencana dan wacana

Realisasinya baru tahap memasang jaring hitam menjelang Asian Games 2018 itu dan menyemprotnya dengan parfum. Tapi ada wacana untuk menjadikan Kali Ciliwung bersih. Ada wacananya.

Pemprov DKI sedang menyusun rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah di Kali Ciliwung, katanya.

Dia mengatakan juga penataan sungai “bukan sekedar membuat indah tapi mengembalikan ekosistem sungai seperti semula”. Keren ‘kan?

Kata gubernur DKI Jakarta yang baru, membereskan Kali Ciliwung, “ bukan sekadar soal estetika, nampak indah. Bukan sungainya nampak indah, tapi yang paling penting pencemaran yang terjadi di DKI selama beberap tahun ini meningkat secara signifikan".

"Jadi PR-nya itu, karena itu yang akan kita lakukan adalah membangun sungai sehingga menjadi ekosistem yang alamiah lagi ".

Begitulah kelitnya – sanggahannya – jurus ngelesnya. Lalu berwacana lagi.

Beberapa waktu lalu, dalam lawatan ke Korea Selatan, Presiden Jokowi diajak jalan jalan menyusuri Kali Cheonggyecheon di Kota Seoul. Menurut Walikota Seoul, Park Won-soon, sungai bersih yang kini jadi obyek turis itu dulunya kumuh dan kotor. Namun dengan visi dan penuh tekad bisa dibersihkan dan diperindah dalam dalam dua tahun saja.

Kalau ngikuti semangat presiden, “kerja, kerja, kerja”, Kali Ciliwung bisa dikerjakan dan dua tahun selesai. Tapi kalau “wacana, wacana, wacana”, saya kira dua periode juga nggak jadi apa apa.

Kang Emil, tahu nggak Presiden Jokowi kemarin minta supaya Walikota Seoul, sebagai 'Sister City' Jakarta, membantu membersihkan kali di Jakarta - dan dengan suka cita Walikota Seoul meluluskannya. Sementara Gubernurnya di Jakarta anteng aja.

Edan. Ora idep isin !

PERIH hati saya mendengar paparan Anda seputar rencana revitalisasi Kalimalang, Kang Emil. Lokasinya, dimulai dari gerbang Tol Bekasi, di samping ada dua mal, antara Metropolitan Mal dan di sebelah Unisma. “Nanti saya tentukan mana paling mudah, paling cepat. Jauh lebih keren dari Teras Cikapundung (Bandung) karena sungainya lebih lebar, airnya lebih stabil," begitu kata Kang Emil.

Dan Anda menjanjikan akan selesai dalam satu tahun! Dalam setahun Kalimalang berubah.

Semua diperbaiki. Limbahnya ditahan, interaksi ruang publiknya, dengan muaranya, “Jadi percontohan menjernihkan airnya, mengembalikan ruang negatif jadi positif. “Citra Bekasi yang tadinya enggak ada objek wisata jadi punya”.

Cukup..cukup.. Kang Emil. Anda menyakiti kami !!

Kami malu amat sangat. Seharusnya gubernur kami di DKI Jakarta yang melakukannya untuk Kali Ciliwung. Tapi Anda mendahuluinya, memberi contoh dan mengajari kami di Kalimalang.

Betapa kami harus manahan malu Kang Emil? Tidak bisakah Anda menjaga perasaan kami, Kang Emil?

Beri kami muka. Jangan biarkan kami hilang muka!

Tolonglah, Anda jangan bekerja keras, jangan ambisius dan jangan kreatif .

Tolong jaga perasaan kami – warga ibukota. ***

 

(Sumber: Facebook Dimas Supriyanto)

Sunday, September 23, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: