Surakarta, Kota Sarangnya Macam Luwe

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Kenapa tidak kita sebut saja Sala (atau dilafalkan Solo, sebagaimana orang dengan gampang mengingatnya). Sala itu sebutan dalam konteks sosial-budaya, sedangkan Surakarta lebih karena alasan politik. Karena yang akan akan kita bahas konotasinya politis, kita pakai istilah Surakarta. Apalagi makna Sura sendiri bukanlah sama dengan konteks Sura dalam Surabaya, yang artinya ikan hiu. Mana ada hiu mampir sejauh itu sampai ke pedalaman Bengawan Sala? Sebagaimana dulu ikan hiu yang kesasar dan ditangkap di perariran sungai Kalimas. Sura di sini bermakna "pemberani" atau minimal bila digathukkan dengan konteks ke-Islam-an itu adalah bulan pertama, baik dalam penanggalan Jawa maupun Islam.

Jadi ada dua konotasi dalam penyebutan Surakarta. Pertama, ia adalah kota yang pemberani. Kedua, ia adalah kota yang pertama atau yang utama. Masalahnya terhadap apa? Lagi2 disini, saya harus sebut (mungkin) terhadap saudara muda-nya Yogyakarta. Dua sedulur yang akur2 sembur, istilah yang menggambarkan tampak damai tapi sesungguhnya tak pernah mau saling dipersamakan. Dalam segala hal-nya. Saya cukup fasih membaca peredaan nyaris setiap detil perbedaan kedua bersaudara ini. Dan sebagian sudah saya tuliskan, yang jika dikumpulkan, bisa jadi satu buku sendiri....

Tapi kali ini, saya lebih ingin membahas tentang kenapa di kota ini konotasi "macan luwe" itu begitu melekat. Macan luwe arti harfiahnya adalah harimau lapar. Tidak tepat benar, karena antara macan dan harimau sesungguhnya itu beda. Dulu keduanya ada di seputaran Jogja-Solo, minimal sampai era Rampogan masih sering diadakan di alun2 kota. Rampogan adalah sebuah pertarungan paling tidak lucu dan bangsat yang pernah ada dalam budaya Jawa masa lalu. Bagaimana mungkin, kita mengeroyok macan yang telah dilemahkan, dikerangkeng sedemikian lama. Ngamuk ingin bebas lalu kita memperlakukannya bak daging sate ditusuk2 dengan tombak secara beramai-ramai. Atas anama apapun saya mencatat, inilah lambang "maskulinitas semu" priyayi-satria Jawa di masa itu.

Dalam konteks ini, penyebutan macan lebih merujuk pada Macan Tutul (Panthera pardus), yang sekalipun populasinya semakin menipis tapi masih mudah ditemukan. Sedangkan Harimua Jawa (Panthera tigris sondaica), secara resmi sejak tahun 1980an telah dinyatakan punah. Orang Jawa sendiri lebih suka menyebut harimau itu singa (baca: singo). Padahal kalau di Africa, singa itu merujuk pada harimau jantan yang gondrong rambutnya itu. Makanya dulu, jika ada laki2 yang secara seksual dan body languange terlihat perkasa, ia akan mendapat tambahan kata Singo di belakang nama panggilannya. Ingat nama Darto Singo ayahnya penyanyi Anggun C. Sasmi, yang gondrong sangar itu. Tak dinyana, anaknya ini suaranya mengaum jauh ke seantero jagad. Ia adalah penyanyi paling ikonik dan otentik, yang pernah dilahirkan Indonesia. Bagi orang Jawa bisa disebut asma kinarya japa, nama yang membuhulkan harapan.

Macan luwe sendiri semula hanya sering ditabalkan pada karakter cantik Putri Solo, yang digambarkan karena jalannya yang anggun lemah gemulai. Dari semula sebuah bagian candrane wanita Jawa. Dengan simbol paling tinggi pada figur Gusti Nurul yang legendaris itu. Ia adalah "macan" sesungguhnya. Ia tidak hanya revolusioner dalam arti berani mendobrak sekat2 feminisme Jawa tradisional. Ia tidk hanya membuat patah hati, nyaris semua aktor politik tertinggi Indonesia. Bahakan tak kurang Sukarno, Sutan Syahrir, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Tapi ia justru memilih, seorang tentara biasa yang masih kerabat jauh. Ia juga dikenal sebagai seorang penunggang kuda yag baik. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang membidani berdirinya Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia. Belakangan ketika Jokowi jadi Presiden, hari kelahiran radio ini diperngati sebagai Hari Penyiaran Nasional. Menyaingi Hari Radio yang lebih berkonotasi pada kelahiran RRI.

Namun sesungguhnya karakter macan luwe itu juga melekat pada pria Sala yang memiliki karakter berani, garang, dan bahkan cenderung radikal. Radikalisme kota Surakarta ini, terutama sekali sudah dirasakan sejak era pergerakan nasional di tahun 1920-an. Di kota ini terjadi persemaian berbagai gerakan baik yang bertema agama (Islam terutama), nasionalis, maupun komunis. Uniknya, dalam pergerakan ormas Islam justru terjadi dialektika yang sedemikian seru. Sejak Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berorientasi lebih ekonomi, bergerak menjadi semakin politis menjadi Sarekat Islam (SI). Bahkan di tengah jalan, kemudian terpecah menjadi dua jalan yang berbeda: SI Merah yang lebih bergaris komunis, dengan tokoh domestik yang legendaris Haji Misbach. Seorang muslim yang sarat paradoks, namun penuh dengan inpirasi. Seorang yang karena semangat perjuanganya dibuang ke Boven Digul, hingga meninggalnya tak pernah lagi kembali ke kota kelahirannya.

Demikian "radikal"-nya gerakan Islam di Surakarta, hingga lupa untuk berbuat banyak.untuk kepentingan umat. Bandingkan misalnya dengan gerakan Muhamamdiyah di Yogyakarta, yang memiliki eksistensi dan pengaruh yang sedemikian luas hingga hari ini. Muhammadyah yang lebih bersifat konservatif, di luar juga berjuag di garis politik namun tak pernah lupa bekhidamat di lpangan usaha sosial. Tak terhitung jumlah sekolah, rumah sakit, dan panti usaha yang didirikan dengan semangat ke-Muhammadiyah-an. Hal yang anehnya terus lestari hingga hari ini, seolah hanya radikalisme-lah yang menjadi benang merah di kota ini. Selalu saja ada hal baru, dengan garis bawah radikalisme Islam terus tumbuh kembang di kota ini. Ustadz Abu Bakar Basri dengan Pesantren Ngruki-nya selalu diidentikkan sebagai sarang terorime untuk kurun yang sangat panjang, sejak Orde Baru hingga (barangkali) hari ini. Hingga beberapa hari lalu, terjadi insiden pengepungan dan pemukulan terhadap acara midodareni di rumah seorang Habib. Aneh kok bisa di rumah seorang Habib?

Secara publik tentu hal ini dianggap menyedihkan, tapi saya pribadi tidak terlalu gusar. Tentu dengan argumentasi dasar: Pertama, selama kaum radikal masih bergerak. Selama itu juga eksistensi budaya Jawa justru semakin teguh kuat mengakar. Saya justru khawatir tanpa tekanan, budaya Jawa jusru berangsur2 pelan2 ditinggalkan. Kedua, dengan sikap kasar dan menghina budaya Jawa. Cita2 besar khilafah yang mereka usung sesungguhnya tetap adalah ilusi dan utopia belaka. Mereka tak pernah mau belajar dari SDI, SI, Sjarekat Rakyat dst dst-nya bahwa gerakal radikal, hanya melahirkan gerakan radikal yang lebih baru. Yang mana, yang lama mengkhianati yang baru. Saling sibuk sendiri saling membunuh. Terus saja begitu sepanjang hayat...

Saya yakin di Surakarta itu di luar para macan luwe yang suka bikin onar, menangan, dan sulit bertoleransi, terdapat macan luwe garis baik. Yang secara kuantitas maupun kualitas jumlahnya jauh lebih banyak. Salah satu macan luwe paling populer yang dihasilkannya, sekarang sudah jadi orang nomor satu di Indonesia. Pertanyaannya: kenapa bila kelompok intoleran itu sudah ada sedemikian lama, kenapa ia hanya diam saja.

Jawabannya barangkali, harus pakai kacamata orang Jawa, wabil khusus Trah Mataram melihatnya: kanggo pepak-pepak.

.
.
.
NB: Pepak2 sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun lebih kepada penghargaan kepada ke-Bhineka-an. Sesuatu yang selalu diingkari sementara waktu, tetapi justru diabadikan sepanjang waktu.
** Ilustrasi adalah wujud situasi Kebonrojo Sriwedari dalam bentuk pertamanya. Di latar belakangnya terlihat kandang macan, dalam ukuran kecil dan kurang memenuhi hak2 azasi binatang untuk ukuran hari ini.

Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Wednesday, August 12, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: