Super Hero

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

SEJAK dulu gue gak begitu tertarik dengan film superhero. Gue lebih tertarik dengan film fiksi ilmiah macam Star Trek gitu.

Di film fiksi ilmiah, gue bisa mendapat gambaran apa yang bakal terjadi di masa depan. Tapi di film superhero, gue cuma melihat angan2 manusia yang gak kesampaian melawan kenyataan.

Di film fiksi ilmiah seperti Star Trek, angan2 manusia di masa depan banyak yang menjadi kenyataan. Misalnya data pads, comunicator, phaser (laser), hypospray, computer, wireless, tricorder, incoming message (sekarang skype), atau cloaking device (pesawat siluman).

Sementara film superhero gak ada satu pun yang jadi kenyataan. Superman, Spiderman, hulk, X Man, ya gitu2 aja dari dulu. Cuma gonta ganti kostum doang.

Satu2nya film superhero yang menarik perhatian gue ya baru Iron Man. Ini superhero versi fiksi ilmiah. Manusia bisa terbang menggunakan teknologi canggih. Bukan datang dari planet lain kayak Clark Kent atau turunan dewa kayak Thor.

Kenapa film superhero menarik walau gak bakal jadi nyata? Ya karena di dalamnya banyak khayalan manusia yang menyenangkan walau gak mungkin kesampaian. Kayak janji2 surga calon pemimpin yang bisa menjanjikan segalanya bakal mudah dan murah. Yang percaya air dan sampah bisa diajak dialog. Yang kagum sama manusia bisa ngobrol sama semut atau kuda.

Kenapa film fiksi ilmiah gak menarik? Karena apa yang bakal terjadi gak bisa dirasakan secara instan oleh para pemimpinya. Seperti film Star Trek yang lahir di jaman bapak gue muda, tapi baru bisa dinikmati langsung sama generasi gue anaknya, atau generasi cucunya.

Kenapa pemimpin seperti Anies lebih menarik daripada pemimpin seperti Ahok. Karena Anies itu superhero dan Ahok cuma fiksi ilmiah. Ahok menangani banjir dengan menata kota yang baru bisa dirasakan di masa depan, sementara Anies menangani banjir dengan menata kata yang hasilnya menyalahkan air dan sampah kiriman daerah kekuasaan Ridwan Kamil.

Kenapa pemimpin seperti Prabowo lebih menarik dibanding Jokowi. Ya sama seperti di atas. Prabowo itu tokoh superhero, sementara Jokowi tokoh fiksi ilmiah. Apa yang diperbuat Jokowi bukan buat masa kini tapi buat masa depan.

Itulah sebabnya ketika semua orang heboh pada nonton Avengers: Endgame, gue gak terlalu antusias. Biasa2 aja. Gak sampe marah2 waktu dikirimin spoiler bahkan cerita lengkapnya sama temen gue.

Tapi gue bersyukur, untung teman2 gue penggila Avengers, di dunia nyata masih memilih tokoh yang berwawasan masa depan. Bukan tokoh yang berwawasan masa kini dan masa lalu. Biarlah Jakarta aja, kota masa kecil hingga dewasa gue, yang jadi korban buat pembelajaran bahwa tokoh superhero cukuplah cuma buat jadi tontonan bukan tuntunan.

Sekedar info Situng KPU kemarin baru selesai 45%: Jokowi-Amin 56,38% Prabowo-Sandi 43,62%. Gak lama lagi permainan akan usai. Siapa the real(count) superhero sesungguhnya? Nanti baru ketahuan tanggal 22 Mei setelah bedug berbuka puasa.

Salam Indonesia jaya.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Sunday, May 5, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: