Super EM dan Khilafah

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Beberapa minggu lalu menyempatkan mampir ke pasar Beringhardjo, Jogyakarta. Mau belanja bahan jamu seduhan. Cari parkir di atas penuh, turun lagi cari parkir di bawah. Terhenti oleh mobil minivan yang sedang mandhêg. Pintu belakangnya dibuka.

Nampak beberapa karung besar. Entah berisi apa. Dua atau tiga orang 'lewat' paruh baya, bantu turunkan karung2 itu. Buruh gendong. Sangat cekatan.

Lihat posisi punggung yg begitu membungkuk nekuk di pinggang, mungkin karung2 itu bukan barang yang ringan. Apalagi bagi orang2 sepuh seperti mereka. Dan mereka juga perempuan. Ya, mereka Super Em. Embok-embok Super . . .

Dalam kelas ekonomi mereka bisa saja masuk deretan bawah. Bahkan ada juga yang berkata, dengan teganya, masuk deretan bawah strata sosial.

Bole2 saja. Tapi yang jelas bukan ada paling bawah dalam 'etos kerja'. Bahkan bukan pula dalam soal sikap, mental, dan religiusitas, cara memandang Tuhan . . .

Ada mungkin diantara kita yang berBapa-Ibu, ber'kelas' seperti mereka. Ndak perlu persis. Bisa, Tukang Becak, Buruh Cuci, Pemulung, dan lain-lain . . .

Ada mungkin juga diantara kita yang sekarang 'terentas'kan. Naik strata. Secara ekonomi. Salah satu sebabnya, mungkin yang paling besar, berasal dari hasil tetesan keringat para Bapa-Ibu kita.

Jika 'beruntung', kita diwarisi juga dengan etos kerja, kemandirian, kejujuran, kesabaran dan ketawakalan. Kepercayaan bahwa Tuhan itu ada dan selalu menjaga mereka . . .

Bagaimana sikap kita pada para Bapa-Ibu, yang telah berjasa 'mengentaskan' kita ? Ada banyak diantaranya yang bangga, hormat, sayang. Tempatkan mereka diatas 'singasana'. Lebih tinggi dari apapun yg ada di dunia.

Ini terjadi jika kita 'beruntung'. Tidak saja telah menerima berkah 'tetesan' keringat, tapi juga sifat dan sikap cara mereka hadapi dan jalani hidup. Termasuk juga perilaku ke-Tuhan-annya.

Tapi ada lho, yang tidak begitu. Persis bak 'kacang ninggal lanjaran', kacang yang lupa akan kulitnya.

Yang paling ringan paling cuma me'rekayasa' curriculum vitae. Ngaku bapaknya dulu priyayi. Demang atau saudagar. Dihormati banyak orang, punya sawah ladang luas sejauh mata memandang . . . 

Ini masih lumayan. Ada juga yang parah. Ber-aksi bak Malin Kundang. Saudagar kaya raya yang usir ibu-nya. Cuma karena tampil 'beda'. Pengemis lusuh compang camping renta . . .

Bertahun lalu di salah satu TV swasta nasional, dalam satu acara talkshow, mbahas soal 'khilafah'.

Klaim punya dalil. Namun ada pihak lain yang tidak setuju, ngaku punya dalil juga. Saling bantah. Nurut sampeyan siapa yang menang kalah atau yang benar ? Ndak jelas. Terserah pada siapa yang kita percayai saja.

Yang paling ngerti 'mana yang benar' dan 'mana yang salah', ya 'Yang Punya' dalil saja. Tuhan. Yang Maha Esa dan Yang Maha Kuasa.

Jadi sebaiknya para 'khilafis' ndak usah maksa. Lagipula Bapak-Ibu, Kakek-Nenek, para moyang kita dahulu, perang nglawan Belanda dan Jepang, ndak maksud mau dipimpin khalifah. Maunya dan sudah sepakat dikepalai oleh Presiden yang ber-Pancasila . . .

Tapi ada lagi yang bikin nggondhog saya, waktu itu dan sampai sekarang. Si 'khilafis' yang ber-busana 'ngustat' omong. Sampaikan kritikan atas demokrasi kita. Yang 'one man one vote one voice'.

Memang dari dulu 'mereka' ndak suka. Pernah ada 'meme' atau apa istilahnya. Gambar orang lemparkan sesuatu ke dalam sesuatu. Ada tulisannya, 'Buang Demokrasi ke Tempat Sampah' . . .

Kalimat kritikannya, yang tidak akan pernah saya lupa, 'Masak suara seorang Profesor dinilai sama dengan dengan suara Petani'

Jadi nurut beliau, Petani, Buruh Cuci, Tukang Becak, Pemulung, Tukang Batu, Kuli Bangunan, Tukang Parkir, Pedagang Keliling, dan lain-lain, ndak boleh bersuara. Karena ndak ber'kelas'. . .

Yok opo coba ? Apa ndak bikin orang emosi ?

Pikiran dan ide ini sudah 'merata'. Ter-patri dalam benak mereka. Yang boleh cawe-cawe tentang kekuasaan cuma para Priyayi, Demang, dan para Saudagar. Yang 'mereka' nilai punya akal, pikiran, ilmu, etika, sifat, dan sikap yang selalu mulia. Saking tingginya di awang-awang, tempat para dewa . . .

Seorang mantan musisi terkenal, juga ucapkan senada. Bahkan yang terakhir, lewat twitter, seorang 'ngustat' merasa bersukur karena ngaku meng-islam-kan orang2 berpendidikan bukan para 'pembantu' . . .

Pengakuan seorang 'nyonya' yang upload foto lagi kumpul dengan teman2 ber-seragam gagah dan cantik, sembari makan2, yg ngrasa bangga karena ndak termasuk golongan 'tukang ngosek WC', apa termasuk juga ya . . . ?

Jadi nurut saya, nurut saya, ciri2 kaum 'khilafis' itu, selain suka maksa ya juga suka menghina. Dulu mungkin terlahir papa, malu lihat sejarah dan silsilah keluarga. Bikin CV palsu atau bertingkah kayak Malin Kundang.

Atau memang anak para Demang, Priyayi, dan Saudagar. Yang ndak pernah hidup susah dan juga ndak pernah diajari etika.

Sombong. Karena begitu lahir, Crot ! Sudah pakai sepatu. Jadi ndak pernah nginjak tanah. Selalu di awang-awang. Kelas para dewa. Makanya punya hobby suka maksa dan suka ndak tau etika . . .

Masih suka khilafah ?!

Saturday, July 20, 2019 - 19:45
Kategori Rubrik: