Sumpah Pemuda dan Sumbangan Tionghoa

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Sampai hari ini masih banyak saja yang meragukan patriotisme dan peran Tionghoa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Padahal sumbangan mereka sangat besar. Lebih besar dari orang Arab yang lebih mudah menyatu karena satu agama dengan kaum pribumi.

Karena itu kehadiran dan peran orang Tionghoa dalam Sumpah Pemuda 1928 perlu didudukkan pada porsinya agar anak cucu kita memahami sejarah secara benar.

Sejarah mencatat para pemuda dari berbagai suku bangsa berkumpul di sebuah rumah berarsitektur era kolonial yang berdiri tegak di Jalan Kramat 106, Batavia.

Rumah itu adalah rumah milik Sie Kong Lian. Di bangunan miliknya itu - 92 tahun lalu - lebih dari 700 pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk menghadiri Kongres Pemuda kedua - pada 28 Oktober 1928

Para pemuda dari berbagai daerah dan suku itu kemudian mengikrarkan satu tumpah darah, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia.

Empat orang Tionghoa hadir sebagai pengamat, yaitu Kwee Thiam Hong (anggota Jong Sumatranen Bond), Oey Kay Siang, Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Empat sosok itu juga dikenal sebagai anggota Kepanduan.

Kongres Pemuda II itu - yang kemudian kita ketahui menjadi tonggak sejarah dan menjadi Hari Sumpah Pemisa menjadi titik tolak perjuangan kemerdekaan negeri kita 17 Agustus 1945 dan terwujudnya NKRI seperti sekarang ini.

Sebelumnya, Kongres Pemuda I dilaksanakan 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani menghasilkan kesepakatan bersama mengenai kegiatan pemuda pada segi sosial, ekonomi, dan budaya.

SEJAK dibeli kali pertama oleh Sie Kong Lian pada 1908, sejumlah pelajar STOVIA dan aktivis pergerakan Indonesia mangkal dan beraktifitas di sana.

Rumah Sie Kong Lian, dengan bangunan 505 m2 di atas area 1.041 m2 menjadi saksi perjuangan kemerdekaan dan pergerakan Indonesia didiskusikan di sana sehingga membuat rumah itu dijuluki sebagai "Indonesische Clubgebouw" atau "Indonesische Clubhuis" (IC).

Nama-nama beken seperti Mohammad Yamin, A.K. Gani, Abu Hanifah, Amir Sjarifuddin, hingga Assaat juga pernah indekos di sana.

Berkumpulnya para aktifis itu sebenarnya membahayakan pemilik rumah. Intel Belanda sering mondar mandir ke sana. Jika mau, Sie Kong Lian bisa menyatakan keberatan atau mengusir para siswa dan aktivis tersebut.

Akan tetapi, sebaliknya Sie Kong Lian memang bermimpi agar atmosfer di rumahnya bisa menginspirasi anak-anaknya untuk menjadi dokter sekaligus aktivis. Hal yang berhasil diwujudkan anak-anaknya kelak.

Seusai penyelenggaraan Sumpah Pemuda dan siswa lulus, tidak lagi jadi tempat indekos, bangunan itu menjadi rumah tinggal (1934-1937), menjadi toko bunga (1937-1948), Hotel Hersia (1948-1951), dan kantor Bea Cukai (1951-1970).

Sie Kong Lian sendiri tinggal di rumahnya yang terletak di Jalan Senen Raya, sekitar 800 meter dari rumah kos di Jalan Kramat Raya 106 - yang kini dijadikan tempat praktek cucu dan cicitnya yang berprofesi sebagai dokter.

"Kakek saya hidup dan meninggal di rumah ini. Dia meninggal tahun 1954. Kakek saya dulu usaha jual beli kasur kapuk, tokonya ada di lokasi yang sekarang jadi Segitiga Senen, " kata Yanti Silman, cucu Sie Kong Lian.

Kepada anaknya yang bernama Sie Hok Liang (Yuliar Silman), Sie Kong Lian berpesan agar rumah tersebut tidak dijual lantaran ada nilai historis yang tak bisa dibayar dengan uang.

Sang anak berhasil menjaga amanah tersebut dan bahkan meminta kepada para penerusnya untuk menghibahkan rumah itu ke negara bila saatnya tiba.

Pada tahun 1973, pada masa gubernur Ali Sadikin, Prof. Mr Soenario Sastrowardoyo, salahsatu pelaku ikrar Sumpah Pemuda 1928 meminta agar pemerintah menjadikan bangunan di Jl. Kramat 106 itu sebagai museum.

Usul dari pakar hukum, kakek buyut aktris film Dian Sastrowardoyo itu dikabulkan oleh Bang Ali.

ADA KISAH lain dari balik rumah Sie Kong Lian yang sejak lama telah menjadi ’’markas’’ para tokoh pergerakan itu. Di sana juga lokasi pertama memublikasikan lagu "Indonesia Raya".

Kongres Pemuda II ditutup dengan lantunan syahdu lagu "Indonesia Raya" yang dimainkan hanya dengan biola oleh Wage Rudolf Supratman, tanpa syair.

Beberapa minggu berselang, tepatnya pada 10 November 1928, Sin Po Wekelijksche Editie ("Sin Po" edisi mingguan) menerbitkan lirik lagu tersebut lengkap dengan partiturnya.

Keputusan itu jelas mengejutkan banyak pihak, terutama dari kalangan Bumiputra, yang menganggap lagu tersebut seharusnya diterbitkan lebih dulu di koran Indonesia.

Namun, sang penggubah lagu, W.R. Supratman, mengaku sudah menawarkan lagu tersebut ke beberapa surat kabar Indonesia, namun harus berakhir dengan penolakan.

Ketakutan terhadap ancaman delik pers menjadi alasan kuat di balik penolakan tersebut.

Koran "Sin Po", media tempatnya menjadi koresponden aktif yang berani mempublikasikan.

Setelah memainkan lagu itu di hadapan Ang Yan Goan, direktur "Sin Po", disepakati agar lagu tersebut dimuat di "Sin Po" edisi mingguan.

WR Supratman berniat merekam dan memperbanyak lagu tersebut dalam bentuk piringan hitam. Namun ditolak Odeon dan Tio Tek Hong - lantaran takut berurusan dengan polisi Belanda - sampai kemudian Yo Kim Tjan, pemilik Roxi Cinema House dan Lido, bersedia memproduksi dan mendistribusikan rekaman lagu tersebut melalui Toko Populair.

SUMBANGSIH lain yang mensejarah diberikan oleh Djiaw Kie Siong, pemilik rumah di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Di rumahnya lah, Bung Karno dan Bung Hatta diinapkan oleh para pemuda pergerakan.

Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni yang menculik Bung Karno dan Bung Hatta dan mendesak agar kemerdekaan Indonesia diproklamasikan segera.

Di rumah ini pula naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dipersiapkan dan ditulis.

Djiaw adalah seorang petani kecil keturunan Tionghoa. Ia merelakan rumahnya ditempati oleh para tokoh pergerakan yang kelak menjadi "Bapak Bangsa".

Keluarga yang menempati rumah bersejarah itu setiap hari menunggui memberi pelayanan terbaik kepada para tamu yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa. Kabarnya hingga kini rumahnya masih dihuni oleh keturunannya. ***

# Sie Kong Lian
# Djiaw Kie

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito -

Thursday, October 29, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: