Sumber Kegaduhan di Indonesia

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Kita tentu masih ingat dengan jelas bagaimana situasi kegaduhan negeri pra dan pasca Pilkada DKI 2017 lalu. Sebelumnya, sebuah kelompok yang mengatasnamakan bela Islam melakukan demo besar-besaran di kawasan Monas, Jakarta. Mereka menuntut agar eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang kala itu kembali mencalonkan diri menjadi Gubernur dipenjarakan sebab diklaim telah mengina Al-Qur'an dan menghina Islam pada pidatonya 2016 lalu. Ribuan umpatan kasar tidak bermoral mereka lontarkan seperti, "Bunuh Ahok", "Ahok Bangsat", "Ahok Babi", "Gantung Ahok", "Ganyang Cina" dan lain sebagainya. Media sosial turut kacau dengan pecahnya masyarakat menjadi dua kubu, yakni kubu pro Ahok dan kubu kontra Ahok.

Situasi kekacauan itu berlangsung selama kurang lebih 3 tahun hingga Pilpres 2019. Media sosial penuh dengan ujaran kebencian, fitnah dan informasi palsu/Hoax.

2017 kita ingat ada sebuah grup pembuat hoax terbesar di Indonesia bernama Saracen, yang ternyata diproduksi dari kalangan Muslim Cyber Army yang sebagaimana kita tahu kelompok ini berafiliasi ke alumni 212. Semenjak ditangkapnya Saracen, hoax di media sosial menyusul berkurang.

Para alumni 212 yang tergabung pada Laskar Pembela Islam (LPI) menurut fakta yang terjadi, sangat kontra dengan kebhinnekaan. Pasca pidato Ahok viral, tecatat ada banyak kasus diskriminasi dan intoleransi kepada warga keturunan Tionghoa dan warga berbeda agama. Mereka juga kerap mengolok-olok warga keturunan Tionghoa di media sosial dengan mengecap keturunan Tionghoa sebagai agen-agen komunis. Sehingga saat itu banyak masyarakat awam terpengaruh, akhirnya munculah rasisme dan xenophobia terhadap Tionghoa.

Meskipun Ahok saat ini sudah bebas, namun ujaran kebencian kepada etnis Tionghoa terus berlanjut entah sampai kapan. Dan para alumni "Monaslimin" tersebut hingga saat ini kerap menyuarakan ujaran kebencian melalui media sosial.

Meski demo Ahok sudah usai, namun mereka masih akan terus menggelar demo hingga 5 tahun ini. Mereka terus berusaha menuntut Jokowi supaya dilengserkan, lalu mereka akan merebut kekuasaan. Eks HTI yang licik ada dibalik semua kekacauan yang terjadi. Apa yang mereka inginkan? Tentu saja KHILAFAH! Lantas apa selanjutnya jika Khilafah berasil mereka tegakkan? Tentu saja KEHANCURAN!

Jaminan Khilafah yang mereka janjikan adalah bullshit! Bukan lagi motif baru. Kita tidak kaget dengan itu. Mari kita lihat bagaimana kacaunya Suriah. Berkacalah dari mereka.

Mari pertahankan negara ini. Jangan sampai diambil alih kaum zalim seperti mereka. Silakan kritisi rezim Jokowi atas kebijakannya yang seringkali tak berpihak pada kaum minoritas serta tidak rasional. Kritisi mereka atas kebijakannya yang buruk. Melengserkan mereka sebelum masa kekuasaannya habis sama dengan memberi celah kaum bughot menguasai NKRI.

Kita semua kecewa dengan Jokowi yang tak kunjung tegas menyikapi para kaum intoleran di Indonesia yang aksinya kerap menyusahkan dan menggelisahkan masyarakat, utamanya masyarakat pemeluk agama yang minoritas. Tetapi bagaimanapun, beliau adalah Presiden Indonesia yang sah secara hukum. Kita wajib mempertahankannya.

Pamflet ini saya dapat dari telegram kanal sebelah. Si alumni monaslimin ini akan terus demo hingga Indonesia ada di tangan mereka. Kemudian soal narasi "Jokowi sumber petaka da9n sumber kegaduhan nasional selama ini," sebenarnya mereka sedang menuliskannya untuk dirinya/kelompoknya sendiri. Jadi narasi tersebut bukan untuk Jokowi, tapi untuk kalangan mereka sendiri. Sayangnya memang mereka miskin kepekaan. Saking miskinnya, membuat mereka selalu terlihat pekok. Hahahha...

Selamat weekend... semoga sehat dan selalu berbahagia
Saluti di pace, salam damai

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Sunday, February 16, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: