Sumbangsih Bangsa Arab

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Bila warga Tionghoa menyumbangkan rumahnya untuk ikrar Sumpah Pemuda 1928, maka warga Arab juga menyumbangkan rumahnya untuk Proklamasi Kemerdekaan RI yakni rumah di Jl. Pegangsaan Timur 56 - Jakarta Pusat.

Rumah itu milik keluarga saudagar keturunan Arab bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak atau dikenal sebagai Faradj Martak.

Sahabat Bung Karno kelahiran Hadhramaut (Yaman) pada 1897 ini, datang ke Hindia Belanda untuk bisnis ekpor impor dengan memasang nama N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Martak Badjened.

Tak hanya untuk memproklamirkan kemerdekaan RI, rumah itu juga kemudian dijadikan tempat tinggal Soekarno. Bahkan Faradj Martak kemudian menghibahkan rumah tersebut untuk negara, dan membelikan sejumlah gedung di Jakarta untuk pemerintah.

Atas jasanya itu, pemerintah Indonesia kemudian memberinya ucapan terima kasih secara tertulis atas nama Pemerintah Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1950.

ADA KISAH di balik pembacaan teks proklamasi yang semula dijadwalkan pagi hari tertunda sampai jam 10.00.

Teks Proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maida di Jl. Imam Bonjol, Menteng, Jakarta. Dan beberapa kali mengalami koreksi. Antara lain mengubah kalimat "Wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".

Kebetulan saya mewawancarai Sayuti Melik (alm), wartawan dan juru ketik yang terlibat dalam proses penulisan itu - berpuluh tahun kemudian di rumahnya di Taman Aries, Jakarta Barat.

Saat itu bulan puasa. Dikisahkan, setelah makan sahur dan sesudah adzan Shubuh Bung Karno tidak meluncur ke Jl. Pegangsaan Timur, melainkan menyempatkan diri ke Kwitang dengan menyamar untuk menemui Habib Ali al-Habsyi guna memohon doa restu besok akan diadakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Habib Ali adalah guru spiritual Bung Karno yang menampung tokoh proklamator itu selama empat bulan sekeluarnya dari LP Sukamiskin.

Adalah Moh Husni Thamrin yang namanya dijadikan jalan utama di ibukota - yang memperkenalkan dan mengajaknya menemui tokoh kharismatis di kawasan Kwitang - Senen itu.

Itulah permulaan dekatnya Bung Karno dengan para habaib khususnya Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi di Kwitang Jakarta.

Pada akhirnya upacara proklamasi diselenggarakan dan teksnya dibacakan yang kita dengar rekamannya di setiap bulan Agustus. Sekaligus pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Hari itu, Jum’at 17 Agustus 1945 M. bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H jam 10.00.

Selang dua jam setelah dibacakan Proklamasi, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mengumumkan kepada Jamaah Sholat Jum’at di Masjid Kwitang Bahwa negara ini telah diproklamirkan kemerdekaannya, Habib Ali memerintahkan agar seluruh Umat Islam memasang bendera merah putih di rumah dan kampungnya masing masing.

Habib Ali menegaskan agar apa yang di umumkannya disebarluaskan.

Kabar tentang pengumuman oleh Habib Ali Kwitang cepat menyebar dikalangan Masyarakat Jakarta khususnya para Ulama dan Habaib, Guru Mansur dari Jembatan Lima yang mendengar maklumat dari sang guru langsung membuat bendera merah putih dan dipasang di atas menara Masjidnya.

Habib Ali bin Husein Al-Attas tidak ketinggalan ikut memasang bendera merah putih di depan kediamannya, begitu pula Habib Salim bin Jindan memasang bendera di depan rumahnya, sehingga masyarakat pun ikut serta.

Karena banyaknya masyarakat Jakarta yang tiba-tiba memasang Bendera Merah putih di rumahnya, Pihak penjajah Jepang gusar dan masih belum rela menerima kemerdekaan Indonesia.

Para tentara Jepang pun diturunkan untuk merampas bendera merah putih dari rumah-rumah penduduk khususnya di kediaman para tokoh, tidak ketinggalan penggeledahan dilakukan di rumah Habib Ali Kwitang.

Habib Ali menolak tegas menurunkannya hingga Habib Ali pun ditahan.

Tentara Jepang bahkan sempat memberondongkan peluru ke menara Masjid, tapi Guru Mansur tetap pada pendiriannya sehingga Guru Mansur pun ikut ditahan oleh Jepang.

Karena banyaknya orang yang ditahan, mengakibatkan tidak cukupnya ruang tahanan, lalu dengan terpaksa pihak Jepang membebaskan masyarakat yang ditahan termasuk para Alim Ulama dan Habaib.

Maka tradisi pengibaran bendera merah putih di hari kemerdekaan Indonesia yang sampai sekarang terus dilakukan seluruh rakyat Indonesia, itu yang pertama kali menyerukan/ memerintahkan seorang ulama, seorang habaib dialah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi kwitang, Jakarta. Guru spiritual Ir. Soekarno.

Teruntuk para habaib, ulama, kyai dan pejuang kemerdekaan, al fatihah…

DARI CATATAN Alwi Shihab, jurnalis senior koran "Republika" dan sejarawan Jakarta, diungkapkan cerita menarik juga.

Bahwa sebelum organisasi kaum pergerakan Boedi Oetomo terbentuk di tahun 1908, pada 1901 sudah berdiri organisasi Islam modern pertama di Indonesia, Jamiat Kheir. Pendirinya antara lain Sayed Ali bin Ahmad Shahab, kelahiran Pekojan, tempat sekolah itu pertama kali didirikan.

Kelahiran Jamiat Kheir mendapat simpati dari tokoh-tokoh nasional seperti HOS Tjokroaminoto (Syarikat Islam) dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).

Menurut wartawan peliput Istana di zaman Bung Karno ini, beberapa orang Arab lah yang mengumpulkan dana sebagai modal pada Tirtoadisuryo untuk mendirikan majalah dagang "Medan Prijaji" di Bandung yang akhirnya mendirikan Sarikat Dagang Islam (SDI) di Jakarta dan Bogor (1911), sebelum yang bersangkutan diundang Samanhudi agar bergabung dengan SDI di Solo (1912).

Tampilnya Partai Arab Indonesia (PAI) pimpinan AR Baswedan - kakek Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan - dalam arena pergerakan perjuangan kemerdekaan cukup mengejutkan - karena PAI mencita-citakan Indonesia sebagai tanah air keturunan Arab.

Sebelumnya di Pekalongan, Jawa Tengah, AR Baswedan menorehkan sejarah karena berhasil menyatukan dua kelompok besar kaum Arab di Hindia Belanda yakni kelompok Arabithah dengan Al-Irsyad - Sayid dan Non Sayid - yang sebelumnya berseberangan. Bahkan saling cakar-cakaran.

Selain membentuk Partai Arab Indonesia (PAI) - mengikuti jejak Partai Tionghoa Indonesia (PTI, 1932) dan Partai Komunis Indonesia (PKI, 1920) turunan Arab di Hinda Belanda itu juga menyatakan ikrar menyatakan Indonesia sebagai tanah airnya.

Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab ini diikrarkan secara luas pada tahun 1934. Artinya 11 tahun sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Saturday, October 31, 2020 - 13:30
Kategori Rubrik: