Sumatra Barat yang Tak Mandiri

Oleh: Erizeli Bandaro
 
Tahukah anda bahwa dari segi perlakuan pusat kepada sumbar sangat istimewa. APBD tahun 2020 setelah dilakukan perubahan misalnya, dari total APBD Rp 6,692 triliun, pendapatan asli daerah hanya sekitar Rp 2,134 triliun ditambah pendapatan lain sebesar Rp 118 miliar. Selebihnya, sekitar Rp 4,132 triliun berasal dari dana perimbangan atau dana transfer dari pusat. Artinya 70% donasi dari Pusat. Itu pendapatan dari daerah lain yang diberikan kepada Sumbar.
Yang miris adalah dari besaran APBD tersebut, sekitar Rp 4,428 triliun (66%) tersedot untuk belanja tidak langsung atau dikenal dengan belanja pegawai. Artinya lagi kalaulah tidak diguyur pitih dair pusat. Praktis pemerintahan Sumbar tidak jalan. Engga ada pitih untuk bayar roda pemeritahan. Sumbar termasuk yang jadi perhatian khusus pak Jokowi. Saya tahu pak Jokowi pusing mengangkat ekonomi Sumbar karena pusat ekonomi baru tidak ada yang berkembang.
 
Itu sebabnya pemerintah pusat berusaha menggandeng pengusaha lewat skema B2B membangun jalan tol. Tujuannya dengan terbangunnya jalan toll, pusat ekonomi baru akan terbentuk. Seperti Pariwisata dan lainnya. Sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi wilayah. Atau setidaknya Sumbar bisa kecipratan pertumbuhan ekonomi dari wilayah tetangganya seperti Riau dan Sumut. Tapi tidak ada dukungan significant dari penduduk sumbar sehingga jalan tol pembangunannya melambat. Budaya beterimakasih dan tahu diri semakin mengabur.
Sebetulnya orang minang itu punya budaya pedagang. Sangat mandiri. Itu sejajar dengan budaya orang Makasar, Surabaya dan lainnya. Bahkan zaman dulu spirit bisnis perantauan China hanya bisa disaingin oleh pedagang sumbar yang tersebar di seluruh nusantara. Tetapi mengapa justru kini tingkat kemandirian Sumbar sangat rendah? Penyebabnya adalah karena manifestasi sprit Islam yang lemah. Spirit “bekerja adalah ibadah” masih belum terejawantahkan ke dalam pribadi-pribadi muslim di Sumbar. Semetara adat semakin dipunggungi.
Mereka percaya bahwa Allah SWT telah menyatakan, seorang muslim telah dijamin rizkinya. Tetapi karena tafsir firman Allah yang absud dari ulama melupakan esensi bahwa rezeki terkait dengan gerak, bukan hanya doa. Akibatnya membuat penduduk Sumbar kehilangan nilai lama yang berbudaya pedagang. Dalam budaya minang ada istilah “ barugi mangkonyo balabo ( kalau mau untung siaplah rugi). Ada juga “ Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” Tapi kemajuan China malah dibencinya. Tak mau belajar dari kemajuan China.
Orang minang itu mindset nya sangat open mind. Darimanapun dia tidak sungkan belajar. Berteman dengan siapapun. Makanya mereka bisa survive merantau dimana saja. Dimana bumi dipijak disinan langik dijunjuang.
Kini ada wacana dari warga Sumbar minta menjadi Daerah khusus karena alasan keagamaannya. Faktanya nilai agama yang dibanggakan itu, hanya menjadikan sumbar menumpang makan dari penghasilan daerah lain…Babaliak lah ka pangka. Mari kembali ke nilai lama. Adat yang agung itu. Cukup sudah kekonyolan selama ini.
 
(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)
Sunday, March 7, 2021 - 12:45
Kategori Rubrik: