Sumatera Barat Dikuasai Monster Sapi

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Syahdan, tersebutlah suatu waktu yang dinamakan Jaman Kegelapan di Sumatera Barat. Hari itu orang-orang pandai dimanfaatkan. Orang-orang kaya dilenakan. Orang-orang ternama tinggal nama. Sumatera Barat terkubur peradaban. Tenggelam dalam satu jaman yang menyeramkan. Jaman Kegelapan.

Orang-orang tidak tahu apa yang menimpa mereka. Hanya saja, mereka tidak melakukan pencapaian apa-apa. Dikungkung kejumudan. Mereka tak berani kritis. Suara telah dikekang rasa takut. Mereka lebih percaya sas-sus daripada kata-kata begawan bijak Buya Pi-i. Mereka menyukai kegelapan.

 

 

Sampai suatu ketika ada pendekar perempuan dari seberang datang ke tempat lahirnya para pendekar besar yang terlupakan itu.

Perempuan itu berdiri di kegelapan malam. Tangannya menggenggam lilin yang menyala. Wajahnya tampak kaku, mungkin sedih. Angin bergerak lamban, meriakkan air kolam di dekatnya. Ia berdiri dengan teguh.

Mendadak orang-orang heboh. Mereka takut cahaya. Mereka bahkan membencinya. Sekerumunan orang dengan cepat mengepung perempuan itu.

"Dasar penyusup!" Maki lelaki berbadan gemuk dengan wajah marah.

"Jangan mengganggu ketenteraman di tanah Minang ini!" Timpal yang lain dengan mata melotot.

Perempuan itu terkesiap, ia tak percaya dengan apa yang dihadapinya. Bukankah ini negeri cerdik pandai yang terkenal itu? Mengapa mereka bersikap begitu kasar? Batinnya mulai berkecamuk. Dengan napas tertahan akhirnya ia berkata, "Apa salahnya menyalakan lilin, kegelapan ini terlalu tebal. Biarkan aku tunjukkan jalan lain, mencintai cahaya. Ya, cahaya purnama!"

"Kami tidak butuh Penista!" Perempuan jangkung memotong ketus. "Kami memilih kegelapan ini. Cahaya menyilaukan, menyakiti mata kami".

"Apa yang kalian dapatkan dari semua ini?" Perempuan dari seberang itu menukas dengan tegas. "Tahukan kalian, ada monster sapi di balik semua ini? Mereka mengekang kebebasan kalian, menjerumuskan kalian dalam kegelapan abadi ini."

"Kami tak perduli wahai perempuan jalang!" Lelaki tambun tadi kembali menyahut. "Kebebasan itu racun. Toh agama lebih melenakan. Ayat-ayat manis yang membuat kami terbuai. Selama mereka bermuka manis dan pandai memelintir kitab. Kami tak perlu berpikir, semua sudah cukup. Kami akan melewati kegelapan ini dalam tidur panjang."

Perempuan dari seberang itu terkejut. Sedalam itukah kuasa kegelapan mengelabui? Dimanakah sisa-sisa pencerahan pendekar Tan yang melegenda itu? Ia mulai memperbaiki napasnya yang bekejaran, kemudian kembali berkata, "Aku tahu kalian takut dengan kuasa kegelapan. Kalian hanya butuh sedikit keberanian untuk mulai melawan. Orang-orang baik dan berkehendak bebas banyak yang bersembunyi di tengah kalian."

Mendengar itu suara kasak-kusuk makin ramai. Mereka berebut ingin memberikan jawaban. Saling injak dan dorong terjadi. Tiba-tiba dari barisan paling belakang sesosok manusia berwajah paling tampan mulai melempar batu. Lelaki itu adalah pemimpin mereka. Monster sapi yang selama ini bersembunyi dalam kesantunan. Yang mengajari mereka membenci cahaya.

Dengan serentak tindakan itu disusul ribuan batu. Hujan batu. Diiringi makian, kafir! Laknat! Terkutuk! Sundal! Dajal!

Tubuh perempuan itu sirna berganti cahaya terang-benderang. Suaranya menggema ke seluruh penjuru mata angin. Ia terus bersuara dan bersuara...

Sekumpulan orang-orang itu makin menggila. Sesaat ketika cahaya itu menyoroti tubuh mereka, tiba-tiba muncul rasa malu. Mereka berlari kian-kemari dengan telanjang. Pantas saja mereka membenci cahaya. Selama ini dalam kegelapan, mereka telanjang dan tidak menyadarinya.

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Thursday, May 18, 2017 - 08:15
Kategori Rubrik: