Sulitnya Mahasiswa Mencari Kesalahan Jokowi Akhirnya Frustrasi

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan bernama Asalkan Bukan Jokowi, kalian kibarkan Tagar 2019 Ganti Presiden. Standard ganda telah kalian mainkan, di satu sisi kalian labrak habis-habisan Demokrasi,  lantas kalian support sistemKhilafah. Tapi ketika Negara demi konsensus setengah abad ber-Pancasila membubarkan Hizbut Tahrir yang bercita-cita ingin menegakkan sistem Khilafah, lantas di sisi yang lain kalian tebarkan aksi penolakan di mana-mana dengan bersembunyi di balik ketiak Demokrasi bernama kebebasan berpendapat dan berekspresi. Kalian tebarkan hasutan kebencian dan fitnah kepada Negara di bawah pemerintahan Jokowi yang kalian anggap anti Islam. Padahal realitasnya sampai hari ini semua negara Islam tanpa terkecuali telah menolak Hizbut Tahrir dengan konsep Khilafahnya.

Oleh : Stefanus Toni Aka Tante Paku

Taggar Ganti Presiden itu sebenarnya demi menuruti  ambisi kekuasaan bernama Asalkan Bukan Jokowi, maka segala cara yang menghalalkan segala kegaduhan dengan tetabuhan genderang perang seolah negara sedang dalam keadaan krisis kepemimpinan ini sudah dilakukan para penerus bangsa yang disebut MAHASISWA.

Mahasiswa seperti kehilangan sifat kritis intelektual dengan nilai-nilai kebangsaannya. Melakukan demo demi menuruti para politikus dan pengusaha hitam yang membiayai pergerakan rusuh di belakangnya. Walau sering dalam demo banyak yang berlarian terbirit-birit, bahkan diam-diam sambil terkencing-kencing di celana lantas bakar membakar seolah itu sudah kebenaran atas tindakannya yang dungu itu.

Mahasiswa yang kesulitan mencari kesalahan Presiden Jokowi dibandingkan dengan mencari kesalahan Presiden SBY yang 10 tahun memerintah negeri ini sangat mudah, tapi tidak pernah dilakukannya, karena kebodohannya dalam mengkritisi yang sudah terjadi. Namun demi sebuah "bayaran" dari oknum mahasiswa yang bermain di belakang kedunguan teman-temannya itulah yang berhitung untungnya.

Berbagai methode kebringasan dihalalkan agar dari aneka peristiwa biasa dapat di plintar-plintir sesuka-suka hati agar peristiwa yang hanya biasa itu dapat membuahkan cita rasa keluarbiasaannya menjadi kegaduhan nasional sebagai target harapan para lawan untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.

Melihat SEBAGIAN MAHASISWA dungu itu teman-temannya yang masih waras hanya bisa tepuk jidat tak habis pikir jika orang-orang waras tahu duduk pokok perkaranya yang digoerang olah-olah menjadi hidangan yang lezat sebelum menjadi pokok sebuah perkara.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan bernama Asalkan Bukan Jokowi, sebagian mahasiswa tak pernah bosan-bosannya bermain memantik-mantik api kegaduhan demi kegaduhan. Terus terang telinga orang-orang waras akan menjadi pekak kopokan sebab betapa tidak pekak kopokan jika di sana-sini masih senantiasa terdengar para anak bangsa mempertaruhkan asma Allah hanya demi ujaran kebencian sesama anak bangsanya sendiri.

Dengan berkedok di balik ketiak Demokrasi bernama kebebasan berpendapat dan berekspresi. Para Mahasiswa dungu itu tebarkan hasutan kebencian dan fitnah kepada Negara di bawah pemerintahan Jokowi yang kalian anggap anti Islam, gagal, tidak menepati janji. Padahal realitasnya sampai hari ini semua tuduhan itu bisa dibantah dengan argumentasi dan fakta yang jauh dari tuduhan mereka yang ASAL JEPLAK ITU.

Demi memenuhi ambisi politikus yang rakus menggarong duit rakyat itu sebagian mahasiswa telah menjadi manusia-manusia tidak sabaran dalam jagad sejarah ulah anak manusia di dunia pendidikan kita.  

Oleh akibat para mahasiswa tidak  sabaran, sampai-sampai issue fitnah murahan kalian tebarkan menjadi ranjau hoax di sana-sini dengan harapan agar rakyat mudah menginjak jebakan ranjau hoax kalian dengan membenci Presidennya sendiri hingga berharap rakyat bisa tersulut amuknya agar terjadi goro-goro atau ontran-ontran atau geger berskala Nasional seperti Peristiwa Huru-Hara 1998. 

Tapi lagi-lagi realitasnya jebakan ranjau kalian ternyata mudah ditebak oleh rakyat terbukti Jokowi masih tebar pesona telah dicintai oleh rakyatnya, terbukti jajak pendapat yang terus digalakkan oleh lembaga-lembaga survey yang netral berulangkali telah menunjukkan kepada kita yang melek betapa prosentase suara untuk Jokowi tetap saja berada di urutan grafik paling atas.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan bernama Asalkan Bukan Jokowi, kalian seharusnya sudah berputus asa dan kemudian bisa menyadari betapa teror issue fitnah murahan yang kalian tebarkan seperti issue Jokowi yang tunduk pada Asing dan Aseng, issue Jokowi yang keturunan PKI, issue Jokowi yang anti Islam, issue semangat Tagar 2019 Ganti Presiden dan bla-bla-bla-bla ternyata tidak bisa menjadi opsi mujarab kalian untuk melengserkan Jokowi.

Kenyataannya opsi kalian malah menjadi bumerang senjata makan tuan yang mencoba berkeinginan bertindak makar sebab suka tidak suka kita harus sportif betapa Jokowi terpilih secara konstitusional melalui Pemilihan Umum dengan melibatkan langsung suara mayoritas rakyat yang memilihnya. Apalagi suara rakyat adalah Suara Tuhan.

Hanya demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan bernama Asalkan Bukan Jokowi, kalian tiada pernah jemu-jemunya memainkan teror issue fitnah murahan kembali. Kali ini kalian sulut sumbu idealisme mahasiswa di kampus-kampus untuk turun ke jalan untuk teriakkan yel-yel Turunkan Jokowi. 

Issue melemahnya Rupiah atas Dollar telah kalian masak-masak dengan aneka bumbu penyedap rasa menjadi adonan yang mujarab dengan harapan agar aksi mahasiswa dapat meletup seperti Peristiwa Huru-Hara 1998 yang pada akhirnya mampu melengserkan Jokowi di tengah jalan. 

Mungkin di pikiran kalian opsi issue menguatnya Dollar terhadap Rupiah dapat kalian jadikan proses awal yang menguntungkan ambisi kekuasaan kalian dengan mengacu ke studi kasus Krismon 1998. Dalil gotak gatik gatuk kalian pasti berujar demikian, bayangkan betapa sejarah telah mencatat sehebat-hebatnya orang nomor satu di Orde Baru yang berkuasa secara tirani selama 32 tahun pada akhirnya bisa rontok juga seperti bunga Flamboyan dari singgasana akibat krisis moneter. 

Kalau Suharto bisa rontok seperti bunga Flamboyan, mengapa sekelas Jokowi tidak bisa? 

Begitu pertanyaan sok keminter yang mahasiswa viralkan dengan harapan agar akhir kekuasaan Suharto bisa berujung senasib sepenanggungan dengan Jokowi.

Dollar yang merangkak besit 600% dari Rupiah di era Krismon 1998, mengapa bisa-bisanya kalian samakan dengan kondisi  Dollar  sekarang yang hanya merangkak 16%? 

Bagaimana kalian bisa menyamakan Suharto yang berkuasa 32 tahun yang melulu dipilih melalui ketetapan MPR tanpa melibatkan pilihan suara rakyat secara langsung telah kalian samakan dengan Jokowi yang belum berkuasa selama 5 tahun dipilih oleh suara mayoritas rakyat secara langsung? 

Suharto selama karir aji mumpung kekuasaannya membangun ratusan jaringan perusahaan kerajaan bisnis monopoli anak-anaknya, sedangkan Jokowi tidak melibatkan anak-anaknya kecuali anak-anaknya berswasembada merogoh kocek sendiri untuk jualan martabak dan kue pisang goreng.

Aah...sudahlah capek membahas ambisi politik. Ini sama saja demi menuruti kemauan ambisi kekuasaan lantas bagaimana cara kalian tempuh untuk terus mengorek-orek hingga sampai mengais-ngais mencari kesalahan Jokowi hingga sampai ketemu?

Bertarunglah secara fair melalui media konstitusi Pemilu. Latihlah sikap sportivitas diri. Ibarat lomba pertandingan sepak bola betapa menang dan kalah adalah kepatutan yang pantas diterima dalam setiap lomba pertandingan. 

Kalau memang Jokowi dirasa banyak kesalahan pasti suara rakyat mayoritas tidak akan memilihnya kembali, jadi tak perlu kalian mengorek-orek hingga sampai mengais-ngais mencari kesalahannya.  

Salam Dung Dung Pret!

Sumber : Joe Hoo Gi

Saturday, September 15, 2018 - 01:15
Kategori Rubrik: