Sujudnya adalah Sujud Amanah

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Sampai hari ini masih pro-kontra soal sujud Risma. Ada yang bilang drama, dan sebagainya.

Kalau pun benar itu drama, saya pribadi cukup mau menikmatinya dengan santai tanpa menghakiminya.

Kenapa ? Sebab drama itu tak ada artinya dibanding dengan apa yang sudah didarmabaktikannya bagi warga dan kotanya.

Saya akan lebih mengingat darmabaktinya itu, keringatnya, kemarahannya atas ketidakberesan, tangisnya saat melindungi warganya dari teroris biadab, dan hatinya yang melekat siang malam pada kotanya.
..............

Pantat perempuan ini nyaris tak pernah menduduki kursi Surabaya-1. Dia asing dengan kenyamanan tahta dan sejuknya istana pejabat.

Dia berkeringat di jalanan, memeluk warganya yang susah tanpa pandang bulu, dan tak jarang memeluk malam demi amanahnya.

Dia bekerja, bukan berkata-kata. Dia berkarya, bukan bersolek. Dia bersepatu boots, bukan ber-high heels.

Dia bisa selembut salju memeluk anak yatim, tapi juga bisa segarang harimau menghardik bawahannya yang tak beres.

Dia yang pertama menangis ketika rakyatnya dilanda duka. Dia yang pertama tertawa ketika rakyatnya disiram suka.

Jika kini dia bersujud, itu adalah teriakan jiwanya yang paling dalam melihat penderitaan warganya - juga kekelaman kotanya.

Sujudnya, setidaknya di mata saya : adalah sujud amanah...

By : HT

Sumber : Status facebook Herry Tjahjono

Friday, July 3, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: