Sudahlah Pak

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Dalam soal konfigurasi, apa yang dipetakan para polsters pada sekian hari menjelang pemilu tidak berbeda segaris pun dengan apa yang mereka sajikan melalui hasil hitung cepat. Konsisten.

Yang berbeda adalah angkanya. Jokowi diperkirakan meraup 56% - 59% ternyata hanya memperoleh 54% - 55%. Prabowo yang diperkirakan meraih hanya 36% - 39% ternyata meraih 45% - 46%.

Lalu, PDIP yang diperkirakan meraih 26% - 28% ternyata cuma meraih 20% - 21%, dan seterusnya. Angka-angkanya berbeda, tapi konfigurasinya tetap: Jokowi menang, PDIP di urutan pertama diikuti Gerindra, Golkar, PKB, dan lain-lain.

Undecided voters di kisaran 8% - 12% ternyata lebih banyak, kalau tidak mau dikatakan semua, berpihak pada Prabowo, juga PKS.

Kesimpulan: para polsters tersebut tidak berbohong. Mereka menyajikan data apa adanya. Kalau Prabowo menduga keras telah terjadi kecurangan, dia sedang linglung akibat kebanyakan berkuda.

Prabowo dan kelompoknya tidak memrotes hasil pileg. Padahal dari angka-angka yang tersaji sudah memberikan kepada kita gambaran jelas bahwa Jokowi memang menang.

Well, tidak semua pemilih PDIP memang memilih Jokowi. Tapi, gunakan saja angka yang terdapat pada sigi terdahulu tentang berapa persentase dari konsistensi pemilih PDIP terhadap capres yang diunggulkan partai tersebut. Lakukan juga penghitungan terhadap partai-partai lain.

Saya sudah melakukannya tadi malam. Hasilnya? Jokowi memperoleh hasil 55% - 56%. Pas. Panggah.

Angka exit poll juga ternyata berbeda dengan quick count. Hasto, sekjen PDIP, bertutur bahwa perolehan PDIP menurut exit poll adalah 25%, menurut internal quick count 22%. Gambaran serupa terjadi pada angka exit poll dan quick count untuk perolehan suara Jokowi.

Angka-angka tersebut tidak berdusta. Kalau pun berbeda satu sama lain dikarenakan pemilihan sampel. Akurasi quick count memang ditentukan oleh seberapa tepat pemilihan sampel. 1 TPS yang dipilih diyakini mewakili kecenderungan di satu kawasan. Sedikit saja meleset, akurasi quick count goyah.

Tapi kita melihat angka yang tidak berbeda jauh pada paparan LSI, SMRC, Indo Barometer, RRI, Kompas, dan serenceng polsters lain. Kalian mengira mereka sedang berbohong berjamaah? Mikir!

Kompas pernah membuat Jokowers meradang dan Prabowers bertepuk girang ketika melaporkan hasil sigi terakhir mereka bahwa elektabilitas Jokowi pada saat itu belum melampaui 50%. Sekarang, Kompas yang sama melaporkan bahwa menurut hitung cepat mereka Jokowi meraih 54.52%, unggul 9.04% atas Prabowo.

Saya gak paham, Pak, kenapa inkonsistensi Anda begitu berlimpah, berserakan di sini-sana? Kenapa Anda bertindak sangat berlebih dengan bersujud-syukur kemarin malam? Anda bilang, Anda lebih TNI daripada TNI dan karenanya mengutamakan kepentingan bangsa lebih daripada yang lain. Tapi Anda sekali lagi berkhianat.

Anda menduga para polsters memfabrikasi hasil hitung cepat? Gampang membuktikannya, Pak. Beberkan saja sampel yang dipungut tim statistika Anda dalam iklan sehalaman penuh di berbagai koran. Persilakan kami mereview. Lakukan secara terbuka. Data dari 5,000 TPS yang Anda sebut kemarin malam sangat kecil dan sederhana untuk kita kaji bersama.

Saya juga tidak mau menerima pemenang pembohong. Kalau Anda yang menang, saya bersiap mengakuinya.

Lakukanlah. Beberkanlah data dari 5,000 TPS tersebut. Dalam waktu 24 jam saya berani memastikan apakah klaim Anda beralasan atau cuma pekik schizophrenic.

Saya tunggu, Pak Prabowo.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Thursday, April 18, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: