Sudahkah Kulkas Halal Dibikin Buruh Yang Haknya Terpenuhi?

Oleh : Arman Dhani

Kulkas Halal itu baik. Pada tataran niat, ia hendak bicara bahwa sesuatu yang profan bisa jadi sakral dengan syarat tertentu. Sebuah kulkas dibuat dengan bahan-bahan yang dijamin halal oleh syariat, prosesnya juga sesuai syariat (mungkin memuliakan buruhnya?) atau yang paling penting, tidak dibuat melalui rekayasa teknologi yang menyalahi ajaran agama.

Tapi apakah teknologi yang haram itu? Ya enggak tahu saya. Tapi, begini, saya kira ada yang lebih penting daripada meyakini bahwa produk yang kita pakai itu halal. Yaitu, apakah proses untuk menggunakan produk itu juga halal. Misalnya, sebelum membeli kosmetik, jilbab, dan kulkas halal, apakah kita yakin bahwa uang yang kita pakai itu halal?

Ini penting. Sebuah sarung yang baru dicuci, wangi, dan bersih bisa jadi percuma jika saat salat kita memakainya dengan kemeja pakaian yang najis. Atau, sebuah benda yang awalnya tak punya noda apa pun, jadi percuma dan haram karena prosesnya. Misal mencuri atau didapat dari suap.

Untungnya MUI atau badan sertifikasi halal tak pernah menggunakan ini sebagai standar halal. Bayangkan jika asal usul uang dijadikan syarat sebuah benda jadi halal atau tidak, kira-kira berapa santunan anak yatim, sumbangan masjid, beasiswa, atau musala sumbangan koruptor yang akan jadi haram hukumnya?

Jika mau, MUI atau lembaga standarisasi halal lain perlu melakukan penyelidikan terhadap para koruptor yang terbukti bersalah. Berapa banyak uang hasil korupsi yang mereka terima digunakan untuk pembangunan masjid, menyantuni anak yatim, umrah, atau naik haji. Kalau perlu dibikin sidang fikih, apa hukumnya naik haji dengan uang hasil korupsi.

Dalam tradisi Islam, ada sebuah hikayat tentang pengembara yang menemukan buah di sungai. Ia memakan buah itu lantas merasa menyesal setelahnya. “Aku memakan buah yang bukan milikku dan karena itu ia menjadi haram,” pikir si pengembara. Lantas si pengembara menyusuri sungai untuk menemukan si pemilik buah.

Si pemilik buah mengaku bahwa ia tidak rida buahnya dimakan, agar si pengembara mengganti. Buah yang dimakan si pengembara tidak haram bukan karena sifatnya, tapi karena prosesnya. Kemudian kita tahu, si pengembara mengabdi pada pemilik buah yang lantas memperoleh rezeki berupa jodoh istri yang cantik, harta yang banyak, dan pahala karena keinginannya memperoleh sesuatu yang halal.

Akrobat agama yang terobsesi dengan kesalihan artifisial boleh jadi menggelikan, tapi bagi banyak orang, ia adalah sumber keyakinan dan tak ada yang salah dari hal ini. Syariat agama lebih penting dari undang-undang negara, pemimpin politik lebih baik yang seagama daripada yang tidak, ini adalah hal yang sah dalam demokrasi, selama tidak mengajak orang lain melakukan tindakan kriminal.

 
Hanya saja, jika kamu percaya bahwa segala yang sakral lebih penting dari yang profan, maka konsistensi adalah harga mati. Kalau terobsesi dengan kulkas halal, susu halal, makanan kucing halal, kaos kaki halal, atau apa pun dengan label halal, maka sebelum ke sana, perlu kita yakinkan pada diri sendiri. Sudahkah segala yang kita miliki sumbernya halal?

Sumber : geotimes

Wednesday, May 9, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: