Sudahi Permusuhan

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Ngumpulno Balung Pisah . . . 

Sumprit ! Seminggu ini saya nangis 2 kali. Hari Minggu tanggal 07 lalu, mbrêbês mili sedih karena Pak Topo, Sutopo Purwo Nugroho Humas BNPB, wafat . . .

Sabtu kemaren tanggal 13 Juli, mbrêbês mili lagi. Tapi kali ini karena haru dan sênêng. Prabowo 'bersedia' ketemu Jokowi. Se-umur2 saya ndak pernah nangisi Prabowo

Wong selama ini, paling tidak nurut saya, ndak ada langkah2nya yang bikin hati tersentuh. Yang ada malah bikin jèngkèl dan grêgêtên saja. Meski belum sampai joncak-jancuk . . .

Sabtu pagi kemaren, beliau 'bersedia' dan 'berani' ambil langkah yang sangat luar biasa.

Kalau Jokowi bilang dengan 'sarèh', sabar bikin adêm, 'Ayo rekonsiliasi'. Dan gunakan petuah leluhur 'menang tanpa ngasorake', sudah biasa dan tidak bikin takjub saya.

Tidak saja memang karena itu 'type' dan 'gaya' nya, tapi posisi 'diatas' memang relatif cukup mudah. Ditunjang para 'pendukung'nya, baik partai maupun relawan relatip ndak neka-neko, dan relatip nurut juga apa katanya.

Bagi Prabowo lain lagi. Makanya kata 'berani' dan 'bersedia' tak beri tanda kutip. Saking penting-nya . . .

Orang2 di belakangnya sangat tidak setuju ide 'rekonsiliasi'. Nyinyir. Karena sudah kadung omong dan bertingkah apa saja, pokoknya 'sikat' Jokowi. Punya naluri 'perang' yang ganas. Membakar apa saja yang tak bisa lagi dimilikinya.

Prabowo sendiri juga saya nilai arogan. Patok Harga diri terlalu tinggi. Kadang agak gampang ikut sana-sini karena tiupan angin. Baik sepoi2 bisik2 bak angin surga. Atau topan badai yang dorong2 dia.

Lha kemaren pagi, Prabowo 'bersedia' datang lebih dulu. Nunggu di stasiun. Tak peduli lama atau sebentar, langkah ini tunjukkan itikad baiknya. Menghormati Kepala Negaranya, Panglima Tertinggi Militer nya.

Sontak rakyat Indonesia dilanda 'histeria'. Lebih dari histetisnya anak milenial nonton bintang2 Pop Korea lagi manggung. Seakan menerima hadiah bahkan anugrah yang sangat luar biasa mengejutkan sekaligus menyejukkan.

Bersedia pula diajak makan Jokowi. Bukan perkara ringan itu. Dengan berat badan yang nurut saya agak berlebihan dan kondisi kesehatan yang tidak 'seperti dulu' lagi, tentu beliau terbiasa jaga 'asupan' makanannya. Diet . . .

Saya lihat ada mangkok cukup besar di meja.. Moga2 bukan soto jeroan. Karena kalau ada apa2, Jokowi lagi yang salah. Diracun . . .

Bersedia pula pakai baju warna putih, yang selama ini jadi 'brand' Jokowi. Kurang apa lagi coba . . .

Ndak tahu apa yang ada dalam pikiran dan hati Prabowo, namun 'langkah cantik dan bijak' itu bikin beberapa orang dan kelompok jadi 'meriang'.

Macem2 omongannya. Ndak tabbayun dulu ke ulama, Pengkhianat, harusnya omong tegas akan ber-oposisi, sekarang pisah kita tetap akan berjuang, . . .

Dan lain-lainnya . . .

Siapa2 itu ? Tentu saja orang dan kelompok yang 'itu2' saja dan yang 'itu2' juga. Semua sudah kita ketahui bersama.

Orang dan kelompok yang ndak suka hidup damai. Sukanya bikin 'kisruh'. Karena dengan suasana 'chaos', rusuh, lalu 'meledak', mereka bisa maju dan merebut kekuasaan.

Di beberapa negara Timur Tengah ada banyak buktinya. Cara dan metode itu dipakai. Setelah berkuasa pun masih saja bikin kacau. Karena memang itu saja yang mereka 'punya'.

Ndak punya kemampuan dan naluri menata, membangun, atau bikin maju dan sejahtera. Karena mereka lahir dan muncul memang dari 'kekacauan'. Mati pun juga.

Persis kayak 'rayap' yang lahir dari dan hidup dengan merusak kayu2 tiang rumah. Lalu jadi 'laron' yang bunuh diri massal mendekat nyala lampu petromax. Lahir dan mati untuk kesia-siaan . . .

Orang dan kelompok ini butuh Prabowo untuk ditunggangi. Prabowo pun memakai mereka dengan fungsi dan tujuan yang sama.

Begitu Prabowo 'balik kucing', patah hatilah mereka. Ndak punya lagi teman seiring untuk main 'perang2an'.

Yang ada di Ring-Satu dan pasukan 'hura2 penggembira' Prabowo juga begitu. Kadung 'tengsin', terlanjur malu, nyinyiri semua langkah Jokowi . . .

Apa saja. Si Raja hutang, plonga-plongo, PKI, dzalim, bikin infrartruktur yang tidak bisa dimakan, ngaji ndak becus, ngilangi adzan, bahasa Inggris belepotan, bahkan oplas . . .

Sekarang bagaimana ?

Sedih gembira, benci suka, goblog pinter, sebaiknya sedang2 saja. Kalau sedang suka, cadangkan 'ruang' untuk hati yang akan luka karena ditinggalkan. Jika benci jangan sampai 'banting pintu' siapa tahu kita kembali pulang.

Diantara foto2 yang sliwar-sliwer tentang 'tingkah' mereka, Jokowi dan Prabowo, gambar ini yang paling saya suka. Seingat saya punya 'Tempo.co'.

Keduanya tampilkan 'gesture' yang lepas dan lucu. Persis seperti anak2 kecil. Setelah puas berantêm lalu guyon dan main2 lagi di bawah pohon asêm . . .

Jokowi omong dan guyonkan apa saja, Prabowo 'nyimak' sambil memandang dengan mimik lucu perhatikan apa saja yang 'disajikan' Jokowi.

Kayak adik dan kakak. Tapi ndak jelas mana yang adik mana yang jadi kakak. Siapa yang lebih lucu siapa yang lebih 'mbêthik. Siapa yang lebih pinter atau lebih bodoh. Lebih bijak atau lebih kurang ajar.

Memang cuma di foto itu. Siapa tahu yang ada di sebaliknya. Tersembunyi . . .

Namun sebaiknya memang 'berbaik sangka'. Kita semua sudah lelah berkelahi. Kita juga sudah waktunya jadi 'dewasa'. Siapa tahu juga ini memang 'sajian' dari Tuhan yang begitu sayang pada kita, Indonesia . . .

Kita sangat percaya bahwa Pêngêran, Tuhan, Allah, memang mbotên saré. Always . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Sunday, July 14, 2019 - 17:30
Kategori Rubrik: