Sudah 4 Kali Lebaran, Kapan Habib Rizieq Pulang?

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

“Kapan Habib Rizieq Pulang?” Pertanyaan tersebut datang dari seorang senior di kampus. Aku pun terdiam, menunggu waktu yang tepat untuk bisa menjawab pertanyaan agak sulit itu. Beberapa jam kemudian baru bisa kubalas dengan ketidakpastian, “Nggak bisa diprediksi, sih. Memang kenapa?” aku bertanya balik. “Pemerintah telah berbuat zalim!” jawabnya singkat. Aku hanya membalas pesannya dengan tertawa, “hahahaha”.

Bagaimana bisa kita dengan sangat enteng mengatakan pemerintah telah berbuat zalim, apa pasal? Karena mempersulit kepulangan Habib Rizieq? Dari mana bisa berkesimpulan demikian?

Habib Muhammad Rizieq Shihab atau yang kerap disapa Habib Rizieq telah pergi ke Arab Saudi sejak April 2017 lalu setelah beberapa kali mangkir dari panggilan Polisi karena beberapa kasus yang menimpanya. Ia memutuskan tinggal di Arab Saudi hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Sejak saat itu, pengikutnya di Indonesia mulai menggembor-gemborkan isu kriminalisasi Ulama hingga Pemerintahan yang zalim. Tentu bisa dipastikan mengapa mereka menggemborkan isu demikian, ya, lagi-lagi berkaitan erat dengan perbedaan pandangan politik.

Semenjak di Arab Saudi pun, Habib Rizieq tidak sebebas di Indonesia. Seperti kasus pemasangan bendera Hizbut Tahrir yang kemudian menyeretnya ke masalah hukum –meski kemudian dibela oleh berbagai pihak, termasuk Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi kala itu. Belum lagi masalah Visa nya yang telah habis masa aktif, dan beberapa permasalahan lainnya.

Sebagaimana orang katakan, “Senyaman-nyamannya rumah tetangga, masih tetap nyaman berada di rumah sendiri,” memang sangat terbukti. Jika memilih untuk menetap di luar negeri, seseorang mau tidak mau harus mematuhi peraturan yang berlaku di negeri yang dihuninya tersebut. Bayangkan jika di negeri sendiri, peraturan yang sudah disepakati saja sangat mudah kita langgar, bahkan sekaliber peraturan yang bermaksud untuk menjaga nyawa kita seperti peraturan dalam berkendara motor.

“Memang itu yang di kasus C.S nya, beneran Habib Rizieq?”

Kita tidak bisa main duga benar beliau ataukah bukan. Kasus tersebut hanya bisa dibuktikan ketika ia mau menghadapi proses hukum. Jika memang merasa dirinya tidak bersalah, kenapa harus menghindari panggilan hukum? Ini yang sejak awal disayangkan. Terutama, karena Habib Rizieq sejak kasus penodaan agama oleh Basuki Thahaja Purnama (BTP alias Ahok), ia menjadi seorang yang sangat bersemangat mengawal kasus Ahok hingga ke ranah hukum, bahkan hingga Ahok dipenjara. Namun ketika ia berhadapan dengan kasus, justru mangkir dan bahkan kabur tanpa tanggung jawab. Banyak pihak yang kemudian menilai Habib Rizieq tidak konsisten bahkan tak punya rasa tanggung jawab. Salah atau benar bisa dibuktikan melalui pengadilan, bukan mubahalah. Bagaimana jika mubahalahnya palsu? hanya Allah yang Maha Tahu.

“Lantas, kapan Habib bisa pulang?”

Kapan saja bisa. Tinggal Habib Rizieq-nya yang mau atau tidak? Jika mau, tentunya ia juga harus mau menyelesaikan permasalahan hukum yang menimpanya. Tidak mangkir dari panggilan Polisi. Indonesia negara hukum,-- meskipun seringkali oknum penegak hukum menyelewengkannya-- setidaknya sebagai WNI yang baik dan patuh –terlebih sebagai seorang tokoh publik yang memiliki banyak pengikut —harusnya ia menghormati jalur hukum yang ada. Jikapun nanti hasil dirasa tak sesuai harapan atau merasa diperlakukan tidak adil, ia bisa kok menempuh jalur banding. Selain unuk kebaikannya pribadi, perilaku mematuhi hukum –apalagi bagi seorang tokoh publik—sangat berpengaruh terhadap perilaku para pengikutnya.

“Bagaimana dengan Mubahalah yang telah diucapkannya?”, sekali lagi perlu ditekankan bahwa Indonesia negara hukum. Semua orang setara di hadapan hukum. Jangan karena ia seorang Habib, dzuriyah Rasul atau apapun itu, kemudian bisa membebaskannya dari jeratan hukum. Tida bisa begitu, Ferguso!! Saya yakin di Arab pun, seorang dzuriyah jika ia bersalah akan tetap dijatuhi hukuman. Sumpah mubahalah tidak berlaku di negara hukum seperti Indonesia. Kalau dia merasa benar, buktikan di pengadilan. Jangan lantas koar-koar fitnah dizalimi pemerintah, apalagi sampe bilang "kriminalisasi ulama". Nyatanya Habib Rizieq sebelumnya pernah dipenjara, nggak pernah tuh teriak rezim anti ulama atau kriminalisasi ulama. Kenapa baru sekarang ini? kita paham lah, tentu ada agenda politis dibalik semua ini.

Begityuuuuuu..........

Selamat Idul Fitri

Sehat, bahagia dan panjang umur selalu.

Salam uwuwuwuwuuuuu....

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Thursday, May 28, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: