Suatu Malam di Pedalaman Papua

Oleh : Denny Siregar

"Bapak senang ada listrik ?"

Tanya saya pada Paulus Yafok, bapak 5 anak di desa Ampas Keerom Papua itu. "Senang sekali.." kata pak Paulus. "Anak-anak sudah bisa belajar sekarang.."

Ah, keluguan diwajahnya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lepas dari kegelapan selama puluhan tahun di desa itu. Ia pernah mengalami kegelapan total di masa kecilnya, dimana bahkan ia sulit mengenali orang yang berada di sekitarnya kecuali hanya dari suaranya saja.

Sekarang semuanya terlewati.

Bulan November 2016 selesai sudah pembangunan pembangkit listrik kecil dengan sistem solar panel di desa itu. Dan - seperti mukjijat - tiba2 terang menjadi sahabat baru mereka.

"Berapa bapak bayar untuk listrik itu ?" Tanya saya. Dia diam menghitung jarinya.

"Gratis.." Kata pak Paulus. "Kami hanya patungan 20 ribu per bulan, supaya bisa menggaji operator dari warga dan perawatan sekadarnya saja.." Logat Papuanya begitu kental dan menarik untuk didengar.

"Kalau dulu bapak keluar berapa untuk beli minyak tanah supaya pelita menyala ?" Tanyaku. Pelita adalah bahasa mereka untuk botol kecil berisi minyak tanah yang diberi sumbu. Itulah satu2nya penerangan mereka.

"Kalau dulu bisa habis 200 ribu sebulan untuk beli minyak tanah. Itu saja pedih mata kami karena kena asapnya.." Dia membelai anak2nya yang duduk bersamanya. Sore itu kami duduk di teras rumah panggungnya.

Hari sudah mulai gelap. Lampu jalan menyala, begitu juga lampu rumahnya. Nyamuk besar mulai beterbangan..

Saya meminta mereka untuk melakukan ilustrasi, bagaimana anak-anak mereka belajar waktu gelap dulunya.

Pak Paulus menyalakan pelita dan mematikan seluruh lampu rumahnya. Anak-anaknya duduk bersila dan belajar dengan menggunakan dua pelita.

Sesaat perasaan aneh mencengkeramku melihat si kecil itu belajar dengan ditemani gelap dan asap. Aku membayangkan anak-anakku berada pada posisi yang sama.

Bertahun-tahun lamanya.

Aku hanya bisa mengambil gambar satu saja dari posisi mereka. Satu saja, karena jariku sudah gemetar memegang handphoneku yang berkamera.

Aku tidak kuat. Aku keluar rumah dan duduk di depan, merenungi kegelapan dan membayangkan seandainya aku dan keluargaku menjadi mereka.

Kerongkonganku tercekat bahkan tidak mampu lagi menyeruput secangkir kopi yang disediakan.

"Tuhan, mahluk apa yang tega membiarkan mereka pada kondisi ini sekian lamanya ?"

Hari semakin gelap. Tv tabung mereka sudah lama rusak. Upin Ipin yang sempat membuat si kecil ceria, sudah beberapa minggu ini tidak lagi mengunjungi mereka. **

Sumber : facebook Denny Siregar

Tuesday, August 8, 2017 - 10:45
Kategori Rubrik: