Suasana Perang

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Dulu kalau saya ingin merekrut anggota baru, materi favorit saya selalu terkait ayat perang dan sirah nabawiyah khususnya suasana bermusuhan dengan orang kafir.

Sebab kalau materinya cuma sekelas ayam sayur, adem ayem, kita kayak kehilangan semangat. Ngaji jadi ogah-ogahan, males-malesan, loyo, lesu dan kurang darah.

Maka ayat Quran dan Sirah Nabawiyah yang terkait perang Badar, Uhud, Khandaq dan seterusnya jadi hafalan dan kajian rutin. Maka tiap ambil nafas, ada saja pekik Allahu Akbar bersaut-sautan. Padahal yang ikut liqo cuma 5 biji doang. Hehehe.

Sayangnya kok saya kuliah terus, belajar fiqih, sirah dan tafsir betulan. Lama-lama saya bisa membandingkan bahwa Islam itu tidak hanya urusan perang dan ngotot-ngototan sama orang kafir.

Setelah baca tafsir dan kajian fiqihnya, di alam nyata justru susah sekali mengimplementasikan materi tentang peperangan itu. Karena kita hidup tidak di masa perang. Ibarat habis nonton film Iko Uwais, tapi nggak ada pelampiasan.

Akhirnya di masa lalu yang penuh dengan keawaman tapi semangatnya kekencengan, sesama saudara muslim sendiri kita jadikan 'musuh-musuhan'.

Seolah-olah mereka orang kafir. Setiap ada orang yang tidak kita sukai, kita cocok-cocokkan karakternya dengan tokoh kafir di masa kenabian.

Malah ada teman ngaji saya yang rada parah. Dia sampai level kalau melihat petugas polisi lagi jaga di pos polisi, rasanya kayak bertemu Abu Jahal dan Abu Lahab. Bawaannya kepingin cekek lehernya. Padahal polisi itu muslim, nggak tahu kenapa kok ngaji kita itu bikin bawaannya pengen makan orang melulu.

Mungkin kebanyakan kajian perang melulu ya?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat,Lc.MA

Saturday, December 8, 2018 - 20:15
Kategori Rubrik: