Suara Hati Anak Papua

Oleh: Cristian Pundulay

 

Banyak orang yang sok tau amat nulis begana begini begono tentang Papua, saya yang hidup di Papua tak mau belagu nulis tentang Papua, apalagi sok tau. Saya hidup di daratan Serui. Tau Serui tidak, daerah ujung tipis yang masyarakatnya hidup digaris bawah sejak bumi ini ada. Miskin? Sudah pasti. Tapi kami tau cara bersyukur kepada Tuhan.

Stop lah menulis tentang kami anak-anak Papua, jangan lagi kalian mencari nama dengan seolah-olah ber-empati pada kami, tapi tidak melakukan apa-apa. Kalian mungkin beruntung hidup di barat Indonesia. Senangnya bukan main, serba ada dan murah. Kalian lahir pakai dokter, kami tidak. Kalian bisa menonton tivi sejak lahir bahkan sebelum lahir, kami baru 3 tahun terakhir ini.

 

 

Kalian bisa berjalan di aspal gagah, kami syukur-syukur bukan kubangan babi. Tau tak kalian berapa harga sekarung beras 50 kg? Sejuta cuk sejuta!! Puji Tuhan kami tidak terlalu biasa makan nasi yang mewah dari kecil. Beras itu mewah bagi kami, makanan orang-orang kaya. Kami cukup hidup dengan talas atau enau. Syukur-syukur kalau jagung lagi murah, sedikit mewah lah kami makan sekeluarga.

Tau tak kenapa rumah kami cuma bak kandang sapi kalian? Siapa yang mampu beli semen satu sak 2,5 juta. Liat uang segitu gak pernah broo. Cuma tau baca kami disini. Boro-boro mau beli semen buat rumah, mikul semen satu sak 20 km udah mati duluan kami disini.

Terus apa kami marah dengan kondisi dan ketimpangan itu? Tidak..! Kami so biasa jadi anak tiri bahkan dianggap anak pungutan. Kami biasa dilupakan meski kekayaan alam kami dikeruk sampai ke akar bumi. Lalu uangnya diberi untuk kalian di barat sana. Aspal kalian licin, rumah kalian terang, sekolah kalian bagus sudah, rumah sakit kalian mewah.

Kami dapat apa? Dapat ampas dan kerusakan dari itu semua. Kami tidak marah, kami ikhlas berbagi sama kalian, kekayaan alam kami untuk mempercantik daerah kalian. Kemudian hari ini daerah kami mulai dibangun, rumah sakit so ada dokter, sekolah so pake sepatu. Harga beras murah sudah, beli semen so tak semahal berlian lagi. jalan kami mulai lebar.

Tapi kalian ribut..!!

Apa cuma kalian yang ingin rumah sakit lengkap? Apa cuma kalian yang ingin jalan beraspal? Apa cuma kalian yang ingin makan nasi? Apa cuma kalian yang ingin pasang listrik? Heeiiiii kami jugaaa.. kami juga manusia. Manusia Indonesia. Cukuplah kulit kami saja yang gelap, daerah kami jangan..!
Cukup rambut kami saja yang bergelombang. jalanan kami jangan..!

Cukuplah kekayaan alam kami saja yang kalian keruk, sifat kalian juga jangan macam beruk. Ikhlaslah sedikit berbagi dengan kami anak anak Papua, anak-anak pelosok rimba yang juga ingin merasakan bagaimana dianggap layaknya manusia. Di tangan 'Tukang Kayu' yang rupanya tidaklah gagah, badannya tidaklah tegap tapi kami dianggap. Kami disetarakan. Kami dihargai selayak manusia Indonesia.

Kami tidak kenal rupa tukang kayu itu, tapi hasilnya kerjanya, membuat kami kenal bagaimana kearifan, kebijaksanaan, keadilan, kesejahteraan yang merata ada dalam benak kepemimpinannya, dan dia mencoba untuk berbuat yang terbaik untuk kami.

Membangun tidaklah mudah, apalagi membangun Papua. Daerah dengan struktur alam perbukitan, meliuk dan daerah yang masih beralam brutal karena tidak terjamah pembangunan selama ini. Semua butuh waktu.. Semua butuh proses.. tapi seorang anak desa pinggiran sungai Bengawan Solo telah berupaya dan terus berjuang untuk kemajuan kami anak anak Papua.

Terima kasih Presiden-ku..
Terima kasih bapak Presiden Joko Widodo
di tangan Anda, kami merasakan layaknya dianggap manusia Indonesia.

Salam dari Serui.. dari anak bangsa yang pernah terpinggirkan.

(Sumber: Facebook CRISTIAN PUNDULAY)

Wednesday, May 9, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: