Suap

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

GUE pernah jadi Ketua RT di sebuah perumahan. Suatu hari, di awal-awal jadi RT, satpam komplek datang mengantarkan surat permohonan perpanjangan KTP dari seorang warga. Di map berisi berkas yang memang sudah lengkap terselip "uang tanda terima kasih".

Berkas itu gue kembaliin lagi ke satpam. Trus gue bilang, "Saya gak suka cara begini. Suruh warga yang mau mengurus perpanjangan itu dateng sendiri ke sini." Satpamnya kaget. Dengan wajah kelihatan bingung dia lalu ngeloyor pergi.

Beberapa hari kemudian, si warga Indonesia, yang kebetulan keturunan Cina itu, datang ke rumah. Gue terima dengan baik tanpa sedikit pun menyinggung soal satpam yang dimintai tolong.

Gak sampai lima menit, surat permohonan selesai. Kelengkapan berkas gue kembalikan berikut "uang tanda terima kasih"nya yang besarannya malah bertambah. Asem. Dia pikir yang dibawain satpam kurang kali ya.

Sambil tersenyum lalu gue bilang, "Terima kasih sudah mau mampir ke rumah. Asal datang sendiri, pokoknya mau ngurus surat apa saja sama saya gratis."

Setelah dia pergi, gue jadi inget ucapan sinis teman gue di kampus dulu, "Cinalah biang kerok yang membuat sogok menyogok atau suap menyuap jadi budaya. Budaya yang membuat para pejabat dan penguasa di negeri ini brengsek. Ngurus apa aja mesti pakai uang pelicin."

Jawaban gue pendek, "Jangan nyalahin Cina. Lagian gak semua Cina begitu. Emang dasar mental pejabat di negeri ini aja yang bobrok."

Dia malah nyahut dengan wajah tetap sinis, "Elo belom jadi pejabat pemerintah aja, Dhan. Lihat nanti."

Gue no comment. Gue takut jangan-jangan ucapan temen gue suatu hari nanti jadi kenyataan.

Belasan tahun kemudian gue emang gak jadi pejabat. Tapi gue jadi wartawan yang rentan sama budaya amplop mengamplop. Bersyukur gue terdampar di Kelompok Kompas Gramedia yang memberi sanksi keras pada penerima amplop.

Tapi gue akhirnya jadi pejabat pemerintahan juga, meski pejabat di struktur paling bawah, Ketua RT.

Dan ternyata jadi pejabat RT yang gak bergaji malah lebih rentan tergoda uang suap. Suap dari warganya. Dan gue yakin satpam yang datang ke rumah gue pasti ada ongkos jalannya. Begitu juga ongkos ke atasnya sampai ke kelurahan.

Jadi kalau si penggelap dana perbankan Djoko Tjandra sebelum dan setelah tertangkap bisa menyeret banyak pejabat mulai dari Pak Lurah sampai jenderal kepolisian, gue sih dari dulu gak heran. Yang gue heran, justru ketika kembali denger suara suara sumbang yang mulai menyalah-nyalahkan, lagi-lagi, Cina.

Cina yang sama temen gue dulu dituduh sebagai akar mula suap menyuap, bukan menyalahkan manusia Indonesia (siapa pun dia) bermental bobrok yang suka menerima atau meminta suap. Saking bobroknya, agama yang sudah dianut dari lahir pun gak berpengaruh apa-apa.

Coba deh. Jangan cuma bisa nyalah-nyalahin Cina kalo elo pernah nerima suap dari Cina dan di rumah lo gak ada produk Cina. (Hehehe... yang terakhir kagak nyambung ye!)

Selamat Idul Adha.
Selamat nyate.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Wednesday, August 5, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: