Strawman Fallacy Lagi

ilustrasi
Oleh : Alim
Saya pernah nulis soal strawman ini beberapa lama yang lalu. Kemarin dan hari ini saya temui lagi kasus serupa, dengan korban tudingan teman2 IMM yang bikin acara diskusi mengenai Feminisme.
Ada dua tudingan: Pertama, IMM inferior terhadap isme-isme barat. Kedua, tidak hanya inferior, tapi juga membebek pemikiran (feminisme) barat.
Saya tidak akan masuk dalam ranah diskusi apa dan bagaimana feminisme dan bagaimana feminisme dalam Islam. Prof

bagian yang mendalamnya, saya bagian hore2 bahas logical fallacynya saja.

Logical fallacynya gimana?
2 postingan tersebut judging IMM dari sebuah artikel berita. Diberitakan IMM membuat diskusi dengan tema Wacana Kritis Feminisme Islam. Topik bahasannya ada satu, dua tiga, dst. Harapan penyelenggara, “Perempuan dapat menjadi aktor strategis dalam pembangunan, tidak hanya pembangunan di desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera,”.
Tampaknya ada satu titik tembak bagi pengkritik. Di dalam berita ada pesan penyelenggara agar peserta "menjadi inspirator, memiliki mimpi besar, percaya diri dan menjadi pribadi yang mandiri, serta menerapkan nilai-nilai feminisme Muslim bukan hanya sebagai wacana." Nah, tampaknya "menerapkan nilai-nila feminisme muslim" inilah yang dimasalahkan. Masalahnya di mana? Yang saya cerap, bagi mereka tidak ada feminisme dalam Islam. Islam ya Islam.
Rupanya para pengkritik tidak mendalami dulu konsepsi feminisme muslim yang jadi diskusi dalam acara tersebut. Yang jadi bahan tembak sesungguhnya feminisme barat yang ada dalam benak pengkritik, namun moncong tembakannya diarahkan ke IMM. Ketika salah satu pengkritik saya tanya apakah mengikuti konten diskusinya? Dia jawab tidak, tapi menggunakan parameter sensitifitas perasaan (menurut dia pemikiran) untuk menilai bahwa IMM memang membebek pada pemikiran barat.
Dengan demikian, para pengkritik itu mengkritik IMM yang mereka duga menggunakan konsepsi feminisme yang ada dalam benak pengkritik sendiri (wong tidak ikut dalam diskusi kok). Itu namanya kesalahan logika Strawman Fallacy.
Ada juga pengkritik yang bawa-bawa Aisyiyah dan bu Munjiyah. Tembakannya sama, menganggap Aisyiyah sekarang dan juniornya membebek ke feminisme, beda dengan bu Munjiyah. Tentu postingan itu tanpa argumen dan bukti2, menyimpulkan hanya berdasar postingan berita (dan mungkin dasar lain yang tidak ia tulis).
Saran saya kepada pengkritik, akan tidak menjadi Strawman Fallacy kalau para pengkritik mengungkapkan konsep feminisme yang ada dalam acara diskusi IMM, atau konsep feminisme dalam putusan resmi Aisyiyah, lalu mengkritik kontennya itu. Maka akan terjadi diskursus yang menarik dan membangun.
Demikian.
Sumber : Status Facebook Alim
Thursday, January 28, 2021 - 10:45
Kategori Rubrik: