Strategi Politik 'Racun Kalajengking' Ala Jokowi

Oleh : Fakhru Amrulla

Sepekan terakhir publik Indonesia kembali ramai. Pernyataan Presiden Jokowi saat membuka Musyawarah Pembangunan Nasional menjadi buah bibir di dunia nyata dan maya.

Pada kesempatan “sakral” tersebut, Pak Jokowi menyampaikan pernyataan bahwa di antara komoditas bernilai tinggi bukanlah emas dan migas, melainkan cairan racun kalajengking yang harga tiap liternya mencapai ratusan miliar rupiah.

Ya, tidak kali ini saja Pak Jokowi mengunakan gaya komunikasi yang nyentrik seperti ini. Sebagimana yang telah penulis sampaikan pada tulisan sebelumnya, gesture, komunikasi, dan pakaian Pak Jokowi acap kali dipandang tidak lazim. Entah apa pesan komunikasi politik yang ingin disampaikan beliau dengan cara tersebut.

Pada kesempatan ini, penulis tidak membahas tentang budi daya Kalajengking, atau bagaimana dan seperti apa pemasarannya. Pada tulisan ini, penulis ingin sedikit mengupas dan menganalisis gaya komunikasi Pak Jokowi dengan menggunakan perspektif psikologi komunikasi politik.

Gaya Nyentrik Jokowi Akan Terus Dipertahankan

Mengapa demikian? Analisis awal penulis adalah, jabatan sekaliber presiden yang mempunyai “semuanya” (tenaga ahli dan pakar), pastilah tindakan dan sikapnya sudah diatur sedemikian rupa. Inilah gaya komunikasi Pak Jokowi untuk menyapa psikologis masyarakat umum. Gaya komunikasi seperti ini akan terus dipertahankan oleh beliau.

Baik, sekarang mari kita tinjau dari segi konsep psikilogi komunikasi politik. Carl Iver Hovland, Irving Lester Janis, dan Harold H. Kelly, tiga ahli psikologi asal Amerika, memberikan gambaran ruang lingkup komunikasi sebagai "the process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience)."

Kita artikan secara sederhana, komunikasi adalah kerangka psikologi aliran perilaku sebagai usaha menimbulkan respons kepada audiens melalui lambang-lambang dan verbal. Di dalam komunikasi, seseorang ingin menunjukkan kepada audiens tentang siapa dirinya sendiri, apa yang diyakini, dan apa yang disukai, baik itu berkaitan dengan citra diri fisik dan citra diri psikologis.

Tujuan komunikasi pada dasarnya adalah untuk memberikan kesan terhadap audiens tentang diri kita. Untuk memberikan kesan psikologis kepada audiens, tidak selalu harus menggunakan cara yang elegan. Yang terpenting adalah pesan yang disampaikan dapat cepat menyebar dan masuk ke dalam ruang pemikiran masyarakat, sehingga menjadi topik pembahasan yang selalu dibicarakan. Jika kemudian memberi efek negatif, kondisi tersebut tergantung pada kultur dan tingkat pendidikan masyarakat.

Pada bangsa Indonesia, masyarakatnya tergolong “pelupa dan pemaaaf”. Ketika dihadapkan pada berbagai macam persoalan yang menimpa seorang individu, efeknya tidak akan berlangsung lama. Cukup dibasuh dengan klarifikasi yang menyentuh hati atau dengan kinerja yang sedikit “mentreng” (baik), maka masyarakat akan lupa dengan kesalahan yang dilakukan. Namun, nama yang bersangkutan tetap dikenang. Sehingga kesan yang tinggal adalah kesan yang baik. Walaupun cara seperti ini berisiko, tapi cukup efektif.

Dari konsep di atas, mari kita kaitkan dengan gaya komunikasi Pak Jokowi. Komunikasi nyentrik Jokowi bertujuan untuk memberikan pesan dan kesan kepada publik bahwa inilah karakter diri seorang Jokowi. Beliau tidak memikirkan elegansi dan kecerdasan akademik. Mungkin beliau ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa jangan aneh melihat gayanya yang demikian, karena itulah karakter asli beliau.

Lalu apa kaitannya dengan isu racun Kalajengking kemarin? Sekali lagi, itu bukan pertama kalinya sikap dan perkataan Pak Jokowi menjadi trending topic. Dalam presepektif psikologi komunikasi, sebenarnya Pak Jokowi sadar akan hal tersebut dan sudah dibaca dengan baik oleh pembantunya. Soal pernyataannya akan menjadi buah bibir, memang barangkali itulah target yang sesungguhnya yang ingin diraih oleh Pak Jokowi.

Melalui komunikasi dan gestur nyentrik, Pak Jokowi ingin namanya terus dikenal semakin luas di kalangan masyarakat, sekaligus meng-counter isu miring yang sedang ditujukan kepada beliau. Racun Kalajengking yang kini viral itu sangat efektif untuk meredam isu #2019GantiPresiden dan Perpres TKA yang menghantam Presiden Jokowi belakangan ini.

Cara seperti ini terbukti sangat efektif. Bayangkan, #2019GantiPresiden dan Perpres TKA seakan hilang dari perhatian dan perbincangan publik pasca pernyataan yang dikeluarkan Jokowi. Dalam sepekan terakhir, media sosial, media massa, dan ruang publik berbalik dibanjiri oleh berita dan foto Jokowi dan Kalajengking.

Apakah ini konyol? Presiden seolah sebagai bahan olokan? Itu pasti. Namun, jika dilihat dari konsep tujuan psikologi komuniksi politik, strategi ini telah berhasil. Pada titik ini Presiden Jokowi berhasil mengembalikan mindset dan fokus publik ke diri beliau. Hal tersebut terlepas dari apakah substansinya berkesan baik atau sebaliknya.

Kita lihat saja nanti, Pak Jokowi pastilah sudah mempersiapkan gaya komunikasi yang baru untuk mencuci kesan buruknya. Prestasi yang beliau capai saat menjabat pasti akan dibuat sedemikian rupa untuk meng-counter isu miring tentangnya. Sedangkan nama beliau akan tetap teringat di benak masyarakat.

Sekarang mari kita masuk pada contoh penerapan studi tetang konsep dan analisis di atas. Pada tanggal 10 November 2010, Indonesia mendapatkan suatu kehormatan menjadi tujuan kunjungan politik Presiden Barack Obama. 

Kala itu, mata pemerintah, masyarakat Indonesia, bahkan dunia internasional tertuju ke Indonesia. Seluruh perhatian tertuju pada kunjungan Presidan AS tersebut. Media massa seakan dibombardir dengan pidato kepresidenan Barack Obama.

Dalam kurun waktu 18 jam kunjungan Presiden Obama, jika disimak dengan seksama melalui kajian Ilmu Komunikasi, secara psikologis terjadi perubahan pola pikir, sikap, hingga perilaku masyarakat terhadap AS. 

Bahkan salah satu media menyatakan bahwa kehadiran Presiden AS di Masjid Istiqlal, membawa pesan khusus mengenai kerukunan umat beragama di dunia. Dari contoh ini, kita dapat mengukur waktu yang begitu singkat tetapi berhasil membawa pengaruh yang besar.

Pada akhirnya penulis ingin menyampaikan, komunikasi politik secara sadar maupun tidak sadar terus terjadi dalam kehidupan berpolitik di suatu negara. Berbagai kebijakan politik disampaikan untuk mengubah pandangan terhadap suatu kepentingan. Simbol-simbol tertentu bisa menjadi bagian dari komunikasi politik. Begitu banyak hal yang bisa terjadi selama proses komunikasi politik berlangsung.

Sumber : qureta

Wednesday, May 9, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: