Strategi Pecah-Belah Melawan Ahok

Oleh: Denny Siregar
 

Sun Tzu : "Keep your friend close and your enemies closer"

Pepatah melegenda dari ahli perang China ini menjadi pondasi dasar dalam strategi militer. Perang bukan hanya ketika berhadap2an, tetapi juga masuk ke dalam pertahanan musuh, berteman dengan mereka dan memporak-porandakan gerakan mereka dari dalam.

Jadi, saya sangat mengerti kenapa Ahok mengharuskan relawannya semua bergabung dalam satu barisan yang sudah ditentukan yaitu Teman Ahok. Berbahaya sekali ketika banyak relawan-relawan gadungan yang disusupkan musuhnya dan membangun "teman-teman Ahok" yang lain, yang tidak akan mampu dikoordinir secara satuan.

Bahaya yang pertama adalah saat pengumpulan KTP yang akan terbagi2 ke beberapa relawan dengan nama yang berbeda. Sangat memungkinkan bahwa relawan2 gadungan akan menyerap KTP yang ada dan tidak melaporkannya, sehingga banyak pendaftaran yang hilang.

Bahaya kedua adalah akan terjadi adu kekuatan antar relawan - mungkin sampai ke bentrok fisik - yang menjadikan runtuhnya kepercayaan terhadap Ahok karena tidak mampu mengatur barisannya.

Bahaya ketiga adalah masuknya sumber-sumber dana ke beberapa relawan gadungan yang diatas-namakan Ahok, sehingga akan memunculkan celah hukum untuk menghantam Ahok pada sisi gratifikasi.

Musuh-musuh Ahok paham, bahwa mereka kehilangan waktu dalam campaign dan kehabisan model campaign yg bisa mencuri perhatian. Karena itu, jalan paling singkat adalah hancurkan musuh yang terkuat atau pecah barisannya. Ini rumus dasar dalam strategi intelijen, bukan hal yang aneh. Segala cara akan mereka lakukan dalam sisa waktu yang singkat ini. Tidak bisa dihadapi secara muka, hancurkan organnya.

Sayapun akan melakukan hal yang sama ketika menjadi Ahok.

Tidak usah seorang Ahok, saya sendiri mendapat serangan dengan model yang sama. Banyak akun-akun dan page-page palsu yang menggunakan nama saya, foto-foto saya, mengutip status-status saya sehingga banyak yang terkecoh dan mengira itu saya. Tujuannya, mereka mengumpulkan orang2 dulu yang sepikiran dengan saya, kemudian membelokkannya sesuai arah pikirannya. Lebih jahat lagi, satu waktu mereka akan mem-fitnah dengan mengatas-namakan saya dengan misalnya meminjam uang atau membuat status yang bernada kebencian.

Jadi memang tidak ada pilihan lain bagi teman-teman yang ingin mendukung Ahok selain bergabung dengan Teman Ahok dalam satu barisan. Jangan marah karena memang begitulah adanya. Ini situasi perang tanpa senjata.

Ketika musuh begitu pintar, seharusnya kita lebih pintar. Mengamati situasi tanpa emosi berlebihan menjadikan ruang pandang lebih luas sehingga keputusan yang diambil menjadi jernih.

"Jangan mengambil keputusan di saat kau senang dan jangan menyikapi seseorang di saat kau sedih atau marah" Imam Ali as.

Seruputlah secangkir kopi, kawan.. Nikmatnya akan menenangkanmu dalam kondisi dan situasi yang menekan.

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Thursday, March 17, 2016 - 15:45
Kategori Rubrik: