Strategi Jitu Ahok, Paksa Lebih dari Dua Paslon, Yusril Terkunci

Oleh : Thomson Cyrus

Artikel ini tidak terlalu panjang kali lebar. Saya hanya melihat ada strategi jitu Ahok yang terselubung dalam mengunci lawan-lawan politiknya. Selain soal beberapa alasan yang dia sampaikan ke media, sebenarnya ada strategi Jitu Ahok mengunci lawan-lawannya sekaligus memenangkan pertarungan. Bahkan ada grand design dari Ahok yang bagus untuk Jakarta, jika pun dia tidak memenangkan pilkada DKI.

Mari kita simak beberapa fakta berikut ini :

Pertama, Semua paham, mahfum, baik lewat survei independen maupun survey bayaran. Tingkat Elektabilitas Ahok adalah yang tertinggi dari antara calon yang ada. Jika pilkada diadakan hari ini, tidak ada yang meragukan Ahok terpilih. Tetapi bagi orang politik, jika pilkada setahun lagi, tidak ada yang tidak mungkin. Jokowi-Ahok sudah membuktikannya di masa yang lalu dengan mengalahkan Fauzi Bowo yang saat itu memiliki elektabilitas di kisaran 50 % plus minus.

Menyadari waktu tersisa masih banyak dan Ahok paham benar, cara kerja orang-orang politik, maka Ahok dengan segala pengalamannya mulai dari Bangka Belitung, hingga DKI, tentu juga tidak culun dalam politik. Jika ada pengamat dan para medsos mania mengatakan Ahok tidak paham politik, itu salah besar. Justru dia, sedang memainkan strategi jitu untuk mempecundangi para lawan politiknya.

Kedua, Fakta bahwa sesudah Ahok, ada beberapa calon yang sebelumnya di gadang-gadang sebagai cagub DKI, semisal Risma Triharini, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil yang diyakini dapat mengalahkan Ahok dan ternyata mereka bertiga sudah mengumumkan tidak akan maju ke pilkada DKI.

Ketiga, fakta bahwa sesudah Risma, Ridwan Kamil dan Ganjar tidak ikut pilkada DKI, maka diyakini banyak orang, pesaing berikutnya yang cukup kuat bagi Ahok adalah Yusril Iza Mahendra dan Sandiaga Uno.

Melihat ketiga fakta tersebut, maka Ahok mulai dapat memetakan, siapa lawan dan siapa kawan. Berangkat dari beberapa fakta tersebut diatas, Ahok lalu mengkalkulasi, kelemahan dia sekaligus kelebihan dari lawan politiknya.

Maka isu yang paling melemahkan posisi AHOK adalah isu agama. Dimana Ahok berasal dari kalangan minoritas Kristen Protestan dan keturunan Tionghoa. Sebab masih banyak saudara kita muslim, yang tidak rela memiliki pemimpin yang tidak seiman dengan mereka dan inilah kelemahan Ahok yang paling besar, sekaligus isu yang dapat dijadikan lawan untuk mendulang suara. Melihat fakta itu, maka Ahok lalu berhitung. Siapa calon yang dianggap mewakili umat islam itu?

Dari semua calon yang ada, Yusril Izha Mahendra dan Adhyaksa Dault adalah yang terkuat. Kita mengesampingkan Adhyaksa Dault, disamping dukungan politiknya minim, dia juga 11/12 dengan Ahok, gampang marah, maka representasi Adhyaksa saya minimalkan, sebab saya yakin dia tidak akan mampu mendapatkan dukungan baik dari partai maupun dari independen.

Tinggal Yusril Izha Mahendra, saingan terberat Ahok. Mengapa? Hanya satu kelebihannya menurut saya, yaitu dia mewakili kalangan islam yang tidak rela dipimpin oleh orang yang berbeda keyakinan dengan beberapa saudara kita umat muslim yang lain, selebihnya, lebih banyak yang tidak masalah menurut penglihatan saya.

Yusril Izha Mahendra, belum apa-apa sudah memberikan kode, dia sanggup mengalahkan Ahok jika heat to heat dengan Ahok. Ah, disini permasalahan besarnya. Jika ini yang terjadi, maka premisnya harus beberapa kemungkinan di bawah ini:

Pertama, Ahok maju lewat jalur partai, sebelumnya beberapa prediksi yang mengusung adalah PDIP, Nasdem, Demokrat, Hanura. Lalu di pihak lain, ada kemungkinan memasangkan Yusril dengan Sandiaga Uno yang didukung oleh Gerindra, PKS, Golkar, sisanya seperti PAN, PKB, melihat arus. Jika ini yang terjadi, kemungkinan Yusril Sandiaga memenangkan pilkada DKI besar, sebab pemilih Ahok adalah pemilih dari semua partai yang nasionalis. Artinya Yusril Sandiaga bisa saja meraup suara dari semua partai yang ada.

Kedua, Menyadari itu,Ahok lalu berhitung dan sudah mengenal, siapa pemilihnya? Pemilih Ahok adalah masyarakat yang sudah merasakan kepuasan atas kinerja Ahok selama menjadi Gubernur DKI. Oleh karena pemilih Ahok adalah masyarakat yang sudah puas dengan kinerja Ahok, maka dapat dipastikan mereka sudah fix menentukan pilihan pada Ahok, siapapun wakil dan isu apapun yang diusung oleh partai lawan, pemilih itu sudah setia kepada Ahok. Jika demikian halnya, sebenarnya pemilih Ahok itu, sudah agak susah dirayu, diiming imingi, diarahkan, sebab mereka memilih Ahok bnerdasarkan track record dan kinerja apik Ahok.

 Survei terakhir diangka 45% plus minus. Artinya minimal 40 % penduduk Jakarta sudah firm menentukan suara hanya untuk Ahok. Jika demikian halnya, Ahok butuh sekitar 10 % plus 1 saja untuk dijaga dan direbut dari suara yang ada. Angka inilah sebenarnya yang sedang dikalkulasi oleh Ahok. Dimana itu berada.

 Oleh karena Ahok sudah memetakan dukungan bagi dirinya, sekaligus sudah memetakan lawannya. Ahok memulai strategi jitunya, yaitu memecah perhatian para lawan politiknya. Di saat Ahok sudah fix menentukan calon wakilnya, para lawan politiknya masih memilih milih dan menimang-nimang siapa yang akan diusung. Saat lawannya sibuk konsolidasi, Ahok dan Teman Ahok sudah kerja sambil sosialisasi pasangan...disini saya, tersenyum dan hampir ngakak terguling guling...lawan-lawannya tertinggal jauh...haha.

 Strategi jitu Ahok itu, ternyata menguras energi lawan politiknya, itu sebabnya para kader PDIP kebakaran jenggot. Tadinya ingin bersama sama Ahok, eh dipaksa untuk maju sendiri. Sebab kita tahu-lah PDIP harga dirinya tinggi, dia kemungkinan besar akan mengusung paslon sendiri. PDIP tidak akan mendukung Yusril, itu bunuh diri bagi PDIP.

Jika PDIP mengusung paslon sendiri, itu yang diharapkan Ahok. Suara muslim yang tidak suka dengan dirinya, akan tergerus oleh paslon PDIP. Semakin mantap lagi, apabila PDIP menggandeng partai-partai lain. Itu artinya, bisa saja Yusril tidak dapat dukungan partai. Jika demikian halnya, belum apa-apa, Yusril sudah keok kepada strategi jitu Ahok. Ahok rela kalah dari paslon PDIP jika PDIP mengusung Risma atau Ganjar. Asal jangan kalah dari Yusril, sebab Ahok sangat mencintai warga Jakarta. Jika Jakarta dipimpin oleh Yusril, bisa kita bayangkan kembali Jakarta akan seperti jaman Fauzi Bowo. Ahok tidak ingin kinerjanya bersama Jokowi selama ini rusak kembali. Ahok tidak rela estafet kepemimpinan yang telah dibangun dengan hati yang tulus, harus mundur kembali di tangan orang yang kurang profesional.

Ahok sudah bekerja sebagai gubernur, yang lain masih akan menjanjikan ini dan itu untuk Jakarta. Ahok sudah fix dengan Heru dan sudah bekerja untuk sosialisasi, yang lain masih berhitung dan bernego, siapa dapat apa dan siapa bakal apa?

Masyarakat Jakarta sudah cerdas, sudah pintar, semua tersaji terbuka di hadapan mereka, tinggal pilih, menu mana yang mereka akan santap. Masakan yang sudah jadi apa yang masih mentah? Salam kompasiana.

Sumber  tulisan: Kompasiana

Sumber foto : temanahok.com

Saturday, March 12, 2016 - 11:30
Kategori Rubrik: