Strategi HTI

ilustrasi

Oleh : SaSqa SaSqa

Sesungguhnya amat mudah membaca pola 'dakwah' HTI saat ini. Sedikit berbeda pada awal-awal menyebarkan idenya yang persuasif sampai indoktrinatif, sekarang HTI memasuki fase delegitimasi eksistensi negara.

Takniknya bisa teman-teman lihat, HTI mengkampanyekan semua keburukan yang terjadi dalam negara ini. 2 yang ditembak: pemerintah dan sistem. Apapun yang dilakukan pemerintah, sistem apapun yang dipakai untuk menggerakkan negara dituding salah. Yang benar saja salah, apalagi yang salah (misal kasus korupsi) tambah diblow up kesalahannya. Bagaimana tidak, negara itu thoghut, maka semua yang ada di dalamnya sebagai turunan thoghut ya haram semua. BPJS haram, ini haram, itu haram.

Tidak usah jauh-jauh, postingan HTI di bulan-bulan ini bisa kita liat: isinya kalau nggak posting acara HTI ya soal keburukan pemerintah dan sistem. Jadi jangan harap anda menemukan HTi bercerita soal lain misalnya masyarakat indonesia tolong menolong dalam bencana, kekayaan budaya nusantara.. pasti blong.

Sesungguhnya mengkritisi pemerintah itu biasa dan sah. Kalau keliru ya dikritik. Tapi kalau sedari awal memang tujuannya delegitimasi negara ini, ya jelas tidak akan pernah ngomong kebaikan.

Pantaslah Saudi dan negara2 Islam melarang HTI hidup di negaranya karena di mana ada HTI, ia bakal mendelegitimasi negara tersebut. Indonesia aja yg terlalu baik.

Al wathan fii quluubina? Meski yang bilang Khadimul Haramain, bagi HTI ya tetap thoghut laaah...

- dr Muttaqin Alim, SpAn -

GERILYA HTI: "POKOKNYA"

Lagi soal HTI. Saya beberapa kali adu argumen dengan simpatisan HTI (tentu karena level saya adalah level simpatisan), baik melalui WA maupun di grup-grup FB, baik saat masih pakai nama HTI maupun setelah mereka berubah sebutan menjadi berbagai nama.

(Tapi interaksi saya bukan hanya adu argumen lho.. pernah juga dimintain dan saya sanggupi melatih manajemen bencana oleh salah satu "cabang" HTI, HELPS, meski sampai sekarang belum terealisasi. Jadi tidak ada kebencian pribadi dalam interaksi ini).

Kembali ke soal adu argumen. Setelah saya amat-amati dari hasil adu argumen saya itu, ujungnya hanya dua: ditinggal atau mentok di 'pokoknya'.

Ketika ditanya landasan nashnya, biasanya mereka menggunakan ayat-ayat yang ada kata "khilafahnya". Padahal dibuka di berbagai kitab tafsir, yang dimaksud ayat itu bukanlah sistem pemerintahan seperti yang dimaksud HTI, tetapi tentang kekhilafahan ras dan tugas manusia di muka bumi. Pernah saya bukakan 7 kitab tafsir (tepatnya, 5 kitab tafsir dan 2 Tarjamah Qur'an). Inilah yang kemarin Cak Nun banyak disalahpahami mendukung HTI, padahal yang dimaksud Cak Nun dan HTI itu beda jauh.

Ketika ditanya metode istinbathnya, mereka selalu melandaskan pada qiyas pada wajibnya wudhu sebelum shalat wajib. Padahal itu jelas tidak apple to apple baik dari segi isi maupun formanya.

Ketika ditanya soal argumen kesejarahannya, selalu saja melandaskan pada lenyapnya khilafah setelah Turki Utsmani tumbang. Ketika ditanya kenapa kerajaan Islam lainnya tidak dianggap ada sehingga tidak HTI akui sebagai khilafah islamiyah, sering kali diam.

Kalau ditanya soal bendera, akan sangat yakin bahwa bendera mereka adalah al-Liwa dan al-Rayah milih Rasulullah padahal zaman Rasulullah tulisan arab (khat) jenis seperti yang tertulis di bendera mereka itu belum ada. Dan meski sama-sama "bendera tauhid", mereka nggak mau pakai bendera milik ISIS. Padahal kan sama2 hitam dengan tulisan tahlil.. 

Dan kalau sekarang ditanya apakah NKRI itu thoghut, jawabnya muter-muter, tidak tegas seperti saat nama HTI masih digunakan.

Akan tetapi... dengan segala ketidak-tuntasan argumen HTI, mereka masih terus saja bergerilya. Di kalangan millenial pakai nama anu, di kalangan seniman pakai nama itu, di kalangan agak tua pakai nama lain lagi, buletinnya juga berganti nama.

Postingan di grup-grup pun terus dilakukan meski (di grup yang saya ikuti) kalau dihadapi secara argumentatif, endingnya tetap sama: pergi atau pokoknya. Dan itu besoknya posting lagi dan lagi.. teruuus saja dilakukan. Hebat sekali koppignya 

Agaknya metode ini cukup berhasil. Dari berbagai studi menunjukkan peningkatan tren anak usia SMU yang ikut paham ini. Bahkan saat diwawancara, secara bangga dan terbuka mendukung khilafah yang diusung HTI itu.

Jadi sebenarnya bagaimana cara berpikir mereka itu ya?

Sumber : Status Facebook Sasqa SaSqa

Friday, March 29, 2019 - 15:45
Kategori Rubrik: