The Strait Times: Prabowo Akan Biarkan Pendukungnya Turun ke Jalan

Oleh: Budi Setiawan

 

Prabowo selama ini menganggap media lokal tidak berpihak kepadanya. Kita paham itu jika perspektifnya adalah siapa pemilik aneka media, baik cetak, elektronik maupun online. Anda bisa cari sendiri dan akan menemui bahwa pemilik media itu pendukung Jokowi semua. Jadi mana bisa netral? Begitu pemikiran Prabowo dan teamnya.

Karena itu , tidak heran jika Prabowo mengandalkan media asing sebagai corong kebijakan dan pendapatnya. Meski dalam ruang lingkup yang terbatas, yakni hanya seputar pemirsa berbahasa Inggris. Harapan Prabowo, media lokal mengutip media asing tersebut. Atau Anda—seperti halnya saya—merangkum apa yang dikatakan Prabowo di depan media asing. Jika ada kesalahan, maka yang disalahkan adalah teknis penterjemahannya. 

 

Para editor media asing tentu saja paham akan trik ini. Karenanya, mereka tidak begitu tertarik dengan pernyataan Prabowo bahwa pemilu kali ini penuh kecurangan. Media asing hanya sedikit menyinggung dipanggilnya pakar asing untuk sama-sama mengaudit KPU.

Justru yang dikejar oleh media asing adalah apakah Prabowo akan memerintahkan pendukungnya untuk turun ke jalan.

Prabowo mengatakan tidak akan memerintahkan aksi turun jalan. Namun membenarkan. Seperti kutipan Harian Straits Times Singapura :

“Setelah beberapa kali mengelak atas pertanyaan wartawan apakah dia akan memerintahkan pendukungnya untuk protes menyuarakan ketidak puasan mereka, Prabowo akhirnya mengatakan,

Apapun yang rakyat lakukan, itu keputusan rakyat. Saya bukan seorang diktator. Saya tidak akan mengatakan kerjakan ini kerjakan itu.. 

Saya tidak akan memerintahkan rakyat turun kejalan tapi saya yakin mereka akan lakukan itu. Sebab, jika Anda melihat sejarah, rakyat Indonesia bukan kambing. Mereka tidak akan terima ( hasil pemilu."

Membiarkan pendukungnya turun ke jalan tapi tidak memerintahkan demikian, nampaknya sejalan dengan pendirian Prabowo bahwa dia tidak akan menerima hasil pemilu.

Kutipan Straits Times :

“Kali ini Saya tidak akan terima hasil yang curang. 2014 lalu, sebenarnya hati saya tidak terima, tapi demi kebaikan bangsa, saya singkirkan prasangka. Saya datang ke acara pelantikan dan memberi ucapan selamat ( kepada Jokowi )

Untuk kebaikan bangsa dan demokrasi, saya menginginkan kompetisi yang sehat. Namun dalam pilpres kali ini, pelanggaran begitu banyak. Jadi tidak mungkin bagi saya menerima hasil pemilu yag curang. “

Selengkapnya : https://www.straitstimes.com/…/indonesian-presidential-hope…

Kita nantikan apakah turun ke jalan jadi dilaksanakan ketika KPU mengumumkan hasil capres tanggal 22 Mei mendatang.
Kemungkinan besar jikapun ada aksi, tidak akan berlangsung anarkis. Ini disebabkan karena pemerintah berusaha keras untuk menghindari kejadian ini. 

Konsentrasi para dalang yang mencoba melakukan anarki memprotes hasil pemilu 22 Mei tengah dipecah oleh aneka langkah kontra informasi.

Dalam konteks ini , bisa dimengerti, mengapa menteri Wiranto mengeluarkan pernyataan soal take down media yang melanggar hukum. Atau Hendropriyono yang bilang pemuka agama keturunan Arab agar jangan asal nyablak.

Opini publik yang muncul dari pernyataan ini membuat para setan gundul kelabakan untuk bertindak karena sajen menyannya ditendang berantakan oleh para pemanggilnya yang sibuk perang opini di media.

Hingga tidak focus mengkoordinir massa di tanggal dua dua.

 

(Sumber: Facebook Budi Setiawan)

Wednesday, May 8, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: