Stop Playing Victim

ilustrasi

Oleh : Teguh Kurniawan

Unjuk rasa yang mengusung isue provokatif Papua Merdeka dengan membentangkan Bendera Bintang Kejora (BK) sebagai simbol perlawanan terhadap kedaulatan NKRI hanya dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang belum jelas apakah mereka benar-benar mahasiswa atau memang kelompok separatis yang terbungkus mahasiswa.

Mereka tidak mewakili ribuan mahasiswa asal Papua lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara dan murni benar-benar menuntut ilmu untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Janganlah kita menjadi bagian dari narasi agitasi dan propaganda busuk yang dilahirkan oleh kubu OPM.

Surabaya tidak rasis. Saya sering lewat asrama mereka di Jalan Kalasan. Entah sudah berapa kali mereka memprovokasi warga kota pahlawan ini. Yang terbaru (dan tidak terbukti) mereka membuang Bendera Merah Putih ke selokan.

Saat salah satu ormas mengklarifikasi peristiwa bendera yang dibuang ke selokan itu, mereka merespon dengan arogan. Mereka juga menolak mengibarkan bendera Merah Putih. Bahkan pernah ada oknum yang memamerkan bendera Bintang Kejora.

Ini kota pahlawan. 
Ribuan pejuang gugur membela kedaulatan negara dan Sang Saka Merah Putih.

Narasi rasis, pertama kali dikeluarkan Emanuel Gobay dari LBH Papua yang disinyalir pro OPM.
Diksi propaganda, playing victim dan agitasi murahan. Diikuti tagar #Pen74jah

Di Surabaya menyebut jancok dan bedes (monyet) itu biasa, tatkala marah.
//wooo bedes dobol koen.
wooo jancok jaran koen.
kate nang ndi Des bedes?//
Lumrah
biasa
Dan perlu diingat, arogansi oknum mahasiswa simpatisan OPM ini bukan hanya di Surabaya. 
Malang, Jogjakarta dan Jakarta, pernah dibuat kisruh. 
Dan setiap usai, akan ada narasi agitasi dan propaganda dari anasir OPM.

Yang memuakkan adalah, justru diberi ruang maya, dibela kelompok kelompok yang entah kepentingannya apa....

Ga peduli negaranya pecah.

Sumber : Status Facebook Teguh Kurniawan

Tuesday, August 20, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: