Stop Judul Lebay, Teknik Clickbait Itu Menyesatkan

Oleh: Wahyu Sutono

 

Kekonyolan terhadap teknik clickbait yang digunakan beberapa media cetak, utamanya media online semakin menjadi-jadi, guna mengejar perhatian penuh dari pembacanya, sekaligus memanfaatkan masyarakat yang malas membaca hingga tuntas.

Hal ini banyak berakibat buruk ketimbang nilai positifnya, mengingat tak sedikit yang terprovokasi atau hingga menyebar hoax akibat sebuah judul berita atau artikel yang bombastis. Misalkan, ketika Wakil Presiden Ma'ruf Amin berkelakar tentang Covid-19, penderitanya bisa disembuhkan dengan susu kuda liar. Lalu ada media yang menggunakan kelakar tersebut sebagai judulnya, tanpa menyebutkan bila itu hanya sebuah kelakar terkait maraknya iklan susu kuda liar.

 

Padahal inti materi yang disampaikan Ma'ruf Amin jauh dari persoalan susu kuda liar. Benar bahwa setelah dikritisi, judul berita tersebut diganti dengan menambahkan kata kelakar. Namun judul pertamalah yang sudah terlanjur menjadi santapan publik yang mendapat beragam tanggapan, dari yang lucu hingga cibiran yang tak patut dari netizen.

Selain yang berakibat merusak karakter seseorang seperti halnya kasus di atas, ada yang lebih parah lagi seperti yang berakibat pada perpecahan, karena nadanya provokatif. Contoh nyata pada media yang memberi judul "Ibu dan anak dikubur hidup-hidup di India." Hingga memantik amarah umat Islam di Indonesia akibat judul yang konyol itu.

Hal ini sebelumnya pernah penulis luruskan, karena nyatanya itu adalah pembunuhan sadis dari seorang suami yang menghabisi nyawa istri dan anaknya yang masih balita. Sedangkan fotonya adalah ketika kedua korban diangkat dari kuburan untuk proses otopsi.

Yang terkini adalah berita dengan judul "Penderita Covid-19 25 meninggal," yang bisa ditafsirkan seolah 25 orang yang meninggal. Seharusnya pada judul tersebut dicantumkan kata nomor 25, yang artinya pasien nomor urut 25 yang meninggal dan itu artinya juga hanya 1 orang. Hal ini pun mendorong seorang Rektor membuat cuitan yang mengatakan bila di Bali telah meninggal 25 orang, kendati kemudian ia ralat disertai permintaan maaf. 

Ironisnya bukan saja ia seorang rektor yang itu artinya memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, tapi Musni Umar ini tidak hanya kali ini saja membuat cuitan yang bisa dikatagorikan sebagai hoax, namun pihak berwajib seolah melakukan pembiaran.

Lalu judul "Reuni PA212 dapat dukungan dari 202 negara." Bagaimana cara memutuskan dan membuktikan bila 202 negara itu mendukung dan negara mana saja. Sementara jumlah negara yang sah menurut PBB hanya 193 negara. Begitu pun Amerika mengakui 195 negara. Lain halnya bila mengacu pada Federation Internationale de Footbalk (FIFA) yang ada 211 negara atau International Olympic Committee (IOC) 206 negara.

Masih banyak sekali judul berita yang lebay dan tak sesuai dengan isinya yang membuat penulis pun kerap protes keras kepada Dewan Pers yang nampaknya adem ayem saja. Hal ini senada dengan sahabat jurnalis Nien Saksono yang kerap menyampaikan kegeramannya terhadap teknik yang disalahgunakan hanya demi mengejar keuntungan semata, namun mengabaikan dampak negatifnya.

Lalu apa Clickbait itu? Umpan klik (clickbait) adalah istilah peyoratif yang merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung kepada tajuk sensasional atau gambar mini yang menarik mata guna mengundang klik-tayang (click-through).

Ini sebuah teknik membuat judul yang menarik. Fenomena clickbait telah banyak digunakan oleh para pewarta maupun penggiat media sosial. Banyak pembuat konten yang menggunakan clickbait untuk menarik pembacanya, yang pada akhirnya mengklik judul yang uniq atau yang bombastis karena tertarik dan penasaran akan isinya.

Judul clickbait bahkan membuat banyak dari netizen mengklik tombol like dan share tanpa membuka isinya. Judul clickbait seringkali memiliki judul-judul yang ketika dibaca bahkan bisa membuat dahi mengernyit, tapi tak jarang hal itu 'sukses' membawa pembaca untuk meng-klik tulisan tersebut. Fenomena inilah yang kemudian sering disebut clickbait.

Ankesh Anand, dari Indian Institute of Technology, mengatakan dalam tulisannya yang berjudul “We used Neural Networks to Detect Clickbaits: You won’t believe what happened Next." Bahwa clickbait merupakan istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca, yang biasanya menggunakan bahasa yang provokatif nan menarik perhatian. Karena judul adalah elemen yang paling pertama dibaca dari hasil pencarian, maka dengan mengoptimasi judul jumlah klik bisa bertambah.

Tujuan sebenarnya dari membuat judul maupun gambar clickbait tidak lain adalah untuk menjaring banyak orang untuk membaca tulisan yang diunggah, tentunya dengan menyelaraskan antara judul dengan isi tulisan agar pembaca tidak seperti membuka kotak yang indah namun saat dibuka ternyata bodong atau tak nyambung. Berbeda jauh bila itu berupa satire atau sarkasme yang bermuatan kritik atau sindiran.

Pada dasarnya, orang-orang meng-klik konten yang mereka anggap relevan dan menarik dilihat dari judulnya. Karena jika judul ditulis secara asal-asalan, calon pembaca pasti akan mengabaikan konten tersebut dan mengklik konten lainnya. Karenanya, biasakanlah membaca tulisan apapun hingga tuntas, dan akan lebih bijaksana lagi bila memilih dan memilah media mana yang kredibel.

Sebaliknya, kita pun membiasakan diri dengan membuat judul tulisan yang relevan serta mewakili isi tulisan, dus bukan yang bombastis agar mendapat perhatian penuh dari pembaca. Ikutlah berkontribusi dalam menekan pertumbuhan hoax dan perpecahan bangsa dengan judul dan tulisan yang mendidik.

"Ayo clickbait kita rubah jadi click baik"

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Thursday, March 12, 2020 - 19:45
Kategori Rubrik: