Stop Jadi Kampret Durjana

ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Nak.. sehebat apa pun dirimu tak ada yang indah bila harus berakhir dibalik terali besi. Cemberut atau senyum engkau tetap merana, apalagi saat sudah pakai seragam oranye.

Yang engkau bela dengan cara membabi buta tak akan kuasa menolongmu. Termasuk sang pemodal pun akan lepas tangan. Bahkan anak istrimu terbawa korban karena ulahmu.

Sudah banyak kejadian dari kolegamu yang masuk bui hanya karena menyebar hoax, ujaran kebencian, dan perilaku buruk lainnya, namun engkau tetap tak mau belajar dari kesalahan sebelumnya. Jadi andai pun engkau bisa lolos, toh tahun 2024 itu masih lama lo.

Lupakah bahwa Pilpres sudah usai? Atau engkau ingin ikut mendukung mereka untuk mengacaukan negeri ini, sehingga citra pemerintah buruk, lalu kalian coba mengganggu pula orang-orang waras yang mendukung pemerintah yang sah..

Adik-adik yang saat ini masih hidup bebas ke mana pun kaki melangkah, mulailah membuka hatimu dan membuka cakrawala berfikir kalian dengan membaca informasi sebanyak mungkin dengan cara berimbang, dus bukan hanya sepihak mendengar dari para elite yang kalian puja. Juga jangan mudah terima doktrin yang mengatasnamakan agama.

"Jangan lupa bahwa saat ini banyak ulama dan ustadz dadakan yang ilmunya masih terbatas, serta masih sibuk dengan urusan duniawi."

Ingat bahwa suatu saat ada masa dimana umatnya akan terombang ambing seperti buih di lautan. Ya seperti saat inilah adanya. Oleh karena itu, hati-hatilah dalam menimba ilmu. Di Indonesia ada sekitar 150 ribu lebih ulama, itu jumlah yang besar, jadi pilihlah yang mumpuni, dus bukan hanya bermodal nama besar.

Ingat pula bahwa akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya dan dusta yang sejatinya hanya untuk mengejar kepentingan politik semata. Akhirnya pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat.

Dikisahkan ketika Ruwaibidhah angkat bicara dan ada yang bertanya: "Apa itu Ruwaibidhah?". Beliau menjawab, "Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat." (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Yala al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Untuk itu, berhentilah berfikir seperti kampret yang hanya keluar malam untuk mencuri buah-buahan yang bukan miliknya. Sebab kita ini manusia beradab yang bekerja di siang hari dengan akal sehat serta nurani sebagai bekal untuk keselamatan dunia dan akhirat.

"Bayangkan kalau engkau tak terciduk, sangat mungkin penulis dan sahabat-sahabat kritis lainnya yang akan jadi target gila berikutnya. Lebih mengerikan lagi bila data Densus 88 yang engkau bocorkan. Itu artinya sama saja dengan menyerahkan nyawa Polisi kepada teroris. Atau mungkin data-data bank. Bisa jadi ada orang yang mendadak miskin."

Adik-adiku yang masih merdeka, merdekakan pula kewarasan kalian untuk belajar agama dengan cara yang cerdas dan bijaksana. Agar umat tak terpolarisasi, sehingga kita semua bisa bersatu untuk turut membangun negeri ini, karena itu jauh lebih indah dan bermanfaat.

Salam NKRI Gemilang

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Monday, July 13, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: