Stop Ceramah Gaduh

ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Apabila ceramah-ceramah para tokoh agama yang menyinggung atau menjelek-jelekkan agama lain sejak 5 tahun yang lalu sampai sekarang diekspos ke publik, kebayang nggak betapa gaduhnya negeri ini ?

Atau begini saja, setiap 3 bulan, cukup 1 atau 2 koleksi ceramah keagamaan yang mendiskreditkan agama lain disebarkan via medsos, bukankah sesama anak bangsa akan makin mengentalkan dan mematrikan perasaan ketersinggungan dan kebencian satu sama lain dan menganggap yang lain sebagai ancaman ?

Tentang video UAS yang menyinggung SALIB, terus terang saya justru penasaran dengan identitas pengunggahnya, motif serta jejaringnya. Sebab apa ? sebab ceramah dalam video tersebut sudah terjadi sekitar 3 tahun yang silam. Kenapa baru diviralkan sekarang ? Sebagaimana statemen saya di atas, bagaimana jika nanti bermunculan video-video sejenis dari tokoh-tokoh agama lain yang mungkin peristiwanya sudah terjadi 5,4,3,2 atau 1 tahun yang lalu ? Apakah kita akan menjerat mereka semua dengan pasal penistaan/penodaan agama ?

Kegaduhan ini harus disudahi sekali dan selamanya. Hapus atau cabut pasal penistaan/penodaan agama. Biarkan agama menjadi obyek kritik, diskusi dan perdebatan yang terbuka baik di kalangan pemeluknya maupun antar pemeluknya. Yang perlu digarisbawahi, silahkan berdebat tapi jangan memberi tempat pada kebencian.

Menyinggung keyakinan dan dogma agama dalam batas tertentu harus diberi ruang yang memadai untuk memastikan agama tidak imun terhadap kritik sebab begitulah mekanisme kritik berjalan.

Tapi kami tersinggung dan sakit hati dengan ucapannya karena hal yang kami anggap sakral dihina dan dilecehkan. Silahkan mengungkapkan ketersinggungan anda. Dalam demokrasi, ketersinggungan adalah perasaan subyektif yang perlu dikelola dengan baik supaya tidak berbuah ujaran maupun hasutan kebencian. Meskipun tersinggung, tetaplah berpikir dan bertindak dengan jernih.

Koridor etisnya jelas : Jangan beri tempat pada kebencian dan hargai kemanusiaan dengan menganggap lawan kita dalam berdebat maupun berdiskusi adalah sesama kita, bukan liyan.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu Nugroho

Monday, August 19, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: