Stop Bully Bowo Tik Tok

Oleh : Afi Nihaya  Paradisa

Bisa nggak sih orang-orang dewasa ini berhenti ngebully bocah?
Kalian lupa kalau Bowo Alpenlibe ini cuma bocah 13 tahun yang sedang mencari jati diri? Kalian dulu waktu masih 13 tahun ngapain aja?

Main layangan? Petak umpet? Lari-larian di sawah? Untung belum ada internet, mana ada kesempatan untuk ngalay, lipsync, joget-joget pakai direkam, atau nge-vlog lalu upload YouTube dan yak... Viral.

Kalian cuma beda generasi. Sokrates yang hidup tahun 469 SM juga bilang anak-anak di zamannya lebih nakal dari dia. Selalu begitu.

Sejelek-jeleknyo Bowo di mata kalian, dia cuma bocah yang kebetulan punya ribuan fans sesama bocah karena minat mereka sama. Udah gitu doang.

Bowo dibully cuma karena nyebelin doang, cuma karena joget dan nari-nari itu kalian anggap goblok, tolol, gak bermoral, merusak, pembodohan ke generasi muda. Tapi dengan logika yang sama, kenapa pertunjukan dangdut seronok dan semacamnya masih dipelihara?
Pembodohan sejati adalah ketika masuk sekolah nyogok, bikin SIM nembak, ditilang polisi terus ngasih uang damai, kalau janjian ngaret nggak tepat waktu.

Lebih nggak bermoral mana, joget atau ngebully orang? Mikir!

Yang dia lakukan emang nggak ada faedahnya. Tapi kontennya gak pernah tuh berisi ejekan, kata-kata kotor, penghinaan, mengajak ke narkoba, seks bebas, provokasi, atau mempengaruhi anak-anak lain buat jadi radikal terus ngebom kafir.

Kalau nganggur nggak ada kerjaan sedangkan energi kalian berlebih, urusin tuh hal yang lebih penting dan lebih butuh diurusin kayak anak-anak SD yang udah pinter bersikap diskriminatif pada lain agama atau etnis Cina.
Waktu kita habis buat ngurusin bocah joget, jadinya ada ratusan keluarga berangkat ke Suriah aja nggak tahu.

Yang bikin orang-orang sebel banget sama Bowo itu kan beberapa screenshot status fansnya yang ngaku rela jual ginjal, keperawanan, sampe jadiin Bowo sebagai Tuhan.
Tapi selidiki lagi. Jangan-jangan itu orang iseng doang biar Bowo tambah dibenci? Kalau itu beneran fans, pasti tahu dong kalau hal konyol kayak gitu justru bikin idolanya makin dibully.

Kecuali fans yang idiot, ya. Seperti fans John Lenon yang menembak mati pelantun lagu "Imagine" itu. Apes banget kalau punya spesies idiot berwujud fans seperti dia.

Bowo minta tarif 80 ribu buat foto bareng, apa dia maksa? Kan nggak. Dia cuma nawarin sesuatu. Yang perlu dibina itu anak-anak kalian, kenapa mereka sampai rela untuk bayar mahal cuma buat foto sama bocah nggak jelas. Kalian yang gagal mendidik anak untuk bijak membelanjakan uang, kok yang disalahin "penjualnya"?

Kalau kalian udah bener dan sukses dalam mendidik anak, coba jelaskan gimana bisa mereka sampe ngefans sama Bowo?

Sebelum periksa anak orang, periksalah anak sendiri.

Diakui atau nggak, Bowo itu pinter nyari duit. Ada aja akalnya. Dia bukan contoh dari orang-orang tua yang nggak bisa memanfaatkan teknologi jadi ya akhirnya ngebully mereka yang bisa. Realita itu pahit, Pak, Bu.

Padahal, semakin dibully, dibicarakan, justru makin viral.
Makanya... Tuhan kasih otak itu buat dipake.
Biarkan Bowo tenggelam seperti aplikasi TikTok yang sudah diblokir Kemkominfo.

Apa sih untungnya ngebully? Biar Bowo sadar gitu? Oh, big no. Ada yang namanya inbox dan chat pribadi untuk ngasih tahu orang. Jangan kebanyakan alasan. Kalian ini cuma kombinasi dari nganggur dan ikut-ikutan yang lagi rame.
Cukup ya. Untuk satu hal ini kalian udah keterlaluan. Bocah ingusan dikasih tekanan sebegitu banyak, kalau dia depresi terus bunuh diri gimana? Ngaku orang beragama, bermoral, tapi kok bangga jadi sebab sesama manusia untuk bunuh diri?
Kalau itu beneran kejadian, tau nggak, kalian itu PEMBUNUH.
Sebagai orang yang tergerak dalam bidang edukasi kesehatan mental dan psikologi, aku menyayangkan tindakan kalian yang dianggap kecil tapi dampaknya bahaya.

Biar aja kalau inti tulisan ini disalahpahami, seperti dianggap bela Bowo dan sebagainya, atau malah pembully bowo berbalik bully aku.
Aku maklumi karena ngerti tingkat pemahaman literasi di Indonesia seperti apa.

Ingat, kalian itu orang dewasa. Beberapa udah tua bahkan udah bau tanah. Dan yang kalian jadikan obyek bully tiap hari itu bocah.

Nggak perlu setiap yang rame itu diikutin, merasa ketinggalan kalau belum ikutan bully. Padahal baruuu aja Idulfitri.

Minal formalitas wal basabasi.

- Afi Nihaya Faradisa
.
.
.

*) Sengaja menulis dengan bahasa yang tidak baku, dibumbui pembawaan dan gaya yang jauh berbeda dari sebelumnya
 
Sumber : facebook Afi NP
Wednesday, July 4, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: