Status Ima, Staf Ahok, yang Sangat Mengharukan

REDAKSIINDONESIA-Tak sedikit yang merasa sedih dengan kekalahan Basuki Tjahaja Poernama (Ahok) dalam Pilkada DKI 19 April lalu. Apalagi Ahok kalah bukan karena kinerjanya yang buruk, namun karena diserang dengan politik kotor menggunakan senjata isu SARA, menyangkut ras dan agama.

Sangat menarik menyimak bagaimana orang-orang itu mengungkapkan rasa sedih dan membayangkan Jakarta setelah ditinggal Ahok. Salah satunya seorang staf Ahok, Ima, yang menuliskan perasaan dalam statusnya di media sosial. Ima disebut-sebut sudah mendampingi Ahok 6 tahun lamanya. Begini bunyi lengkapnya:

 
 
"Akhirnya Pilkada selesai juga. Perjuangan yang sangat panjang, kandidat pun sudah terpilih menurut perhitungan cepat. 
 
Kecewa, sedih dan plong itulah yang gue rasakan saat ini. Bukan semata karena Basuki Djarot kalah, tetapi gue menyayangkan no 2 kalah karena SARA yang terus dihembuskan di tiap sholat jumat dan pengajian2 yang ada di Jakarta dan malah di seluruh Indonesia. Basuki Djarot baru bekerja 2 tahun (meneruskan kepemimpinan Pak Jokowi) sudah jelas sekali terlihat hasilnya. Survei kepuasan pada kepemimpinan Basuki Djarot pun 75%. dimana2 kalau survei udah setinggi itu gak akan mungkin ada yang berani lawan. Tapi calon no 2 memang memiliki banyak “kekurangan” yakni (Kristen+keturunan+anti korupsi). Kalo soal program, lawan tinggal copas program Badja (tinggal tambahin plus aja, soal bakal masuk APBD atau ngga mah belakangan yang penting kampanye dulu).
 
Hari H pada penghitungan cepat pilkada, jam 10 gw udah dapat info exit poll no 2 dibawah no 3. Pada saat yang bersamaan harus ke Pullman dimana disitu ada Bapak (Pak Ahok) Setelah perhitungan cepat mulai terlihat, teman-teman sudah pada mengeluarkan air mata, gw gak sanggup apalagi kalo lihat si Bapak. Tapi Bapak terlihat tegar dan bercanda seolah mengisyaratkan "hei jgn pada nangis, gw aja santai kok". Namanya hati ga bisa boong, tiap liat muka Bapak baik itu langsung ataupun di socmed nih mata tetep aja ngembeng. Campur aduk perasaan saat itu tapi kembali ingat omongan Bapak “Tuhan yang kasih, Tuhan juga yang ambil”.
 
Besok paginya, si Bapak harus menjalani sidang tuntutan Jaksa mengenai kasus “penodaan agama” dimana pada masa kampanye pilkada ramai sekali aksi 411 dan 212. Belum ada putusan hukum tetapi sudah menghakimi massal dengan aksi bela Al Quran akibat dari fatwa yg dikeluarkan tanpa adanya tabayun dr lembaga yang mengeluarkan. Tapi hasilnya? Pak Ahok JELAS TIDAK TERBUKTI menista agama seperti yang dituduhkan orang-orang yang sudah keras hatinya tidak mau tabayun terlebih dahulu. Saksi2 yang dihadirkan pelapor pun saksi yang tidak ada ditempat kejadian perkara, hanya melihat potongan video buni yani saja. Ah andai saja putusan itu terjadi sebelum hari pencoblosan, mungkin akan beda hasil pilkadanya. Tapi ini memang sudah jalannya. Yang pasti Ahok BUKAN penista agama. 
 
Di perjalanan menuju tempat persidangan, Bapak sempat-sempatnya menulis di grup kerjaan kami. Beliau pesan agar semua kebijakan kepada orang miskin terus berjalan sampai pencatat dasawisma harus tetap di perhatikan nasibnya termasuk RT RW agar dinaikkan gajinya (RT RW tau sendiri gimana ke bapak, C6 aja diribetin kalo ketauan dukung no 2) 
Cry! bapak masih tetap yang dipikirinya orang-orang miskin, orang-orang yang memusuhinya. Bapak pikir jgn sampai kebijakan ke warga miskin yang sudah jalan terhenti oleh gubernur yang baru. 
 
Kalo dijalanan gue suka nyesek sendiri ngeliat Pasukan Orange, jalanan bersih, MRT, LRT, Jalan Layang sedang dibangun, taman yang rapih, RPTRA, anak miskin sekolah yang sudah tdk pakai sepatu butut lagi, kali yang bersih, transjakarta model eropa semua, orang sakit gak bayar dll. Yang ada dalam pikiran gw “Bapak tiap hari tiba di Balkot 7.30 melayani pengaduan warga lanjut kerja sampai malam minimal jam 7 baru pulang, weekend datang kondangan ke warga. Gak doyan uang pula. Ini warga Jakarta kurang bersyukur apa gimana, dikasih pelayan sebegini bagusnya malah terus di fitnah dan di demo”. Tapi gw paham ini politik. Susah jadi orang bener. 
 
Yang gue sesalkan disini Basuki Djarot kalah bukan karena kerjanya tidak benar (kepuasan 75%, pemilih 43%), tetapi karena hantaman SARA terus menerus yang tidak pernah berhenti sampai dengan hari pencoblosan. Yang gw kaget banyak jg yang sedih Basuki Djarot kalah bukan hanya dari para pendukung justru dari orang-orang yang mencoblos Anies dan golput, alasan mereka (nyoblos Anies biar ngga dosa dan mikir pasti Basuki sudah pasti menang). Mereka tidak mau dosa tetapi mau Pak Ahok terus menjabat asal orang lain yang mencoblos Basuki Djarot. Al Maidah works! semoga negara ini tidak mundur hanya karena SARA. 
 
Dan selamat untuk warga Jakarta dengan gubernur barunya 6 bulan lagi, tagih terus janji-janji kampanye no 3. Jangan karena seiman terus gak ditagih apa-apa he he. Rumah tanpa DP dan Tolak Reklamasi terutama yg menjadi gong kampanye mereka. Tenang, saya gak akan nagih rumah tanpa DP karena banyak yang baper kalo bahas ini terutama pendukung dr pemenang. Beberapa gw lihat di socmed ada tulisan "loe gak pilih anies ngapain nagih dp 0%". Hehe mgkn blm paham kl 6 bulan lg Anies udh jadi gubernur semua bukan yg dukung saja. Oh iya satu lagi selamat buat konsultan Anies-Sandi yakni kang EEP Syaefulloh ( googling aja kalo ngga kenal: ‘’Eep, Masjid”)
 
Untuk Bapak dan Pak Djarot, yang cinta Bapak berdua banyak sekali bisa dilihat dari tamu-tamu yang datang ke balaikota tiap pagi. Sampai kalah pun masih banyak yang datang hanya utk sekedar foto atau memberi dukungan. 6 bulan sisa terakhir di Balaikota akan terus kebut kerja demi meninggalkan warisan yang bermanfaat untuk warga Jakarta. Perjalanan masih panjang dan jangan pernah lelah melayani rakyat. Terima kasih sudah menetapkan standar tinggi pola kerja Gubernur DKI!!!! Semoga yang baru tidak tertinggal mengejarnya. 
 
you win in my heart, you win our hearts"
 
(Dari berbagai sumber)
Sunday, April 23, 2017 - 22:00
Kategori Rubrik: