Sri Mulyani, Wonder Women Economic of Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Faisal Basri

Saya ingat, dalam sebuah diskusi informal dengan Sri Mulyani, saya mengatakan beruntung sekali langkah itu diambil sebelum Trump menjalankan kebijakan pemotongan pajaknya dan sebelum the Fed merencanakan untuk mempercepat kenaikan bunga. Bila tidak, kekuatiran akan fiskal yang tak kredibel akan mendorong arus modal keluar jauh lebih besar dibanding beberapa waktu lalu.

Tentu kita harus mencatat: ke depan kebijakan fiskal harus bergerak lebih dari sekedar penopang stabilitas makro, itu harus menjadi instrumen countercyclical dalam perekonomian. Namun ia membutuhkan tahapan.

Kita sudah mulai melihat arah itu sekarang. Pertumbuhan ekonomi 2018 berpeluang untuk tumbuh lebih baik dibanding tahun 2017. Fondasi makro yang baik membantu hal ini.

Kebijakan fiskal procyclical adalah saat pemerintah memilih untuk meningkatkan belanja negara dan mengurangi pajak ketika ekonomi sedang baik, namun mengurangi belanja dan meningkatkan pajak saat resesi.

Sebaliknya, kebijakan fiskal countercyclical, pemerintah mengurangi belanja dan meningkatkan pajak selama ekonomi sedang baik, dan mengurangi belanja dan memotong pajak selama resesi.

Mungkin karena hal ini, Sri Mulyani pantas dinobatkan sebagai menteri terbaik dunia versi World Government Summit.

Namun bagi saya, Sri Mulyani melangkah lebih jauh dari itu.

Ia tak hanya melakukan tugas utama Menteri Keuangan: memastikan kesinambungan fiskal dan menggunakan fiskal sebagai instrumen untuk pertumbuhan, stabilitas dan alokasi anggaran untuk mencapai target pembangunan seperti mengurangi kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

Sri Mulyani bergerak lebih jauh. Dan hal ini dilakukannya jauh sebelum ia mendapatkan penghargaan ini.

Bagi saya kontribusi yang luar biasa dari Sri Mulyani adalah pembangunan institusi di Kementerian Keuangan. Sayangnya tak banyak media lokal atau studi di Indonesia dibuat tentang ini.

Tahun 2015 saat saya menjadi Senior Fellow di Harvard Kennedy School, saya diundang oleh Princeton University untuk memberikan ceramah tentang Taper Tantrum. Tetapi yang menarik adalah mereka meminta saya juga untuk menjadi pengajar tamu disalah satu kelas dan membagi pengalaman reformasi di Kementeri Keuangan.

Princeton University memang menulis sebuah studi kasus tentang reformasi di Kementerian Keuangan berjudul: Changing a Civil Service Culture: Reforming Indonesia Ministry of Finance: 2006-2010

Saya cukup beruntung karena terlibat didalam proses reformasi itu, sebagai Staf Khusus Menteri Keuangan ketika itu. Bagi saya, ini adalah kontribusi Sri Mulyani yang luar biasa.

Mereka yang memiliki interaksi yang cukup intens dengan Kementerian Keuangan akan melihat perbedaan yang fundamental sebelum dan sesudah tahun 2006.

Pembenahan institusi dilakukan secara menyeluruh. Ditata dengan sabar, tidak mudah. Termasuk upaya pemberantasan korupsi di bea cukai dan pajak. Masih jauh dari sempurna, namu upaya perbaikan dilakukan. Upaya pelayanan ditingkatkan. Tentu, hasilnya belum sepenuhnya memuaskan.

Bahkan di banyak sisi kita masih melihat berbagai kelemahan. Namun kita memang melihat Kementerian Keuangan yang berbeda setelah reformasi institusi dimulai pada tahun 2006.

Saya menyaksikan bagaimana proses reformasi institusi dilakukan dengan gigih. Tak mudah, kadang menimbulkan rasa frustrasi. Kerap kali Sri Mulyani juga tersulut emosinya.

Ketika saya menjadi Menteri Keuangan di periode 2013-2014, proses ini dilanjutkan, dan saya merasakan bahwa tugas Menteri Keuangan menjadi lebih mudah, karena -- walau masih jauh dari sempurna -- Kementerian Keuangan sudah memiliki sistem yang lebih baik dalam hal standar, prosedur, evaluasi kinerja dan sebagainya.

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Tuesday, February 20, 2018 - 00:00
Kategori Rubrik: