Sri Mulyani, Tokoh Cerdas Pemberani

ilustrasi
Oleh : Tito Gatsu
 
Saya memperhatikan Sri Mulyani ketika awal reformasi , ketika dia menjabat sebagai ketua LPEM FE UI dan sering menjadi pengamat politik di TV dan Saya Juga sering membaca tulisannya di media. Tahun 1998 -2001 adalah Masa keemasan orang mengeluarkan pendapat dan belajar Karena Pers begitu terbuka .
Pada saat Reformasi ( saat Itu Pemerintahan dipimpin Presiden B.J. Habibie ) dan mentri Keuangannya adalah Prof. Bambang Subianto seorang Teknokrat (lulusan Teknik Kimia ITB) yang kemudian menjadi Doktor ahli keuangan dan menjadi peneliti di LPEM FE UI dan guru Besar FE UI .
Sri Mulyani justru gencar melakukan kritik terhadap mantan dosen dan atasannya Itu dengan sikap Indonesia yang tunduk dengan IMF dan saat Itu membentuk BPPN, saat Itu Sri Mulyani menentang pendirian BPPN . dan gencar mengkritisi IMF yang dianggapnya sebagai sumber masalah jatuhnya ekonomi Indonesia pada tahun 1998.
Saya ingat betul pernyataannya yang kurang lebih seperti ini, bahwa tidak mungkin IMF memberikan bantuan dana tanpa ada satu proses yang menguntungkan kedua belah pihak dan jika ada kegagalan dalam pembiayaan suatu negara tidak bisa dihukum negaranya saja tapi harus ada Penelitian yang lebih transfaran mengenai dasar kolateral dan tujuan pemberian hutang tersebut jadi Kita harus melihat setiap kontrak yang ditanda-tangani masing-masing pihak.
Tentu pernyataan ini menjadi sangat heboh Karena sebelumnya belum pernah ada seorang yang berani mengkritik seperti Itu terlebih pada saat Itu para politisi yang menjadi mitra IMF masih menjabat dijajaran kabinet Habibie.
Ani Menganggap IMF mengikat Indonesia dengan perjanjian yang absurt bagaimana IMF menganggap Indonesia sebagai negara yang bangkrut dengan sebelumnya fihak-fihak asing ( yang tergabung dalam IMF) mengeruk seluruh kekayaan Alam Kita untuk negara-negara kapitalis tanpa menghargai apa yang sudah mereka peroleh dari Indonesia.
Dan kenapa kita harus tunduk pada IMF padahal selama ini mereka menikmati kemakmuran rakyat Indonesia , begitu kira- kira yang saya sampaikan dengan Bahasa yang lebih mudah kita mengerti .
Bahkan Ani rajin mengkritisi setiap bantuan Amerika yang masuk ke Indonesia termasuk USAID.
Presiden Habibie malah merangkul Ani , nama panggilan untuk Sri Mulyani menjadi staf ahli mentri keuangan untuk melakukan penelitian mengenai revaluasi asset negara.
Tahun 2001 Ani justru dirangkul sebagai konsultan untuk USAID (US Agency for International Development)
Atlanta, Georgia, untuk memperkuat otonomi di Indonesia. Ia juga mengajar dalam ekonomi Indonesia sebagai professor di Andrew Young School of Policy Studies di Georgia State University.
Bahkan Ani dirangkul oleh IMF tahun 2002 sampai 2004 ia menjabat sebagai direktur eksekutif IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara.
Pada tahun 2004, ia ditunjuk sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin Presiden SBY.
Sri Mulyani ditunjuk untuk menjadi menteri keuangan pada tahun 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Salah satu kebijakan pertamanya sebagai menteri keuangan ialah memecat petugas korup di lingkungan depertemen keuangan. Ia berhasil meminimalisir korupsi dan memprakarsai reformasi dalam sistem pajak dan keuangan Indonesia.
Tahun 2006, hanya satu tahun setelah menjabat menteri, ia disebut sebagai Euromoney Finance Minister of the Year oleh majalah Euromoney.
Pada Agustus 2008, Sri Mulyani disebut majalah Forbes sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia, yang juga sekaligus wanita paling berpengaruh di Indonesia. Saat ia menjabat sebagai Menteri Keuangan, cadangan valuta asing negara mencapai nilai tertinggi sebesar $50 miliar.
Ia mengatur pengurangan utang negara hampir 30% dari GDP dari 60%, membuat penjualan utang negara ke institusi asing semakin mudah. Ia mengubah struktur pegawai pemerintah di lingkup pemerintahannya dan menaikkan gaji petugas pajak untuk mengurangi sogokan di departemen keuangan.
Tahun 2007 dan 2008, majalah Emerging Markets memilih Sri Mulyani sebagai Asia's Finance Minister of The Year.
Pada Tahun 2010 Ani mengundurkan diri dari mentri Keuangan kabinet Presiden SBY , belum genap enam bulan setelah terpilih kembali dalam kabinet SBY periode ke 2.
Beredar isu bahwa pengunduran dirinya saat itu disebabkan oleh tekanan dari pihak lain, terutama dari pengusaha dan ketua Partai Golongan Karya, Aburizal Bakrie.
Aburizal Bakrie diduga mempunyai ketidak sukaan terhadap Sri Mulyani akibat penyelidikan terhadap penggelapan pajak dalam jumlah besar pada Bakrie Group, penolakan Sri Mulyani untuk mendukung kepentingan Bakrie terkait batu bara dengan menggunakan dana negara, dan penolakan Sri Mulyani untuk menyatakan bahwa semburan lumpur Sidoarjo, yang secara luas dipercaya disebabkan dari pengeboran oleh perusahaan Bakrie, adalah bencana alam.
Pengunduran dirinya berdampak negatif pada situasi ekonomi di Indonesia, seperti stock exchange yang menurun sebesar 3,8%. Nilai rupiah turun hampir 1% dibandingkan dolar.
Merupakan penurunan saham Indonesia yang paling tajam dalam 17 bulan. Kejadian ini disebut sebagai "Indonesia’s loss, and the World’s gain (Kerugian Indonesia, dan keuntungan dunia)".
Pada tanggal 5 Mei 2010, Sri Mulyani ditunjuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia.Ia menggantikan Juan Jose Daboub, yang menyelesaikan empat tahun masa jabatannya pada 30 Juni, mengatur dan bertugas atas 74 negara di Amerika Selatan, Karibia, Asia Timur, dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara.
Pada 27 Juli 2016, Sri Mulyani dipulangkan oleh Presiden Joko Widodo untuk kembali menjadi Menteri Keuangan. Kembalinya Sri Mulyani merupakan kejutan bagi banyak pihak dan dianggap sebagai salah satu langkah terbaik yang pernah diambil oleh Joko Widodo selama dia menjabat.
Belum setahun menjabat, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se-Asia 2017 oleh majalah Finance Asia yang berkedudukan di Hong Kong. Pemberian penghargaan tersebut dinilai karena keberhasilannya mengurangi target defisit fiskal dari yang dikhawatirkan menembus angka 3 persen menjadi 2,5 persen dari PDB. Ia juga dianggap mampu memperbaiki sistem perpajakan Indonesia lewat program pengampunan pajak (tax amnesty) yang mana realisasi pembayaran tebusannya jauh melebihi proyeksi Bank Indonesia.
Di era Sri Mulyani, Pemerintah Pusat untuk pertama kalinya dalam sejarah memperoleh opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun Anggaran 2016 dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Sri Mulyani juga menjadi sorotan dengan berhasil menagihkan pajak perusahaan raksasa Google dan Facebook.
Pada tanggal 11 Februari 2018 dalam acara World Government Summit di Uni Emirat Arab, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister Award). Penghargaan diserahkan oleh Sheikh Mohammed bin Rashid yang merupakan Wakil Presiden UAE, Perdana Menteri dan Penguasa Dubai.
Sri Mulyani adalah tokoh yang cerdas, berani dan Tak kenal kompromi dia Juga tak Pernah mau terikat dalam sebuah Partai politik manapun , saya menganggap beliau adalah seorang professional hebat yang sangat mencintai negaranya.
Dengan Sri Mulyani Kita harus optimis Indonesia menjadi Negara maju dan semua reformasi di bidang keuangan terus dia lanjutkan sampai Hari ini
Yang fenomenal adalah keberaniannya bersama Presiden Jokowi melakukan revaluasi asset negara.
Apabila orang melihat perkembangan ekonomi Indonesia sebenarnya banyak kemajuan yang sudah dicapai, salah satu langkah yang paling fenomenal ternyata adalah revaluasi aset negara.
Seperti kita ketahui dimanapun didalam pengetahuan ekonomi atau keuangan berpedoman kepada neraca, didalam alur pengelolaan negarapun demikian, terlebih di era global ini tentunya indikator sehat atau tidaknya suatu negara dapat dilihat dari neraca keuanngannya
Sejak jaman Orde Baru hingga era pemerintahan SBY , kekayaan negara berupa aset ternyata tidak pernah dibukukan, sehingga penyimpangan dan kesewenang-wenangan penggunaan asetpun merajalela, betul kata Prabowo Subianto ketika pada kampanye Pilpres 2019 sebagian besar aset yang seharusnya dimiliki oleh rakyat Indonesia hanya dikuasai oleh 1% rakyat Indonesia itulah kenyataan yang terjadi dan inipin yang membuat saya menjadi cukup bersimpati dengan beliau berani membuka kebenaran.
Sri Mulyani memang sempat mengatakan bahwa pada era Orde Baru administrasi keuangan negara memang tidak tertata dengan baik bahkan alokasi dan penggunaan Hutang luar Negeripun banyak yang tidak jelas, bisa dibayangkan selama itu pembiayaan APBN hanya mengandalkan hutang serta bagi hasil dari setiap investasi yang masuk ke Indonesia dari luar negri makanya sampai akhir pemerintahan Orde Baru kita tidak punya kemandirian didalam membangun industri berteknologi modern, seperti otomotif dikuasai Jepang dan Eropa, kemudian Teknologi Informasi, setelah Fairchild kita tolak malahan tumbuh dan memperkokoh ekonomi Malaysia.
Tetapi kita tidak akan membahas tentang itu.
Aset Negara yang tercatat pada tahun 1998 hanya mencapai kurang dari 200 triliun (nilai dolar bila dirupiahkan dengan nilai sekarang) , banyak aset dan tanah negara yang dikuasai swasta dan perorangan dan jika dikuasai oleh BUMN pun tidak tercatat dengan baik. Sekaligus ini menjadi jawaban dari pertanyaan saya selama ini, mengapa Indonesia yang begitu kaya raya bisa dilanda krisis? tidak mampu membayar hutang, bahkan mereskedul hutang sekalipun sampai ada aset yang terjual ke luar negri.
Bisa dibayangkan saat itu, Presiden ke-2 Soeharto yang lengser di Mei 1998 meninggalkan utang Rp 551,4 triliun atau ekuivalen US$ 68,7 miliar. Saat itu, rasio utang mencapai 57,7 persen terhadap PDB.
Pemerintahan selanjutnya yang dipimpin BJ Habibie (1998-1999). Di periode 1999, total outstanding utang Indonesia mencapai Rp 938,8 triliun atau setara dengan US$ 132,2 miliar. Rasio utang membengkak jadi 85,4 persen dari PDB.
pada Juli 2018 sebesar Rp 4.235,02 triliun. Angka itu meningkat namun rasio utang pemerintah terhadap PDB tercatat 29,74%
Artinya pada tahun 1998 dengan hutang senilai Rp. 551,4 Trilyun saja Indonesia dilanda krisis, berarti banyak banyak sekali potensi pendapatan yang hilang atau tidak menjadi pendapatan Negara karena PDBnya pun rendah sekali. Tapi mungkin masalah itu tidak akan kita bahas disini.
Teman saya ini bersama-sama dengan Sri Mulyani yang ketika itu masih menjadi akademisi mencatat semua potensi aset negara yang masih dikuasai pihak ketiga, diindikasikan ada lebih dari 20.000 Trilyun yang bisa diselamatkan, bahkan pada akhir tahun 2020 ditargetkan revaluasi aset sebesar 13.000 T... Wow angka yang luar biasa
Sama dengan sebuah perusahaan, indikator kemampuan keuangan sebuah negara adalah terletak pada komponen di Neraca sebelah Debet atau aset, karena aset itu bisa menjadi sumber pendapatan dan menjadi instrumen keuangan baik untuk mendapatkan pinjaman atau menjual obligasi pada pasar saham. Bahasa Kerennya angka yang menunjukan kekayaan suatu negara
Pada saat ini Kementerian Keuangan mencatat total aset negara mencapai Rp5.728,49 triliun pada 2018. Aset tersebut terdiri dari Barang Milik Negara (BMN) yang tersebar di Kementerian/Lembaga (K/L). Jumlah itu melesat tiga kali lipat dari Rp1.538,18 triliun selama kurun waktu 2007-2018.
Pemerintah telah melakukan perhitungan kembali (revaluasi) terhadap 945.460 item BMN yang diperoleh sejak Indonesia merdeka hingga Desember 2015. Untuk aset yang diperoleh pada 2016 dan 2017, harga perolehan masih dianggap aktual. Pada akhir tahun 2020 diperkirakan revaluasi aset mencapai 13.000 T.
Revaluasi aset tersebut belum termasuk pengembalian uang pemerintah Indonesia yang ada di luar negri melalui perjanjian MLA dengan Swiss yang katanya mencapai lebih dari 10.000 Trilyun.
Bagaimana kita tidak optimis menjadi negara maju selama pengelolaan negara ada ditangan seorang profesional, jujur, akuntabel dan transparan tidak perlu dikhawatirkan karena tidak ada ruang lagi bagi koruptor dan para perampok uang, negara punya keleluasaan. Pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi pasti bisa kita nikmati dimasa yang akan datang.
Oleh karenanya saya bangga dengan Jokowi dan ibu Sri Mulyani yang mempunyai keberanian untuk merevaluasi aset negara walaupun musuh yang dihadapainya luar biasa yaitu para penguasa aset yang masih belum rela untuk melepaskannya tentunya para pengusaha yang mapan dimasa lalu juga para pemodal asing .
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu .
 
Friday, September 25, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: