Spiritualitas Sosial

ilustrasi
Oleh : Efron Bayern
Seorang mantan penguasa negara sibuk membangun museum pribadi secara megah di tempat kelahirannya. Ia memberi nama museum itu dengan nama dirinya dan istrinya. Di tengah masa pandemi yang masyarakat di daerah itu sangat terpukul dengan deraan ekonomi makin meradang ketika mengetahui penguasa daerah mengalirkan dana pembangunan museum sebanyak Rp9 miliar. “Kami butuh makan, bukan museum.” protes masyarakat.
Hari ini adalah Minggu I masa Pra-Paska. Bacaan Injil Minggu ini secara ekumenis diambil dari Markus 1:9-15 yang didahului dengan Kejadian 9:8-17, Mazmur 25:1-10, dan 1Petrus 3:18-22.
Bacaan Injil Minggu ini terdapat tiga adegan utama. Adegan pertama tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes (Pembaptis). Tampaknya penulis Injil Markus hendak menyampaikan masa persiapan pelayanan Yesus yang disimbolkan dengan pembaptisan oleh Yohanes. Ia hendak mengungkapkan beberapa hal penting tentang Yesus sehingga pembaca Kitab Injil mengetahui siapa Yesus yang akan memula pelayanan-Nya di Galilea. Dalam peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes penulis Injil hendak menyampaikan bahwa Allah memberitahukan kepada Yohanes Pembaptis bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang dikasihi-Nya dan yang kepada-Nya Allah berkenan.
Adegan kedua memerikan Roh memimpin Yesus ke padang gurun. Dikisahkan Yesus tinggal selama 40 hari. Di padang gurun Ia dicobai oleh iblis. Dalam Injil Markus tidak ada dialog antara Yesus dan iblis seperti halnya kisah di dalam Injil Matius dan Lukas. Ia tinggal di sana di antara binatang-binatang liar. Penulis Injil Markus merujuk nubutan Nabi Yesaya mengenai Raja Damai yang akan datang. Pada kedatangan Raja Damai binatang-binatang liar hidup selaras bersama dengan manusia (Yes. 11:6). Penulis Injil Markus hendak menyampaikan kepada pembaca tentang Anak Allah yang seperti apakah Yesus itu. “Empat puluh hari di padang gurun” (ay. 13) sangat bolehjadi merujuk “empat puluh tahun di padang gurun” yangg dialami oleh bangsa Israel (Ul. 8:2). Penulis Injil Markus tampaknya mau menyampaikan bahwa Yesus adalah Israel yang baru. Seperti halnya Israel Lama dicobai oleh Allah di padang gurun selama 40 tahun (Ul. 8:2), sedang Yesus Sang Israel Baru tinggal 40 hari di padang gurun dan dicobai oleh iblis (Mrk. 1:13). Israel Lama tidak berpegang pada perintah Allah, Yesus Sang Israel baru berpegang pada perintah Allah. Israel Lama adalah anak Allah yang tak taat, Yesus Sang Israel Baru adalah Anak Allah yang taat seperti tersirat dalam frase “dan malaikat-malaikat melayani Dia”.
Adegan ketiga mengisahkan akhir kiprah Yohanes (Pembaptis) sekaligus awal pelayanan Yesus. Akhir dan awal ini juga sejajar dengan yang dikisahkan oleh penulis Injil Matius dan Lukas. Akhir kiprah Yohanes dan awal pelayanan Yesus di Galilea seperti tertulis dalam Injil Markus 1:14-15: Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Memberitakan Injil di sini bukanlah menyiarkan agama, melainkan melayani masyarakat dengan menegakkan keadilan, mengembangkan kebebasan, berbelarasa, meratakan kesejahteraan sosial, dan memberdayakan masyarakat pinggiran.
Dari bacaan di atas saya hendak belajar mengenai spiritualitas Yesus. Spiritualitas dari kata Latin “spiritus” yang dapat berarti roh, sukma, jiwa, ilham, kesadaran diri, nafas hidup, keberanian, sikap, dan juga perasaan. Spiritualitas bukanlah agama dan juga tidak identik dengan beribadah secara khusyuk, bertapa, berziarah, dlsb. Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Berkembang” mencoba menyederhanakan takrif spiritualitas sebagai riak getaran insani yang timbul karena merasakan sentuhan halus dari Yang Ilahi.
Belajar spiritualitas Yesus berarti belajar mengenai bentuk intensitas hubungan-Nya dengan mintakat (zone) Roh yang merupakan mintakat makna paling hakiki yang menjadi sumber jatidiri, kehidupan, dan karya-Nya. Kisah Yesus di padang gurun mau menampilkan perjuangan spiritual Yesus pada awal Ia mencari visi dan menemukan panggilan hidup-Nya. Dikatakan dalam teks “Roh memimpin Yesus ke padang gurun” mau menyatakan satu hal bahwa Yesus memiliki jalinan yang kuat dengan mintakat Roh yang memberi-Nya pelihatan-pelihatan dan kuasa-kuasa, yang dicari dan diterima-Nya dari Roh melalui ujian-ujian fisik dan batiniah yang berat lagi penat di padang gurun.
Spiritualitas Yesus tidak berhenti pada diri-Nya sendiri. Di tatanan masyarakat Yahudi pada masa itu dikenal dengan sistem puritas, yakni pemberian batas-batas, pemahaman-pemahaman, takrif-takrif, dan penggolongan peringkat sosial agar tatanan sosial terjaga. Allah yang kudus diyakini hadir dan memerintah di dalam Bait Allah yang dibangun di Yerusalem. Bait ini dan Yerusalem adalah tempat-tempat paling kudus dari segala tempat lain di seluruh Tanah Israel (bahkan di seluruh dunia). Makin jauh dari Bait Allah dan kota Yerusalem, makin berkurang kekudusannya, sampai pada akhirnya terdapat tempat-tempat yang sama sekali najis atau cemar, khususnya tempat-tempat di luar Tanah Israel di kawasan bangsa-bangsa lain.
Spiritualitas Yesus melawan tatanan tersebut. Tindakan Yesus membangun dan memasuki persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang yang najis dan terpinggirkan serta makan bersama dengan mereka tanpa memakai meja sehingga terbentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter. Hal ini merupakan perwujudan dari keyakinan dan pewartaan-Nya bahwa Kerajaan Allah adalah kerajaan yang merobohkan hirarki sosio-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas. Kerajaan Allah ada di antara orang-orang marginal, bukan di Bait Allah atau Yerusalem saja.
Berkaca dari spiritualitas Yesus harusnya beragama melahirkan spiritualitas sosial. Yang kita lihat saat pandemi ini justru melahirkan fundamentalisme. Pada saat bagian terbesar gereja menghentikan melayankan ibadah ragawi, muncullah akun-akun Youtube buatan pendeta-pendeta untuk menyampaikan khotbah-khotbah fundamentalistik. Bahkan penonton/pendengar ditakut-takuti. “Segera bertobat, maut secara nyata menjemput kamu kapan saja.” kata sang pendeta. Pada bagian akhir pendeta berpesan, “Tekan like, subscribe, dan bagikan kanal ini kepada rekan-rekan dan kerabat anda”. Orang Jawa bilang, “Cèn jinguk tenan!”
Masa pandemi dan Minggu pertama Pra-Paska ini jadikanlah momentum gereja untuk membangun spiritualitas sosial lebih kukuh lagi mumpung gereja tidak disibukkan dengan ibadah ragawi. Pandemi yang sudah berlangsung setahun bukan untuk membuat gereja (pendeta) makin sombong sebagai otoritas pemberi keselamatan seperti yang dipraktikkan oleh gereja pada abad-abad pertengahan. Pada zaman itu warga gereja yang taat membayar tithe (persepuluhan), ketika meninggal, ia dikubur di halaman gereja agar terjamin masuk surga.
Spiritualitas sosial seperti apa seharusnya? Tentu saja spiritualitas sosial seperti yang Yesus lakukan dengan membangun dan memasuki persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang yang najis dan terpinggirkan. Dalam masa pandemi ini tentu saja banyak orang yang kehilangan pekerjaan sehingga menderita kekurangan gizi. Belum lagi para korban banjir akibat intensitas curah hujan tinggi belakangan ini. Yesus berkiprah pertama kali mengabarkan Injil Kerajaan Allah di Galilea bukan di Bait Allah dan Yerusalem, haruslah dipahami bahwa Kerajaan Allah tidak boleh dipenjara di dalam gereja, melainkan diamalkan nyata di luar tembok-tembok gereja.
Masyarakat korban pandemi dan korban banjir tidak membutuhkan nasihat atau khotbah-khotbah dari gereja (pendeta) dan tidak bisa makan dari cat warna-warni hiasan atap rumah atau bentang dan kolom jembatan. Mereka butuh bantuan nyata. Masa Pra-Paska adalah momentum gereja meningkatkan pelayanan secara serbacakup. Apalagi kasih, yang tak terpisahkan dari ajaran Kristen, dalam bahasa Indonesia disinonimkan dengan agih, bagi, beri (Tesamoko, hlm. 320). Kasih adalah agih (to distribute), bagi (to share), dan beri (to give). Indah, bukan?
Quote of the day: “Don't fight for their attention. If they really care, you shouldn't have to.”
Wassalam,
MDS
21022021
Sumber : Status Facebook Efron Bayern
Sunday, February 21, 2021 - 09:45
Kategori Rubrik: