Sonya dan Ironi Pendidikan Kita

Oleh : Idris Apandi

T ulisan ini tidak bermaksud untuk ikut-ikutan membully Sonya Ekarina Sembiring Depari atau yang populer dipanggil Sonya Depari, seorang siswi yang mengaku sebagai anak anak Irjen Pol. Arman Depari, Deputi Pemberantasan Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN) saat akan ditilang polisi. Apalagi Sonya saat ini masih dalam kondisi berduka karena satu hari setelah kejadian tersebut, ayahnya meninggal.

Sonya telah mendapatkan hukuman sosial dari para netizen yang membullynya di media sosial baik berupa kata-kata, maupun gambar-gambar (meme) yang menyindirnya. Pasca kematian ayahnya, Polresta Medan meminta agar para netizen berhenti mem-bully Sonya, dan telah menghentikan kasusnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sonya beserta teman-temannya yang mengendarai sebuah mobil sedan dihentikan oleh polisi karena melanggar lalu lintas pada saat konvoi pasca selesai mengikuti UN. Bukannya, mengaku bersalah, Sonya malah menggertak Polwan yang menghentikannya dengan mengaku sebagai anak Jenderal.

 Sang Polwan pun tampak tenang, tidak ikut terpancing emosi, walau akhirnya melepaskan Sonya dan kawan-kawannya. Pasca kejadian tersebut, hashtag (#)AkuAnakJenderal menjadi trending di media sosial.

Pasca mengikuti UN, seharusnya para peserta bersyukur dan mengekspresikannya dengan cara-cara yang positif seperti sujud syukur dan segera pulang ke rumah masing-masing, bukannya dengan aksi curat-coret, dan konvoi memacetkan jalan dan melanggar lalu lintas. Selain itu, hasilnya pun belum diketahui, berapa nilai yang dicapai oleh para peserta UN.

Bagi Saya, kasus Sonya adalah adalah refleksi dari kondisi pendidikan Indonesia saat ini yang terlalu menekankan kepada aspek kognitif, dan kurang menanamkan sikap atau budi pekerti. Dari perspektif pendidikan, Sonya bukan hanya sebagai pelaku, tetapi juga korban ironi sistem pendidikan kita, yang perlu mendapatkan bimbingan, karena usianya masih remaja, masih ada kesempatan untuk berubah.

Menurut Saya, perilaku Sonya hanya sebuah potret kecil dari fenomena dimana orang-orang yang merasa dirinya adalah bagian dari anggota keluarga penguasa atau aparat hukum berlaku arogan di jalan raya karena merasa punya beking.

Coba kita perhatikan kendaran-kendaraan yang pada bagian belakangnya menempel stiker sebagai bagian dari keluarga besar organisasi atau kesatuan tertentu dari Polri/TNI, ada yang dapat bebas melenggang walau melanggar hukum.

Stiker tersebut seperti memberikan pesan kepada para polisi atau pengguna jalan lainnya, “Ini gue, jangan coba macam-macam sama gue, kalau ga mau panjang urusannya,” Bersyukur bahwa beberapa waktu yang lalu, aparat baik dari TNI maupun Polri melakukan razia terhadap kendaraan yang menggunakan sticker atau atribut kedua institusi tersebut, karena disinyalir disalahgunakan sebagai ajang gagah-gagahan dan menakut-nakuti.

Mentalitas seperti itu tidak lepas dari mentalitas feodal warisan penjajah dimana seseorang yang kaya atau berkuasa ada yang merasa lebih utama dari warga negara yang lain, sehingga bebas melanggar hukum atau bebas melakukan tindakan sewenang-wenang kepada pihak yang lemah.

Seharusnya, mereka sebagai bagian dari penguasa ataupun aparat hukum menjadi contoh teladan bagi warga yang lain, bukan sebaliknya. Misalnya, polisi mengampanyekan budaya tertib berlalu lintas, pelopor berlalu lintas, atau pemberantasan narkoba, tetapi justru banyak anggota keluarganya atau mungkin oknum polisi yang terlibat kasus pelanggaran hukum atau kasus narkoba.

Perilaku Sonya juga bagi Saya tidak berdiri sendiri. Hal ini juga merupakan dampak dari tayangan-tayangan “sampah” di TV yang memberikan contoh buruk kepada publik. Banyak sinetron atau film yang menggambarkan tentang gaya hidup individualistis dan hedonis atau pelajar atau mahasiswa.

Pergi ke sekolah atau kampus dengan menggunakan kendaraan mewah atau motor gede, melakukan tindakan kekerasan di sekolah, melecehkan guru, melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya, dan sebagainya.

Kasus Sonya harus menjadi momentum introspeksi dan kontemplasi bagi pihak-pihak yang terkait dalam pendidikan seperti orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk bersinergi mencerdaskan anak-anak bangsa.

Bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara kepribadian, sosial, dan spiritual. Bukan hanya memiliki hard skill tetapi juga memiliki soft skill sebagai bekal kehidupannya. Sonya atau anak-anak lain mungkin mereka juga melihat perilaku orang-orang dewasa yang suka melanggar hukum atau bertindak arogan. Dan cara yang paling efektif dalam mendidik adalah melalui keteladanan, bukan hanya sekedar kata-kata. ** (ak)

(IDRIS APANDI, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat)

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :chripstory.com

Friday, April 8, 2016 - 11:00
Kategori Rubrik: