Songong

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Ada banyak cara dan gaya dalam mengungkapkan perasaan dan pendapat tanpa perlu mengumbar kemarahan atau nyinyir. Tak cuma menenangkan, ia juga berkemampyan untuk menebar keindahan.

Tulisan di bawah ini khas ibu-ibu. Bercerita tentang anaknya namun menyentuh perasaan para orangtua dan juga penguasa.

Meski kritiknya nonjok ulu hati, Bekti Wartanti tidak menarik garis yang memisah KITA. Ya, saya perlu menggarisbawahi kata'kita'. Setahun terakhir ia lenyap dari peradaban.

Tak ada kecebong, tak ada bani daster, tak ada bani serbet. Kita menolak untuk dikotak-kotakkan dengan label.

Mari Bebaskan diri.

Dulu ketika anakku yang besar itu masih kecil, dan baru pindah ke Betawi, beberapa kali dibully teman barunya yang sedikit lebih tua umurnya. Penyebabnya biasanya, anakku punya mainan baru. Sedangkan temannya hampir tidak pernah dibelikan oleh ibunya.

Aku dan anakku type orang yang suka berbagi kesenangan dengan orang lain. Tetapi di saat yang sama aku juga sangat tidak suka dengan orang yang serakah, apapun alasan keserakahan itu. Tanda tanda keserakahan itu aku amati dari seringnya anak itu merebut mainan anakku, bahkan sebelum anakku mulai mencoba mainan barunya. Yang menyedihkan, anak itu sering mengajak anak anak lain untuk merebut mainan dengan mengatai anakku, “elu anak orang kaya, ngapain tinggal di sini”. Anakku bengong saja karena tidak tahu kata kata itu artinya apa. Yang dia tahu hanyalah ayahnya kerja kerja kerja.

Ada satu saat ketika aku membelikan laptop laptopan. Anak itu main ke rumah, dan seperti biasanya dia mulai merebut mainan anakku sambil mengatakan “sini sini, gue bisa, gue bisa.. mainan gitu aje. Emang lu aje yang bisaaa....??!!” Anakku mempertahankan mainannya, tapi didorong olehnya. Lalu kulihat laptop berpindah tangan.

Anak itu lalu terlihat mengutak utik mainan itu dengan senang. Sementara anakku merajuk padaku dan aku menenangkannya. Aku bilang, tenang saja... biarin dia pakai dulu, daripada kalau Mama marahin nanti dia lapor mamaknya... bisa geger orang se RT dengar teriakannya. Mamaknya itu pendidikannya cukup tapi pengetahuannya kurang, sehingga suka banget ribut dan suaranya keras.

Tapi kulihat anak itu lama lama bingung, karena tidak tahu bagaimana cara memainkannya. Sementara anakku sudah asyik dengan mainan boneka power rangers di sebelahnya. Power Rangers itu tokoh idola anakku karena power ranger heroes bisa merubah dunia menjadi lebih baik dengan kekuatannya. Kekuatan mereka ada di dada mereka, berupa cahaya yang akan menyala karena cinta.

Kuperhatikan temannya beringsut ingsut menggeser pantatnya mendekati anakku. Kudengar dia berbisik bisik minta diajarin bagaimana memainkan mainan yang telah direbutnya dengan kejam.

Deja vu dengan cerita itu.

(Aku sudah di rumah, Jakarta. Tadi malam aku naik bis Damri, melewati jalan sepi, eksklusif milik TransJ).

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Saturday, October 21, 2017 - 19:00
Kategori Rubrik: