Somad Tidak Hadir Untuk Klarifikasi Soal Suriah

Ilustrasi

Oleh : Yusa Mortheza

Dan ternyata Somad tidak merespon undangan tabayyun silatnas (Al Syami )..

9 Rekomensi Hasil Silatnas Ke-6 Alumni Suriah (Alsyami) di Medan

Medan, 11 Maret 2018.
Silatnas Ikatan Alumni Syuria (AlSyami) yang ke-6 pada 9-11 terasa pasnas sekali. Walaupun Silatnas itu digelar dua tahun sekali, tetapi dengan maraknya kasus akhir-akhir di Timur Tengah (Iraq, Libya, Yaman, Suria dll) dan berimbas ke Indonesia juga berita hoax. Maka kehadiran ulama-ilama Timur Tengah dan berkumpulnya alumni yang pernah menempuh pendidikan disana cukup diperlukan.

Sekjen Alsyami, M. Najih Arromadloni mengatakan, Silatnas Alsyami ini digelar setiap dua tahun. Ini yang ke-6 setelah Silatnas yang digelar di Yogya tahun 2016 yang lalu. Sedangkan Halaqah Ulama Suriah adalah rangkaian acara yang secara rutin diselenggarakan bersamaan dengan Silatnas.Silatnas). Silatnas kali ini diadakan di Hotel al-Munawwarah Asrama Haji Kota Medan, Sumatera Utara.

“Silatnas Alsyami dan Halaqah Ulama Suriah adalah silaturrahim mereka yang akan membahas moderasi Islam, dalam rangka turut berkontribusi dalam menciptakan harmoni peradaban dan perdamaian dunia, khususnya di Timur Tengah,” kata Najih.
Kegiatan ini diikuti 250 alumni Suriah dari seluruh Indonesia, membahas isu-isu strategis keagamaan (diniyah), kebangsaan (wathaniyah), dan kemanusiaan (insaniyah), mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut:

1. Mengajak tokoh-tokoh agama, utamanya yang pernah belajar di Timur Tengah, untuk meningkatkan dan mengokohkan gerakan moderasi agama yang rahmatan lil ‘alamin, dan secara bersama-sama memerangi pemikiran ekstrem dan radikal, termasuk segala tindak kriminal berbungkus atau mengatasnamakan agama, terutama ujaran kebencian dan hasutan melakukan kekerasan, yang mengkhianati nilai-nilai luhur keagamaan dan kemanusiaan.

2. Menyerukan kepada masyarakat untuk selektif memilih guru atau mempersepsi ulama/ustadz dan bersikap hati-hati dalam menerima informasi keagamaan yang bersumber dari media sosial/internet. Karena pembelajaran agama yang sempurna adalah yang didapat dari guru yang bersanad secara talaqi, dan informasi keagamaan harus merujuk sumber-sumber yang otoritatif dengan memperhatikan konteks kultural masyarakat setempat.

3. Menyarankan ormas-ormas Islam untuk memperkuat jejaring Islam wasathi (moderat) yang merupakan jalan al-sawad al-a’zam (mayoritas) umat Islam dunia, memperhatikan perkembangan aliran keagamaan dan mengembangkan sistem respon dini terhadap ideologi aliran keagamaan yang membahayakan akidah, persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Meminta kepada pemerintah untuk bersikap tegas mengatasi persoalan radikalisme dan tidak tunduk kepada tekanan kelompok radikal. Karena itu diperlukan langkah yang komprehensif, termasuk dengan memperkuat payung hukum penanganan radikalisme-terorisme, dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan.

5. Menghimbau praktisi politik untuk berhenti menggunakan sentimen agama dalam pertarungan politik praktis, karena dampaknya yang amat destruktif dan dapat mengoyak kelangsungan hidup bangsa.

6. Meminta kepada pemerintah untuk proaktif dalam menyikapi dinamika geopolitik negara-negara mayoritas muslim, terutama krisis Yaman, selain Palestina, Rohingya, dan Suriah. Selain itu juga, mendukung Arab Saudi untuk kembali ke Islam moderat dan mengajaknya bekerjasama mewujudkan dialog yang sehat dengan aktor negara regional untuk perdamaian dan harmoni Timur Tengah.

7. Mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menyalurkan donasi ke lembaga yang mengaku akan menyalurkannya kepada masyarakat tertimpa krisis atau konflik. Teliti kredibilitas, reputasi dan prosedur penyalurannya. Penyaluran donasi ke lembaga yang salah hanya akan menguntungkan lembaga penerima dan berpotensi menjadi sumber pendanaan konflik.

8. Memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah melalui kemitraan dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus Suriah, di bawah koordinasi saudara Ade Widodo (+6287873661717).

9. Menegaskan posisi Alsyami sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun dan merawat umat dan bangsa. (Ft/Nas/Nu/SA).

https://fokustoday.com/…/9-rekomensi-hasil-silatnas-ke-6-…/…

http://www.dutaislam.com/…/ini-9-rekomendasi-silatnas-vi-ik…

Jawaban Telak Sekjen Alsyami Kepada Ustadz Abdul Somad Terkait Suriah dan Assad

Minggu, 11 Maret 2018 – , MEDAN – Perang dan konflik Suriah hingga saat ini masih memanas, dan yang lebih parah lagi berita-berita fitnah kepada Bashar Assad dan isu Sektarian di gaungkan oleh kelompok radikal dan barat.

Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami), secara resmi, telah mengirimkan surat kepada Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk tabayun kepada para alumni Suriah, atas pernyataannya terkait krisis Suriah, di Medan, pada 9-11 Maret 2018.

Najih Arromadloni, Sekjen Alsyami, saat kami konfirmasi, membenarkan surat tabayyun tersebut. Di sela kesibukannya menyiapkan Silatnas (Silaturrahim Nasional) alumni Suriah di Medan 9-11 Maret, Najih menuturkan bahwa salah satu poin yang ingin diklarifikasi dari UAS adalah pernyataannya terkait krisis Suriah, baik melalui video ceramah maupun Fans Page-nya.

Najih menuturkan bahwa dalam pernyataan UAS tersebut ada banyak sekali muatan-muatan yang tidak sesuai dengan fakta. Misalnya, pernyataan UAS yang menyatakan bahwa krisis yang terjadi di Suriah merupakan pembantaian yang dilakukan oleh rezim syiah terhadap umat Islam sunni.

Bahkan menurut Najih, pernyataan UAS tersebut tidak lebih dari sekedar fitnah besar dan hoax yang justru dapat memperkeruh suasana yang ada di sana. Tentu hal ini juga dapat membuka lebar potensi konflik antara ahlussunnah dan syiah yang ada di Indonesia.

“Saya tidak tahu apa yang menjadi dasar dan referensinya. Yang hanya saya tahu di poin 7, UAS terkesan copy-paste dari tulisan Hasan Haikal,” lanjutnya.

Ditanya terkait undangan tabayyun yang dilayangkan kepada UAS, Najih mengatakan bahwa belum ada konfirmasi dan tanggapan sama sekali dari pihak UAS. Padahal, ia berharap agar UAS bisa bertemu dan bertanya secara jelas masalah yang terjadi kepada para alumni, syekh, dan Kedubes Indonesia di Suriah yang hadir saat itu.

Najih juga berharap agar UAS meralat peryataanya setelah mendengar klarifikasi dari Silatnas tersebut.

Bahkan kabar terbaru hingga sore ini (17.30), UAS masih belum memberikan tanggapan. Alsyami sendiri memberikan waktu hingga tanggal 11 sore, tepat bersamaan dengan ditutupnya Silaturrahim Nasional Alsyami di Medan.

“Padahal hari-hari ini, UAS punya jadwal di Medan,” tukasnya.

Selain melalui video ceramahnya, UAS juga menulis sikapnya terkait krisi Suriah di Fans Page-nya, “Ustadz Abdul Somad عبد الصمد“. UAS menulis sebuah status yang berjudul “Sikap Kami Terhadap Bashar al-Assad dan Konflik di Suriah”. Dalam status tersebut, UAS menulis 10 poin. Beberapa di antaranya, terkait kesesatan Syiah dan Kekejaman Bashar al-Assad (Presiden Suriah) yang melakukan pembantaian ratusan ribu orang.

Bahkan dalam poin ke-10, UAS mengatakan, dengan mengutip guru yang telah memberikat sanad thariqah Syadiliyah kepadanya, Asy-Syaikh Muwaffaq, bahwa Syekh Said Ramadhan al-Buthi merupakan ulama yang alim namun tertipu. Bahkan beberapa poin yang lain, ditulis dengan nada kasar dan provokatif. (SFA/Islami.co)

http://www.salafynews.com/jawaban-telak-sekjen-alsyami-kepa…

Sumber : Status Facebook Yusa Mortheza

Sunday, March 11, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: