Solusi Penanganan Gerakan Separatisme di Indonesia

Oleh: Saiful Huda Ems

Sekitar tahun 1994 hingga tahun 1999 saya mencoba mendengar dan memahami suasana kebatinan aktivis-aktivis kemanusiaan seperti Gus Dur dan aktivis-aktivis prodem (khususnya aktivis kiri) soal Papua baik di luar negeri maupun di Indonesia, karena kami sama-sama berangkat dan terjun jadi aktivis dari sentimen naluri kemanusiaan. 

Ada yang masih bisa berpikir dan bersikap tenang, jernih sebagaimana Gus Dur, dan ada yang sudah tidak kuat memperhatikan penderitaan orang-orang seperti warga Papua, Aceh dll. lalu diam-diam mereka mendukung sparatisme di Papua, Aceh, Maluku dll. 

 

Saya sangat memahami betul suasana kebatinan teman-teman itu, dan bagi saya itu hal yang wajar-wajar saja, tergantung dari seberapa jauh pengembaraan batin dan pengembaraan intelektualitas seseorang, serta seberapa panjang pengalaman seseorang dalam menempatkan kepentingan pribadi dan kepentingan orang banyak.

Namun jika ada hal yang bisa dibanggakan, yakni kelebihannya bagi kami (orang-orang NU) adalah pemahaman kami terhadap kaidah ushul fiqh yang menyatakan:"Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) haruslah didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya atau kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan".

Maslahat yang lebih besar menurut saya adalah tetap menyatunya Papua, Aceh, Maluku dll.nya dengan NKRI, sebab hal itu akan menjadikan Indonesia menjadi negara besar yang diperhitungkan oleh dunia, sedangkan mafsadah (bahaya atau kerusakan) sebagai resiko dari mempertahankan Papua, Aceh dll.nya seharusnya adalah menindak tegas para dalang-dalang kerusuhan atau gerakan sparatisnya. 

Dari situ saya menjadi paham, mengapa di masa Pemerintahan Gus Dur Papua tetap dipertahankan dengan memberi konpensasi mereka untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora disamping tetap mengibarkan Bendera Merah Putih dengan hormat. Gus Dur pun mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. 

Namun hari-hari ini nampaknya para provokator di Jakarta memanfaatkan saudara-saudara kita di Papua dan Aceh untuk merdeka demi meraih kekuasaan yang diimpi-impikannya, saya pikir memilah dan memilih mereka hingga jelas mana yang murni dan mana yang provokator adalah tindakan pertama yang harus kita lakukan. Kemudian setelah menemukan para korban provokatornya segera disadarkan, sedangkan kalau sudah ketemu para provokatornya silahkan saja dipenjarakan !...(SHE).

30 Agustus 2019.

(Sumber: Facebook Saiful Huda Ems (SHE)/Advokat dan Penulis, Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI)

Monday, September 2, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: