Soeharto Turun, Soeharto Naik

Oleh: Sunardian Wirodono

 

 Setelah Soeharto turun pada hari ini 22 tahun lalu (21 Mei 1998), apakah Indonesia terbebas dari ‘soehartoisme’?

Kini ada manusia bernama Bahar Smith mengaku habaib, bangga foto bareng Tommy Soeharto. Termasuk beberapa orang, yang foto-foto persowanan mereka ke Cendana, justeru di-upload akun-akun medsos keluarga Cendana. Sementara di tengah para santrinya, yang semua bertelanjang dada dan bertato, si rambut pirang seolah menantang kekuasaan. 

 

Bagaimana membaca itu semua? Ada dua pihak yang patut ditanya. Pertama, pelaku yang dulu tesisnya hanyalah Soeharto turun. Setelah Soeharto turun, apakah yang menurunkan naik, atau ikutan turun? Jawaban Adrian Napitupulu dan Amien Rais, pasti beda. Apalagi AHY dan Hanafi Rais. Wong Hanafi Rais dan Mumtaz Rais pun beda. 

Yang kedua, tanyakan ke Jokowi, presiden dua periode, sekaligus sebagai anak bajang kepolitikan Indonesia. Apa itu anak bajang? Semacam anak yang lepas dari genealogi pendahulu. Dan tetiba, ia bisa mengalahkan Prabowo. Dua kali pula. Padal ia dibawa ke Jakarta oleh Prabowo! Bisa memahami pesan sejarah di baliknya, seandainya kita bukan hanya berfikir analogis, tetapi juga fenomenologis?

Tapi terhadap pertanyaan apa yang paling susah berubah di Indonesia? Jawabannya mungkin sama; Perubahan. Karena perubahan bukan hanya barang yang susah, namun juga bikin susah. Apalagi keluar dari zona nyaman. Mangkanya yang tua-tua sekarang bisa bangga, ‘enakan jaman Soeharto’. Kenapa? Karena waktu itu masih muda, masih pantas dan kuat pacaran. Sekarang pasangannya sama-sama tua-renta.

Tuitan Tomi Soeharto akhir-akhir ini, juga beberapa kali Titik serta Tutut, mencoba meyakinkan kita, Soeharto is the best. Sebagaimana kata Fadli Zon, dan mungkin majoritas responden lembaga polling. Tapi sama seperti polling tabloid Monitor dulu, yang menyebabkan Arswendo masuk bui, karena tudingan penghinaan agama. Kita lupa itu pilihan responden pembaca media berlafas jurnalisme lher. Kalau pembaca majalah berlafas religi, tentu lain hasilnya!

Arief Budiman pernah menulis esai mengenai demokrasi dan demonstran (1995). Ia sedang mengkonstatasi keduanya. Hasilnya tidak indah. Meski saya kira di negara mana pun fenomena itu ada. Dalam cerita wayang dan kethoprak, perjalanan ksatria hingga ke raja, bisa saja balik kanan. Di Indonesia, belum jadi raja sudah balik kanan grak. Lihat mereka yang kecewa pada Jokowi. Tak tahan dan tak tahu bahwa Reformasi 1998 itu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Ada proses waktu. Juga ritual yang mesti dijalani, termasuk brainwashing mental dan ideologi. 

Selama 32 tahun, Soeharto mengajarkan formalisme dalam berfikir (dan beragama), pragmatisme dalam bertindak, vandalisme dalam kekuasaan. Trilogi perusakan bangsa berbanding lurus dengan trilogi pembangunannya. Hingga kini, yang terdidik dan tidak, sama-sama tak terlatih dalam perbedaan. Celakanya, yang suka ceramah perbedaan sebagai rahmat, tak pernah memberi keteladanan.

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

 

Friday, May 22, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: