Socrates, Yesus, dan Ahok: Antara Takdir, Tabir, dan Takbir

 
 
Oleh : Abel Kristofel
 
Setahu saya, dalam konteks publik pengadilan menjadi space paling sakral.  Di situ adalah tempat di mana semua umat manusia, tanpa pandang bulu, diadili menurut undang-undang yang berlaku.  Tempat di mana seseorang harus bersumpah sebelum mengutarakan saksi mereka.  Di situ juga tempat di mana orang yang sedang diadili mengalami perlakuan hukum yang sangat hati-hati, presisi, dan cermat, demi terciptanya keadilan.
 
Saya pribadi memang belum pernah masuk ke ruang pengadilan, kecuali ketika mengambil STNK yang disita karena tilang.  Akan tetapi, lambang timbangan, agungnya pilar-pilar (dalam banyak tempat), serta colar putih di leher jaksa, pengacara, dan hakim sudah cukup untuk menggambarkan betapa mulianya lembaga peradilan.
 
Dalam sejarah, ada banyak kisah menarik mengenai orang-orang yang diadili di arena paling mulia tersebut.  Salah satu yang saya suka adalah Socrates.  Di pengadilan, Socrates didakwa dengan “pasal” mengada-ngada, yaitu buah pikirannya yang merusak generasi muda.
 
Kalau anda sedikit-banyak tahu sejarah bangsa Yunani, anda akan paham bagaimana pandangan orang-orang zaman dahulu mengenai alam semesta (cosmology).  Sebuah karya seorang sastrawan yang hidup antara 750-650 SM, Hesiod, telah “mencerahkan” banyak orang.  Melalui tulisannya yang sering disebut Theogony (artinya, “kelahiran para tuhan”), mitologi Yunani dibangun.  Mungkin anda lebih familiar dengan Zeus, Apollo, Artemis, Aphrodite, dll.
 
Memang, Hesiod hanya menggabungkan hikmat-hikmat lokal yang ada.  Akan tetapi, karyanya telah memberikan perspektif kosmik yang komprehensif dan tentunya naratif.  Hesiod akhirnya mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai alam semesta.  Bisa ditebak, penyembahan kepada oknum agung yang mereka sebut dewa-dewa tak luput dari pengaruh karya ini.
 
Tak dinyana, beberapa ratus tahun kemudian Socrates datang seperti pengacau.  Entah kata pengacau merupakan istilah yang tepat atau tidak.  Intinya, keberadaan Socrates sangat diperhitungkan menimbang konteks paganisme waktu itu.  Socrates memiliki semangat untuk membukakan mata orang-orang muda mengenai alam semesta serta mempengaruhi mereka untuk mengkritisi penyembahan kepada dewa-dewa.
 
Keberadaan Socrates sangat mengancam.  Dia mengancam orang-orang sofis (sophis) yang kerjanya hanya bersilat lidah dengan retorika demi membuat penuh kantung uang mereka.  Pasalnya, Socrates lebih punya banyak peminat di agora (semacam pasar atau alun-alun di dunia modern).  Dia juga mengancam pemerintah yang berjalan dengan dasar paganisme yang pluralis.  Bagi pemerintah waktu itu, menambah jumlah daftar dewa tidak menjadi masalah, mendorong orang untuk tidak menyembah dewa yang sudah ada itulah yang menjadi masalah.
 
Itulah supremasi politik.  Socrates tetap diadili atas dakwaan anehnya, yaitu karena dia mengajak orang berpikir tentang alam semesta.  Bagi kalangan pembelajar waktu itu, Socrates dianggap pahlawan.  Bagi pemerintah, pedagang-pedagang, dan retoris-retoris agora, tidak.  Padahal kerja Socrates hanya memberikan pertanyaan, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, dan menanyakan jawaban dengan pertanyaan.  Sebuah dialektika yang membangun.
 
Di pengadilan, Socrates melawan.  Dia menanyakan dasar tuduhan pengadilan terhadap dirinya.  Yang lucu, ketika Socrates beretorika, semua orang terkesima termasuk para juri.
 
“Lantas apa dasar mereka [juri]sampai pada giliran saya dimuliakan sebagai orang yang arif dan bijaksana dan termasyur, sementara saya harus menerima reputasi sedemikian buruk seperti itu [sebagai perusak generasi muda]?”  tanya filsuf fenomenal itu demi menggugah emosi hadirin.  Socrates mau menyorot, bagaimana mungkin di satu sisi juri-juri ini kagum terhadap Socrates, tapi di sisi lain tetap menjatuhkan dakwaan?
 
Di mana-mana selalu sama, hati nurani bilang “iya,” tetapi otak yang sudah politis bilang “tidak.”  Ini juga mirip seperti fenomena double think di Jakarta.  Dari lubuk hati, masyarakat menganggap Ahok memberikan kinerja yang memuaskan, tetapi untuk memilih jadi gubernur, nanti dulu.
 
Kembali ke Socrates, dia memberikan pembelaan.  Semacam membacakan nota keberatan.
 
“Satu-satunya hal yang sangat disayangkan di sini adalah saya harus menghadapi maut hanya untuk sebuah kebaikan kecil yang telah saya perjuangkan dan persembahkan (untuk orang banyak) lewat praktek pengajaran filsafat saya ke generasi muda Athena,” lanjutnya.  Sontak, pengadilan mengeluarkan pekik kagum dan gemuruh atas kalimat hikmatnya yang cerdas dan jujur.
 
Sayangnya, di mata hukum yang sudah dicemari kebencian, kejujuran belum tentu menang.  Juri tetap tak berpihak padanya.  Meski akhirnya mayoritas juri kagum dan setuju dia dibebaskan, vonis mati tetap dikeluarkan.  Sebenarnya masih ada pilihan: mati minum racun atau menghentikan kegiatan berfilsafat.
 
Cocok sekali.  “Maju jadi Gubernur atau dipenjara.”  Itulah the unspoken truth dari getar bibir para aktor-aktor politis yang memicu, membakar, menunggangi, dan akhirnya melepas bebas radikalisme yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia.
 
Hebatnya, Socrates tetap menunjukkan integritas dan ambisi terbesarnya.  Saya sudah katakan di artikel saya sebelumnya, ambisi anda menentukan siapa anda.  Ambisi Socrates adalah mendidik orang-orang muda untuk berpikir lebih dalam.  Meninggalkan dewa-dewa sesembahan adalah konsekuensinya.  Ancaman kematian tak sanggup mengurungkan niatnya.
 
Alhasil, Socrates harus masuk penjara menunggu hukuman mati.  Saya tidak perlu lagi menceritakan kisah fenomenal dan mengagumkan yang ada di penjara.  Ringkasnya, dalam penjara Socrates berkata pada murid-murid yang ingin menculiknya dan menyelamatkannya malam itu, “hukum harus dipatuhi betapapun jeleknya.”
 
Socrates menghadapi takdirnya.  Terhadap takdir, Socrates harus kalah.  Kalah dengan indah.  Setidaknya itu kesan yang diberikan Phaedo mengenai akhir hidup Socrates, “orang paling bijaksana, paling adil, dan terbaik dari semua orang yang pernah aku kenal.”  Hah… Seandainya saya bisa mati sedemikian.
 
Orang kedua yang membuat saya kagum adalah orang yang kurang-lebih punya temperamen sama dengan Socrates, Yesus Kristus (atau Isa pbuh).  (Ngomong-ngomong, temperamen dan MBTI profil saya juga sama dengan Socrates.  Haha…).  Huh, menceritakan sosok ini sebenarnya beresiko.  Sebab tokoh ini seringkali dikaitkan dengan aspek relijius umat Nasrani ketimbang aspek historisnya.  Tapi ya sudah, ketertarikan saya untuk membahas kisahnya lebih besar.  Pandanglah ini sebagai salah satu dari banyak kisah sejarah biasa lainnya.
 
Dalam usianya yang sudah lebih dari 30an tahun, tepatnya setelah 3 tahun lebih mengajar.  Yesus Kristus (Isa pbuh) harus diadili atas dakwaan penistaan agama.  Menariknya, tuduhan semacam ini hanya didasarkan pada hukum Taurat Yahudi.  Pengadilan Romawi tidak punya kapabilitas dalam domain itu.  Akan tetapi, beberapa agamawan Yahudi (yang disebut Saduki) yang sangat dekat bahkan berkoalisi dengan Romawi, padahal mereka penjajah, berusaha merekakan (creating) dakwaan sehingga Yesus Kristus (Isa pbuh) bisa diperkarakan dalam hukum Romawi dalam otoritas Pontius Pilatus, di daerah itu.
 
Kebencian orang-orang Yahudi sangat besar terhadap Yesus (Isa pbuh).  Pasalnya, orang-orang Yahudi yang waktu itu hanya bisa mengajarkan hukum Taurat tetapi tidak melakukannya, merasa terancam.  Dalam waktu tiga tahun, orang ini tidak hanya mampu menggaet anak muda seperti Socrates.  Pengaruhnya luas, mulai dari anak kecil, orang-orang kafir (sebutan untuk non-Yahudi pada waktu itu), orang tua, wanita yang kerjanya hanya di rumah, serta pemuka agama.
 
Orang-orang Yahudi pembenci Yesus tidak mau kalah.  Usaha mereka akhirnya berhasil membuat pemuka agama lain juga ikut membenci dia.  Mereka berhasil juga membuat murid Yesus (Isa pbuh) berkhianat.  Kerumunan massa pada waktu itu juga berhasil dibuat berteriak, “salibkan dia!”
 
Pilatus, orang yang tidak punya kapasitas agamawan, tampaknya mengambil kesempatan ketika menjadi pengadil di Yerusalem.  Pilatus dapat melihat kapasitas Yesus sebagai guru.  Karena itu, Pilatus menanyakan pertanyaan yang sepertinya sudah berkali-kali ditanyakan di peradaban Yunani (kebudayaan Romawi juga banyak dipengaruhi Yunani).
 
Pilatus bertanya, “Apakah kebenaran itu?”  Wah, anda bisa melihat kesamaannya?  Pilatus menaruh hormat dan kagum, tetapi tetap tunduk pada teriakan massa, desakan pemuka agama Yahudi, serta otoritas Herodes sang raja.  Sebab, Herodes, bos Pilatus, “menista dan mengolok-olokkan Dia.”  Begitu yang tertulis di biografinya.
 
Yesus Kristus (Isa pbuh) tak bergeming.  Pilatus bahkan mendorong Yesus untuk membacakan nota keberatan, atau mungkin meminta pendampingan pengacara.  Haha… Mirip-mirip zaman sekarang lah.
 
“Tidakkah engkau memberi jawab?  Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap engkau!”  Begitu kata Pilatus.  Tetapi Yesus Kritus (Isa pbuh) tetap diam.
 
Musuh utama Yesus Kristus sebenarnya bukanlah hukum Romawi, melainkan penghafal-penghafal Taurat yang memakai jubah tebal dan berlindung di balik tabir bait suci Yahudi.  Mereka setiap hari nyaman dengan posisi sebagai pembicara hukum dan menerima persembahan uang dari rakyat.  Kali ini, mereka benar-benar beranjak dari tabir besar di bait suci mereka.  Tujuannya untuk memenjarakan dan kalau perlu membunuh Yesus Kristus (Isa pbuh).
 
Akan tetapi, kalimat di akhir hidupnya mengagumkan.  Sungguhan, Socrates dan Yesus Kristus (Isa pbuh) sama-sama “mencokot” perhatian pembaca kisah hidup mereka.  Berkebalikan dengan mereka, Yesus justru berkata, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”  Note: Saya tidak mau berdebat mengenai arti kata “Bapa” di sini.  Kita tahu, pemahaman kita yang berasal dari agama berbeda jelas berbeda juga mengenai ini.  Tapi satu yang kita bisa lihat bersama, dia mengampuni.
 
Sayangnya, di hadapan tabir rumah ibadat Yahudi, Yesus Kristus (Isa pbuh) harus kalah.  Dia akhirnya mati, sama seperti Socrates.  Kematian yang menyedihkan sekaligus indah bagi murid-muridnya.  Apa yang tersisa sampai sekarang, yang terus-menerus diceritakan turun-temurun, salah satunya, adalah kisahnya yang kalah di pengadilan.  Kisahnya bertahan 2000 tahun, mempengaruhi jutaan orang termasuk Ahok (ketika memutuskan untuk mengalah di Babel).
 
Socrates kalah karena takdir.  Yesus Kristus kalah karena tabir.  Yang terakhir, tokoh fenomenal yang dibela orang banyak, Basuki Tjahja Purnama, sepertinya harus kalah juga dengan takbir.  Disclaimer: saya tidak bilang meneriakkan “takbir” itu salah.  Akan tetapi, takbir-takbir yang sudah ditunggangi politik itulah yang akhirnya mengalahkan Ahok bahkan mengacaukan kesatuan NKRI.
 
Dalam ruangan sidang di mana semua penonton duduk diam dan hening, pekikan takbir tetap terdengar sampai ke dalam.  Tekanan begitu besar diberikan bagi pengadilan yang katanya tadi sakral.  Bahkan sampai menangis pun, masih ada saja orang yang menganggap sandiwara.
 
Kalau Ahok tidak dipenjara, tidak ada lagi Aksi Bela Islam 1, 2, atau 3, tetapi revolusi.  Begitu ajakan Rizieq yang menurut saya sudah melampaui hukum.  Entah apa yang dipikirkan Rizieq mengenai masa depan negeri ini.  Makin terlihat kalau dia tidak ada niat jihad konstitusi.  Lha wong konstitusi pun harus dipaksa oleh “revolusi” a la 411.  Ini jelas titik-titik.
 
Yang pasti, Rizieq berbeda dengan orang-orang yang terenyuh di dalam ruang pengadilan.  Berbeda juga dengan kakak angkat Ahok yang langsung memeluknya dengan cucuran air mata di kerudungnya dan kalimat, “adik saya ini orang baik.”  Dan berbeda juga dengan Pakde yang sampai sekarang terlihat ingin mempertahankan kesatuan NKRI.
 
Bagaimana kalau yang kali ini juga akan sama?  Bagaimana kalau takbir lebih kuat ketimbang timbangan?  Yasudah maju terus dengan jujur dan tulus.  Sejarah membuktikan, mengalah dan memaafkan adalah kunci utama menuju iklim publik yang damai dan penuh cinta kasih.
 
Maju saja Pak Ahok.  Apapun yang terjadi, puluhan juta orang sudah membaca berita tentang jalannya pengadilan.  Mereka juga sudah menonton TV.  Lagi, pengunjung channel Youtube penyiar potongan-potongan sidang anda juga mulai kebanjiran visitor.  Banyak dari mereka yang masih waras kok (istilah favorit Seword.com).
 
Kalau Bang Birgaldo Sinaga (salah satu penulis Seword.com) menyalami anda dari dekat, saya juga memberikan salam semangat untuk anda dari Malang.  Kalau toh anda masuk penjara, akhir dari sidang ini tetap akan dilihat indah, sama seperti akhir dari kedua sidang yang sebelumnya saya ceritakan.  Ah, andai saja ini dibaca oleh Anda.
 
Last but not least…
 
Ridwan Kamil pernah meresponi pembubaran acara natal di Sabuga dengan kalimat, “hari ini kita diuji bagaimana nikmat bernegara.”
 
Minggu ini, atau selama sidang Ahok berjalan, kita pun diuji bagaimana nikmat bernegara.  Makin menikmati bernegara, makin kita taat proses hukum.  Bila anda memaksa hukum sesuai dengan keinginan anda, jangan anggap diri anda sudah menikmati bernegara di Indonesia.  Kalau perlu, tidak usah nonton final AFF Indonesia lawan Thailand.  Tidak perlu juga naik Lion Air, sebab itu maskapai swasta terbesar di Indonesia.
 
Saya tahu bahwa banyak dari anda memperhatikan dengan seksama apa yang dialami Ahok hari ini.  Saya tahu banyak orang menantikan beritanya bahkan menonton tayangan live.  Pastinya, anda akan terus mengikuti sampai putusan dijatuhkan.  Itu demi apa?  Saya tebak, itu demi melihat bagaimana keadilan dijunjung tinggi atau paling tidak melihat sejauh apa keadilan di negeri kita meluncur turun.
 
Jangan cuma lihat.  Masih ada teman-teman anda yang hati nuraninya perlu diingatkan.  Masih ada tetangga-tetangga anda yang menunggu dan bertanya dalam hati: seberapa tolerir anda terhadap agama mereka.  Tak sedikit juga teman-teman di FB anda yang kerjanya cuma teriak “penjarakan Ahok,” tanpa membiarkan hukum berjalan apa adanya.  Jadilah pembawa damai dan keadilan.**
 
Sumber : facebook Abel Kristofel
Friday, December 16, 2016 - 14:45
Kategori Rubrik: