Social Distancing Diantara Kelas Menengah dan Kaum Marginal

ilustrasi

Oleh : Raihan Lubis

Jadi, lebih banyak orang takut gaji atau cutinya dipotong daripada virus Covid19. Bagi kaum pinggiran dan marjinal yang umumnya bekerja di sektor informal, keluar rumah untuk tetap mencari rezeki di tengah wabah Covid19 ini adalah sebuah keharusan. Social distancing dengan tetap di rumah atau bekerja dari rumah- maaf, tidak bisa.

Pagi ini, dengan sangat-sangat terpaksa saya harus keluar rumah menuju Jakarta. Dan opsi transportasi yang saya punya hanya KRL Jabodetabek. Terus terang, saya deg-degan ketika sekitar pukul 6 pagi berangkat dari rumah. Dan hati saya semakin ciut begitu tiba di Stasiun Cilebut. Penumpang memadati peron yang lebarnya hanya semeter lebih itu. Kepadatan ini terjadi karena pembatasan jam KRL yang baru mulai jalan sekitar pukul 6 pagi dari Stasiun Bogor. Jam keberangkatan yang dimundurkan ini terkait masa tanggap darurat wabah corona yang sedang diberlakukan. Alih-alih membuat orang tidak bekerja dan tidak menggunakan moda transportasi umum, pembatasan jam ini membuat penumpang menumpuk dan menciptakan kerumunan yang justru dapat menjadi area empuk penyebaran virus - sungguh kontraproduktif.

"Kalau bisa memilih, saya mah tinggal di rumah kayak orang-orang yang bisa kerja dari rumah. Tapi bagaimana atuh, kalo kagak masuk, gaji dipotong. Lu gimana?," kata seorang laki-laki paruh baya di samping saya pada temannya. Mereka saling curhat.

"Iya nih kopat kopit, kopat kopit. Mati mah mati aja. Kalo kita gak makan siapa yang peduli?" jawab kawannya.

Dan kehororan tiba-tiba menyeruak begitu kereta datang dan pintu kereta terbuka. Saling dorong, saling sikut, saling injak kaki. Omelan, teriakan dan entah apa lagi, beradu dengan suara masinis yang mengingatkan orang-orang untuk tidak naik ke kereta jika tidak memungkinkan. Pedulikah mereka untuk tidak naik begitu menyadari betapa padatnya penumpang dalam kereta? Tidak, mereka tidak peduli karena di kepala meraka bagaimana segera sampai di tempat kerja.

Sementara itu di tempat lain, seorang teman tengah melakukan video call dengan beberapa temannya untuk rapat online. Salah seorang temannya di seberang sana lagi berada di rumah peristirahatannya yang mewah dan jauh dari gegap gempita wabah corona sembari bermain dengan binatang kesayangannya. Yang lainnya berada di salah satu ruang rumahnya yang cukup asri dengan segala fasilitas dan logsitik yang lebih dari cukup walau sebulan dia tidak keluar rumah.

Rencana Kontinjensi Pandemi

Saya tentunya mendukung upaya gerakan #dirumahsaja atau #stayathome demi memutus mata rantai penyebaran virus covid19. Tapi hal itu cukup sulit bagi orang-orang yang bekerja di sektor informal. Apalagi mereka yang berstatus buruh harian. Belum lagi banyak pekerjaan mereka yang umumnya dilakukan dengan kegiatan fisik - di tempat mereka bekerja. Atau bagi yang berstatus pekerja admin, dokumen-dokumen berada di tempat kerja- yang tidak memungkinkan untuk dibawa pulang.

Juni 2009, ketika WHO menyatakan dunia telah memasuki fase 6 pandemi influenza A H1N1, sebenarnya cukup banyak pelaku usaha di Indonesia yang menyambut ajakan pemerintah untuk mempersiapkan diri; sayangnya terhambat dalam pelaksanaannya. Permasalahannya, mereka tidak tahu harus memulai dari mana. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi yang cukup tentang seluk-beluk pandemi influenza masa itu, selain itu mereka juga tidak mengetahui parameter apa saja yang digunakan untuk menyusun rencana kontinjensi guna menghadapi ancaman pandemi influenza.

Akhirnya ketika itu, Departemen Kesehatan RI, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, ILO Jakarta dan CDC telah menyusun buku panduan berjudul PERENCANAAN KEBERLANGSUNGAN USAHA DALAM MENGHADAPI PANDEMI INFLUENZA. Dokumen-dokumen rencana kontijensi seperti ini sesungguhnya dapat direplikasi untuk skenario dalam menghadapi wabah corona saat ini. Linknya bisa ditemukan di http://www.ilo.org/…/…/documents/publication/wcms_120083.pdf

Saya haqul yaqin, pemerintah juga sudah punya rencana kontijensi terkait wabah. Lihatlah dokumen ini https://www.kemenkopmk.go.id/…/Draft%20Pedoman%20Koordinasi… yang dibuat 2016 . Sayangnya saat ini, kita hanya dapat menyaksikan kegagapan pemerintah dan di sisi lain membuat masyarakat lapisan bawah tidak punya pilihan -ketika social distancing digaungkan- kecuali tetap menjalani hari-hari seperti biasa.

Banyak juga lembaga-lembaga non pemerintah yang sebenarnya sudah bergerak untuk menanggulangi dampak social distancing bagi masyarakat marjinal. Tapi karena baru mulai, gerakan-gerakan ini belum dapat sepenuhnya menanggulangi dampak yang terjadi di lapisan bawah saat ini.

Ini masa yang sulit bagi kita semua. Dan sangat dibutuhkan solidaritas berbangsa tingkat tinggi- tanpa memandang suku, agama, ras dan juga pilihan politik. Social distancing adalah pilihan terbaik dibanding jika harus melakukan lockdown seperti di beberapa negara. Tapi mungkin kita harus segera menyiapkan rencana bagi orang-orang yang memang menggantungkan hidupnya dari hari ke hari dengan bekerja di luar rumah.

Keterangan foto: lift di Graha BNPB dipasangi tanda 'jaga jarak' guna menangkal penyebaran virus covid19. Foto: Raihan Lubis

Sumber : Status Facebook Raihan Lubis

Monday, April 6, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: