Social Distancing dan Solidaritas Berbangsa

ilustrasi

Oleh : Raihan Lubis

Sebut saja namanya Mawar. Dia seorang buruh cuci pakaian. Sudah sepekan lebih dia dirumahkan -tanpa dibekali uang kerohiman- dari tempat dia bekerja dengan alasan si empunya rumah hendak mengisolasi diri. Suami Mawar yang berprofesi sebagai abang ojek online juga tengah sepi orderan. Lengkap sudah hidup mereka di tengah gerakan social distancing ini. Coba kita tengok kiri dan kanan di sekitar rumah kita, apakah ada yang seperti mereka?

Pedagang nasi uduk dekat rumah saya juga curhat sepi pembeli. Orang-orang kelas menengah yang menjadi pelanggannya memilih mengurung diri. Mereka membatasi diri untuk tidak keluar rumah, apalagi mereka yang diperbolehkan bekerja dari rumah. Stock bahan makanan di rumah mereka juga tersedia, kalau pun hendak belanja cukup tinggal pencet aplikasi online saja. Klik, maka bahan makanan atau makanan sampai di depan pintu rumah. Tapi bagaimana dengan Mawar dan penjual nasi uduk?

Wabah corona ini semoga membawa banyak hikmah. Salah satunya mugkin dapat membuat kita jadi peka pada orang-orang di sekeliling kita- apakah tetangga kiri kanan atau pedagang kecil dekat rumah kita baik-baik saja. Coba lihatlah kehidupan mereka- walau tetap harus menjaga jarak.

Di tengah ketidaklapangan saya saat ini, saya selalu membeli buah lokal yang ada di pinggir jalan tanpa menawarnya- karena mereka umumnya menjual dengan harga yang wajar. Mulai dari jambu biji sampai pisang tanduk. Saya juga belanja telur dan beberapa bahan makanan di warung-warung kecil dan bukannya di toko-toko ritel. Memberi ongkos lebih buat abang-abang ojek online- jika tengah menggunakan jasa mereka.

Uang saya pastinya tak seberapa buat mereka. Tapi saya yakin, selain saya pastinya banyak juga yang melakukan hal yang sama- bahkan uang yang mereka keluarkan jauh sangat sangat lebih besar dari apa yang saya keluarkan dan berikan.

Saat-saat ini, solidaritas berbangsa sangat dibutuhkan tanpa memandang suku, agama, ras bahkan pandangan politik yang beberapa waktu memecah belah kita. Jika kita merasa terdampak dengan wabah corona ini, yakinlah banyak orang lain yang juga terdampak dan bernasib lebih parah dari yang kita alami.

Bersyukurlah bagi yang masih punya pilihan bekerja dari rumah, masih punya saldo di elektronik money yang memudahkan hidup dengan sekali pencet tombol di gadget. Masih punya kuota untuk memantau segala informasi.

Banyak orang tidak tahu bagaimana caranya bertahan dari hari ke hari. Banyak juga yang tidak tahu apakah masih akan punya pekerjaan atau tidak dalam beberapa waktu ini.

Mari kita putus penyebaran virus covid19 ini dengan berbuat sesuatu yang dapat kita lakukan. Bagi yang dimampukan untuk berdiam diri di rumah, maka lakukanlah. Bagi yang memiliki kelapangan untuk membantu sesama dengan cara apapun, kerjakanlah. Tidak banyak yang beruntung, tapi tidak sedikit yang memiliki kelapangan.

Berharap dengan pemerintah boleh saja. Tapi jika memungkinkan, berbuatlah semampunya. Kita berharap badai ini segera berlalu. Orang-orang dapat berkumpul kembali tanpa takut tertular virus. Semoga kita semua dapat berjaya dan berdaya kembali. 

Sumber : Status Facebook Raihan Lubis

Wednesday, April 8, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: