Soal Vaksin Sinovax

ilustrasi

Oleh : Dina Aditya Hermanadi

Hasil diskusi saya dengan teman alumni Farmasi ITB Mas Alloysius Budi Utama yang pernah menjadi periset vaksin, dan sekarang tinggal di negeri Paman Sama, begini ceritanya :

Sedikit brief informasi terkait COVID-19 vaccine. Teknologi lama untuk bikin vaccine adalah harus pake virus aslinya. Dibiakan dikultur, terus dilemahkan atau umumnya dimatikan. Supaya kalau disuntikkan ke tubuh tidak berbiak tapi bisa menginduksi tubuh untuk membuat antibody terhadap virus nya. Antibody ini yg melindungi tubuh dari infeksi berikutnya. Namun demikian, teknologi ini mahal karena harus membiakan virus, kemudian di isolasi dalam jumlah besar. Nah karena China yang terkena wabah covid duluan, mereka bisa mengisolasi virus nya dan mulai bikin vaccine lebih awal (sejak jan 2020) dan dengan teknologi atau platform virus yg dimatikan.
Kita sebenarnya gak perlu semua protein virus untuk jadi vaccine. Satu yg penting sudah cukup. Contohnya yang penting protein Spike (atau S) yang ada di permukaan virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19.
Sebelum berlanjut kita balik lagi ke biologi dasar dulu. Harus paham bahwa informasi genetic (blue print) disebut DNA, satu kelompok DNA disebut gen. Dari satu gen DNA dibentuk satu jenis mRNA yang berfungsi jadi cetakan (mold) untuk satu jenis protein. Lalu protein ini yang berfungsi di tubuh kita.

Dulu orang kalo mau pake bagian protein Spike virus harus isolasi virus terus pake teknologi molecular biology mengisolasi gen Spike dan dibuat protein Spike adan dilipat gandakan di cell yg dibiakan di kultur yg besar. Ratusan liter.

Protein Spike yg diproduksi di kultur ini disebut antigen yg akan disuntikkan ke tubuh supaya tubuh kita bisa punya kekebalan terhadap protein Spike virus ini.
 
Kemudian, sekarang ada teknologi baru yaitu mRNA vaccine. Platform vaccine ini tidak perlu isolasi virus. Nah teknologi vaksin mRNA lebih simple lagi. Sebelum ini belum pernah berhasil. Caranya juga gak perlu isolasi virus dan cukup tahu urutan genetik virus. Terutama bagian Spike protein dari virus yg letaknya di permukaan virus. Nah sekarang urutan genetik ini bisa disintesis. Murah bikinnya. Terus dibuat mRNA di kultur cell. Murah lagi dan tinggal di isolasi. Nah mRNA yang jadi cetakan untuk protein Spike ini disuntikkan ke tubuh kita.
 
Nanti sel tubuh kita sendiri bisa menggunakan cetakan mRNA untuk mebentuk protein Spike atau disebut juga antigen. Kita gak perlu repot dan mahal bikin protein Spike atau antigen di pabrik. Kita cukup bikin cetakan mRNA Spike dan tubuh kita membentuk protein Spike sekaligus kemudian membuat antibody terhadap Spike protein ini.
 
Biaya produksi mRNA vaccine ini murah cuma sekitar $4 sedangkan vaccine virus yg dimatikan (inactivated) mahal sekitar $30-$40. mRNA vaccine sayangnya sangat tidak stabil dan harus disimpan di suhu ultra rendah (-80oC). Pasti kamu2 belum pernah lihat freezer model gini. Satu biji harganya minimal Rp 100 jeti. Kebayang gimana kalo harus sediain freezer gini di tiap puskesmas desa lha listrik aja masih byar pet
 
Kelebihan Inactivated vaccine stabil di simpan di kulkas biasa atau es batu yg suhunya 4oC. Kalo kepepet masih tahan suhu ruang beberapa hari. Makanya Indonesia beli sebagian Sinovac yang stabil ini dulu. Sebagaimana negara2 yang belum punya cold chain. Beli nya ya cuma bisa dari China saat ini. Nanti kalau Astra Zeneca atau Novavax atau juga Rusia bikin yang stabil, bisa kita beli juga atas persetujuan WHO sebagai badan yang mengatur penjualan vaccine agar semua negara bisa kebagian.
Sumber : Status facebook Dina Aditya Hermanadi
Wednesday, December 23, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: