Soal Utang Pemerintah, Siapa yang Berdusta?

Oleh: Afa Muafa

 

Pilpres masih tujuh bulan lagi. Tapi “pertarungan” sudah berlangsung sengit. Serangan bertubi-tubi dilancarkan kepada incumbent yang masih berstatus Presiden RI yang sah. Lucunya adalah bahan serangan itu sama, antara empat tahun lalu dan sekarang.

Data lama dijual kembali untuk menyerang. Dibuatlah meme-meme yang begitu massif disebar tentang narasi “Nawa Duka”. Isinya adalah beragam informasi yang bersumber dari buku “Paradoks Indonesia” karya Prabowo Subianto, berisi tulisan-tulisan pendek keprihatinan dan pesimisme penulisnya tentang bangsa ini. Padahal situasi saat ini sudah jauh berbeda.

 

 

Ya maklum saja, sang penulis agaknya memang yakin Indonesia akan bubar tahun 2020. Jadi yang ditulis pun adalah hal-hal yang menakutkan bagi siapapun yang membacanya. Lucunya bukan hanya meme, buku tebal dengan sampul yang wah dan lembar-lembar art paper yang pastinya mahal sekali itu, juga disebar kembali dalam jumlah banyak, diselipkan pada goody bag sejumlah acara besar. Kiranya yang menyebarkan berharap orang yang membaca akan terkejut, ketakutan dan lantas membenci pemerintah.

Semudah itu? Tentu saja tidak. Situasi sudah jauh berbeda. Penduduk Indonesia sudah merasakan perbedaan yang nyata apa yang ditulis dalam buku itu, apa yang diperlihatkan dalam meme-meme seri “Nawa Duka” itu sama sekali tidak benar. Yang mempercayai berbagai Nawa Duka itu hanya orang bodoh yang tak bisa move on dengan kekalahan junjungannya. Karena tak bisa move on, mereka terus menggerutu, kufur nikmat dan tak bisa melihat kemajuan-kemajuan yang dicapai Indonesia saat ini.

Itu semua data lama. Dalam konteks sekarang berarti data palsu. Mereka salah data. Itu jelas bukan bukan saaat ini, ketika pemerintah di bawah Presiden Jokowi yang menanamkan nilai optimisme dan tulus bekerja, bekerja dan bekerja bersama kabinetnya.

Dikatakan dalam narasi Nawa Duka bahwa utang pemerintah terus naik hingga sundul ke langit. Padahal yang benar saat utang pemerintah dalam kondisi aman dan terkendali. Utang justru mulai terbayar, dengan manajemen yang baik Kementerian Keuangan di bawah dirigen Bu Menteri Sri Mulyani Indrawati.

Rasio utang kita hanya 27,9% terhadap produk domestik bruto (PDB), tergolong rendah bila dibandingkan dengan negera lain, misalnya Malaysia yang mencapai 60% PDB. Dengan angka itu, kemampuan pemerntah kita membayar utang jauh lebih baik dibanding Malaysia. Jangan dibandingkan dengan Turki dan Argentina apalagi Venezuela yang memang bangkrut. Indonesia bukan untuk dibandingkan dengan ketiga negara itu karena kondisinya jauh lebih baik.

Jadi sudah jelas siapa yang berdusta. Siapa yang terus menakut-nakuti masyarakat dengan data palsu. Mereka inilah gerombolan orang-orang penuh energi negatif,  yang pesimis dan ingin melihat negerinya sendiri hancur dan kemudian bubar. Bukan golongan orang-orang optimis yang terus menghimpun energi positif, terus bekerja karena ingin dan yakin Indonesia segera menjadi negara maju.

Tuesday, September 11, 2018 - 00:00
Kategori Rubrik: