Soal TKA China, Buruh-Buruh Banyak Tingkah

ilustrasi

Oleh : Uster B Kadrisson

Ketika dahulu waktu saya mempunyai bisnis kecil-kecilan saya paling malas mengambil pegawai-pegawai yang berkebangsaan Amerika. Selain banyak maunya dan saya juga harus mengikuti peraturan yang menyebabkan terjadi penambahan pengeluaran biaya yang tidak murah. Mereka hanya mau dibayar di atas upah minimum yang rasanya cukup mencekik leher bagi seseorang dengan usaha pemula. Selain itu harus ada asuransi kesehatan, pembayaran pajak tenaga kerja dan paling malas kalau harus masuk kerja saat hari libur nasional, mereka meminta tambahan bayaran ekstra.

Kalau kerjanya bagus sih, yah.. mungkin akan menjadi pertimbangan dengan hati lapang dan kemungkinan akan mendapat hadiah. Tetapi rata-rata mereka bermalas-malasan dan tidak punya inisiatif untuk melakukan sesuatu hanya berdiam diri menunggu perintah. Kadang kerjaan yang sudah rutin dilakukan harus berulang kali dibilangin dan masih juga melakukan dengan lagak yang ogah ogah. Tetapi giliran nanti hari liburan seperti Christmas datang, paling duluan minta bonus dengan tangan menadah.

Akhirnya saya lebih banyak mengambil pegawai orang-orang yang illegal immigrant atau juga part-timer yang kebanyakan anak-anak sekolah. Mereka tidak menuntut yang berlebihan serta tidak banyak cincong dan rajin melakukan apa saja dengan gaji di bawah upah minimum sehingga biaya pengeluaran menjadi sedikit lebih murah. Mereka terasa lebih menghargai jika diberikan sesuatu berupa bonus atas keberhasilan penjualan ataupun ketika mendapat sebentuk hadiah. Bukan seperti kebanyakan pegawai kebangsaan Amerika yang menilai segala sesuatu pemberian dilihat dari segi harga dan jumlah, berterima kasih di depan muka dan nanti di belakang punggung akan meludah.

Sehingga saya kembali terbayang kesusahan hati ketika kemarin saya melihat berita-berita tentang banyak buruh-buruh yang protes karena meminta jatah. Mereka tidak mau tahu kalau produksi dan penghasilan menurun dalam kondisi negara yang sedang tidak menentu akibat wabah. Walaupun sudah ada kebijakan dari beberapa perusahaan untuk memberikan uang te-ha-er sedikit dan dicicil terpisah-pisah. Bencana pagebluk kali ini bukan hanya membuat kondisi orang perorangan yang menderita, tetapi juga menyebabkan banyak bisnis yang hancur dan berdarah-darah.

Dulu ada temannya teman yang komplain tentang sistem outsourcing yang diberlakukan di berbagai pabrik di seluruh Indonesia. Mengatakan kalau tidak adil karena masa depan menjadi tidak menentu dan tidak terlihat cerah. Yang anehnya dia bukan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menunjukkan kemampuan supaya bisa dipilih kembali, malah sering mangkir dan suka membuat ulah. Alasannya sangat tidak masuk di akal karena menurutnya kalau kontraknya tidak jelas untuk diperpanjang, buat apa dia kerja dengan susah-susah.

Seperti juga tentang orang-orang yang memprotes tentang rencana akan masuknya ratusan buruh dari negara China dalam pembangunan smelter untuk peleburan nikel di Sulawesi Tenggara. Mereka datang untuk mengawasi pembangunan 33 tungku dan mungkin para penolak ini mengira kalau yang bakalan datang itu adalah buruh-buruh yang typenya sama dengan mereka yang berkelas rendah. Yang kerjanya pamer motor mewah dengan cicilan perbulannya menghabiskan hampir seluruh penghasilan dan tidak ada lagi yang tersisa untuk dikirim ke rumah. Bergaya dengan smartphone keluaran terbaru dengan segala aksesorinya, merokok yang harga mahal dan seolah-olah sudah hidup dalam kondisi yang mewah.

Padahal sudah banyak dijelaskan di mass media tentang kedatangan para pekerja asing ini yang merupakan kunci utama dari pengembangan smelter yang akan menyerap tenaga kerja lebih banyak dari yang sudah-sudah. Mereka merupakan tenaga ahli yang hanya akan bekerja untuk beberapa bulan saja guna mengawasi pembangunan dan pelaksanaan tahap awal setelah itu keahlian akan ditransfer atau berpindah. Selain itu jumlah mereka juga tidak seberapa hanya kurang dari sepuluh persen dari jumlah total buruh yang bekerja. Tetapi banyak suara-suara yang menolak hanya karena mereka dari China tanpa mengerti dasar permasalahan dan suaranya berdengung kencang bagaikan lebah yang sedang marah.

Ada tulisan yang beredar di dunia maya yang katanya merupakan keterangan seorang mantan mentri yaitu pak Siswono Yudohusodo yang turut serta dalam transaksi kontrak kerja. Beliau menuliskan kalau transaksi ini sudah baik dan tidak ada yang melanggar hukum dan salah. Untuk kedepannya semua pabrikan dan seluruh tenaga kerja akan dikuasai oleh anak-anak bangsa yang penuh berkah. Tetapi saya yakin keterangan yang sudah sedemikian detail ini masih juga tidak akan dimengerti oleh kaum yang serakah dan salah kaprah.

Juga ada bocoran pembicaraan empat mata antara kepala negara tentang rencana pemindahan pabrik yang selama ini memproduksi barang-barang untuk konsumsi rakyat Amerika. Karena perang dagang yang terjadi dengan China membuat intrik-intrik drama konspirasi yang akhirnya merambat luas ke dunia usaha. Tetapi dikhawatirkan kesempatan emas seperti ini akan lepas dari genggaman kalau suasana perburuhan di tanah air yang tidak tenang dan hanya akan membuat susah. Jangan heran kalau nanti investor ogah masuk ke Indonesia karena mereka lebih memilih untuk membangun pabrik di negara-negara dengan iklim perburuhan yang termasuk tenang dan aman seperti Thailand, Vietnam ataupun Kamboja.

Sewaktu saya pernah tinggal di negara bagian Iowa yang berada di tengah-tengah Amerika serta juga ketika sering berpergian dan menjelajah. Keheranan saya adalah ketika menemui pabrik atau kantor pusat sebuah perusahaan yang sangat ternama berada di kota-kota kecil yang terpencil dan jauh dari mana-mana. Belakangan saya mengerti karena infrastruktur mereka yang sudah mapan seperti jalanan, pelabuhan udara dan terminal peti kemas yang terkonsep dalam satu daerah dan bisa dijangkau dengan sangat mudah. Dengan makin giatnya semua infrastruktur yang telah dan sedang dikerjakan oleh pemerintah dibawah komando ayahanda Jokowi, suatu saat kompleks Bekasi, Cikarang dan sekitarnya akan ditinggalkan karena perusahaan malas berurusan dengan buruh-buruh yang banyak tingkah.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Saturday, May 16, 2020 - 13:30
Kategori Rubrik: