Soal Perut Jokowi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Makan, hobi kulineran, hak segala lidah dan perut bangsa. Juga termasuk presiden, dan apalagi Jokowi, yang tengah mendorong spirit entrepreneurship semua lapisan masyarakat.

Tapi, mbok ya, jangan suka makan di sembarang tempat dan waktu, Mr. President. Karena itu bukan hanya merepotkan semua anggota Paspampres, juga bukan soal keselamatan sampeyan. Tetapi, arus lalu-lintas jadi terganggu, hanya karena urusan lidah dan perut sampeyan. Itu tidak patut. Hanya gegara urusan lidah dan perut satu orang, 100 orang diuntungkan, tetapi 500an orang dirugikan. Jalanan macet terkena clear area.

 

 

Saya pernah nonton gaya pengawalan sampeyan dari Istana Mbogor ke Istana Negara Jakarta. Keren. Cukup sopan menembus padat lalu-lintas. Tanpa sirene. Tanpa nyegat-nyegat kendaraan lain. Beda dengan gaya penguasa sebelumnya. Beda pula dengan Anies dan Sandi, yang suka minta privilege dan ngelanggar aturan.

Tapi soal makan ini lho, ampun dah! Sekali lagi bukan soal keributan Detasemen Kesehatan Paspampres yang kalang-kabut. Tetapi multiplier effectnya. Pasti dokter-dokter paspampres itu gaya-gayaan meriksa warung kaki-lima atau rumahan yang memang di bawah standar. Kasihan pemilik warung yang lugu itu. Pusing mereka ngadepin peralatan canggih, hanya untuk sekedar meyakinkan makanan yang mau disantap presiden.

Kalau berbahaya dan bikin mati orang, warung itu sudah tutup sejak orang pertama terbunuh di situ. Jangan nggayalah sampeyan ini, dumeh jadi presiden. Hidupkan instingmu lagi. Kalau nggak mau mati, ya jangan makan sembarang tempat. Gitu aja kok repot!

Saya bukan melarang sampeyan jajan sembarang. Tapi kalau mau tanpa merepotkan orang lain, tentukan 3 jam sebelumnya. Perintahkan intelijen dan Demkes Paspampres menyiapkan segala sesuatunya diam-diam, tanpa kehebohan. Setelah semua siap, baru sampeyan datang. Itu pun tak usah hura-hura. Apalagi nutup jalan segala.

Soal lapar kok diatur tiga jam sebelumnya, terus sampeyan bilang itu tidak otentik, dibuat-buat, pencitraan, tidak spontan. Ya kalau gitu maunya, nyamar kek, seperti isteri sampeyan beli tas di Mboyolali dulu. Itu keren! Kalau nggak mau nyamar, takut nggak dikenal dan diupload di youtube, ya jangan jadi presiden. Ini sebenarnya soal mendadak lapar, mendadak kulineran, atau mau kampanye sih? Jangan norak-norak bangetlah. Nggak usah mbenthoyong. Banyak cara elegan beraroma ndesit yang bisa dilakukan. Kreatif dikitlah! Jangan karena sudah sedikit gemukan terus antenanya lowbatt.

Jangan lupa, protap pengamanan itu standar tapi beda-beda antardaerah. Dari Mbogor sampai Jakarta mungkin dalam kendali. Tetapi di daerah? Mbekasi saja, ingat tanggal 27 Desember 2017 lalu? Ratusan orang tertahan di kendaraan dan panas jalan. Hampir satu jam nunggu sampeyan melintas, dan berhenti di warung makan dekat Bekasi City Mall. Jangan lupa, yang lapar bukan hanya sampeyan.

Ini kritik dan saran saya. Nggak diterima juga gpp. Saya juga bebas milih dan tidak milih siapa presidennya kelak. 

 

(Sumber: Facebook @sunardian)

Friday, January 5, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: