Soal Nikel, Indonesia Lawan Barat dan Tiongkok

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Mulai 1 Januari 2020..., Indonesia tidak lagi menjual nikel ore..., atau nikel mentah yang baru saja keluar dan dipanen dari tambang.

Uni Eropa (UE) melaporkan Indonesia ke WTO dengan alasan yang aneh...: Indonesia dikhawatirkan bakal mencemari lingkungan..., karena belum memiliki teknologi yang sepadan dengan kesulitannya.

Tepat bila presiden Jokowi bilang...: "Siapkan lawyer yang bagus....!!".

Laporan ini tidak bisa anggap remeh...., Ini WTO..., harus ada strategi formal yang harus kita lalui.

Nikel..., adalah mineral bumi yang sangat-sangat strategis.

Jumlahnya tidak banyak..., dan hanya dimiliki oleh beberapa negara saja.

Suatu saat nanti..., nikel akan sama strategisnya dengan minyak.

Semua mahfum..., perang di manapun saat ini selalu tentang minyak.

Siapa menguasai minyak..., dia akan menguasai dunia.

Negara yang memiliki kandungan minyak dan gas dalam jumlah berlimpah..., lambat namun pasti menjadi tujuan perampokan negara besar dengan modus baru.

Dibuat ribut..., perang saudara..., dan jika sang 'juru selamat' datang..., habis sudah negara itu.

Suriah adalah contoh paling konkrit.

Negara itu awalnya tenang dan aman..., namun hanya karena indikasi memiliki kandungan gas luar biasa besar di wilayah utaranya..., tiba2 muncul perseteruan Syiah dan Suni.

Perang saudarapun terjadi dengan cepat.

Sebetulnya tidak ada perang agama di Suriah..., yang ada hanyalah perang perebutan sumber daya alam.

Demikian pentingnya minyak sebagai sumber energi..., dan sekaligus sebagai penggerak ekonomi suatu bangsa..., maka kasus Suriah selalu berulang.

Namun suatu saat..., minyak sebagai sumber energi pasti habis.

Pengganti minyak fosil..., sudah dan sedang dikembangkan terus menerus.

Indonesia sudah mengantisipasi hal tersebut dengan CPO-nya.

CPO asal Indonesia..., diboikot dan dikisruhi oleh EU dengan menggunakan isu lingkungan hidup.

CPO yang ditolak dan diboikot itu kini telah dimodifikasi sedemikian rupa..., sehingga menjadi energi pengganti setara bensin..., solar..., bahkan aftur sebagai energi terbarukan.

Dan hal ini adalah asli hasil penelitian putra putri Indonesia.

Inovasi anak bangsa..., yang membuat bangsa Eropa terkejut dan mulai khawatir.

Indonesia sedikit demi sedikit mampu menjawab tantangan..., bagaimana membuat energi terbarukan.

Energi terbarukan lain yang tidak perlu diperebutkan..., karena selalu tersedia dalam jumlah tak terbatas adalah matahari dan angin.

Indonesia sebagai negara yang dilalui garis katulistiwa..., memiliki kelebihan ini.

Matahari bersinar selama 365 hari dalam satu tahun.

Namun..., memanfaatkan metahari dan angin sebagai sumber energi..., dibutuhkan baterai sebagai tempat penyimpan.

Di sinilah nikel berperan.

Nikel dan turunannya selain sangat dibutuhkan dalam metalurgi..., yakni dalam pembuatan besi nir karat atau biasa dikenal dengan stainless steel..., dia juga sebagai bahan utama pembuatan baterai lithium.

Siapa yang mampu mengubah dan menyimpan energi tak terbatas ini menjadi energi yang mudah dipergunakan..., adalah dia yang akan menguasai masa depan.

Pemerintah Indonesia..., di bawah pimpinan Jokowi telah berpikir jauh ke depan.

Pengambil-alihan saham Vale..., yakni pemain kakap kelas dunia pertambangan mineral berupa nikel dari Brasilia yang berada di Sulawesi telah dilakukan.

Tidak berbeda dengan Freeport..., ini adalah prestasi.

Peraturan baru tentang penjualan nikel dalam bentuk ore..., langsung dilarang.

Langkah lebih jauh..., negara membangun pabrik pembuatan baterai mobil di Morowali Sulawesi Tengah.

Pabrik dibangun di dekat sumber bahan baku berasal.

Hal ini dilakukan dalam rangka merealisasikan cita-cita negara..., yaitu menjadikan Indonesia sebagai basis industri mobil listrik dunia.

Semua sudah diperhitungkan dengan masak oleh negara.

Dengan memiliki cadangan deposit nikel melimpah..., insentif pajak serta regulasi yang berpihak..., maka investor berikut teknologi pembuatan mobil elektrik pasti akan berebut ke Indonesia.

Selama bahan baku dapat dikelola dengan baik..., aturan yang lain adalah nomor berikutnya..., semua bergantung kepada bahan baku.

Industri baterai mobil tercipta..., industri otomotif berbasis listrik otomatis berjalan.

Demikianlah..., Indonesia dipastikan akan memasuki periode industri berbasis teknologi tinggi.

Semua ini hanya menunggu waktu.

Teknologi baterai sebagai penyimpan energi..., akan menjadi spesialisasi Indonesia seperti halnya Korsel sebagai sepesialisasi prosesor dalam dunia komputer.

Indonesia hanya tinggal satu langkah..., yakni belajar bagaimana membuat silikon sebagai bahan sel surya sebagai alat pengubah panas matahari menjadi listrik.

Bahan baku silikon sangat banyak..., dan tersebar merata di seluruh Indonesia.

Negara hanya perlu membuat kebijakan.

Langsung terbayang..., betapa cerah masa depan Indonesia sebagai negara.

Terbayang ketika PLN mampu menyediakan listrik untuk pabrik..., angkutan umum..., dan seluruh proyek vital negara dengan menggunakan CPO.

Terbayang ketika kendaraan pribadi berbasis listrik..., dan kebutuhan listrik rumah tangga seluruh rakyat terpenuhi hanya dari matahari dan angin.

Terbayang..., saat Indonesia menjadi negara super bersih dari polusi.

Semua itu sangat mungkin dapat diwujudkan dengan awal sederhana..., yakni hanya dengan mempertahankan nikel tetap menjadi milik berharga kita.

Nikel adalah masa depan kita.

Nikel adalah dimana sumber energi penggerak kehidupan tersimpan.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Thursday, December 19, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: