Soal Larangan MUI Ucap Salam Pada Beda Agama

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

MUI Jawa Timur membuat pernyataan bahwa para pejabat yang mengucapkan salam agama lain itu haram.

Lalu bagaimana pendapat saya dan menyikapi semua ini?

Begini,

Mengucapkan salam. Assalamualaikum, Shalom, Om Swastiastu, Namo Budaya. Kata yang diucapkan itu berarti doa.

Saya sering mengucapkan salam, Assalamualaikum, Om Swastiastu, Salam kebajikan, untuk memulai pembicaraan. Baik saat memimpin rapat di kantor sebagai pimpinan, saat jadi pembicara di seminar, dan menjadi dosen sebelum memulai mengajar mahasiswa saya di kampus.

Mengucapkan salam itu doa yang bagus.
Tapi sekarang kita disuguhkan dengan kata yang begitu gampang nya diobral yaitu haram.

Kata haram begitu mudah sekali diucapkan sekelas MUI. Ucapan dari MUI akhirnya menuai polemik dan kontroversi.

Saya jadi teringat ucapan yang sama yang pernah diucapkan Ustadz Abdul Somad beberapa waktu lalu. Dia pernah berucap bahwa tanda palang merah di mobil ambulan itu lambang salib dan haram hukumnya, merayakan hari Ibu haram, main catur haram, lomba burung berkicau haram dan gitar itu haram.

Saya melihat fenomena ini agar saya dapat menilai mana ajaran mulia dan mana ajaran yang tidak mulia.

Saya tidak bisa berkata bahwa ajaran dan nilai-nilai yang MUI dan Abdul Somad yakini itu baik dan benar. bila mereka sering mempertontonkan ke publik teriakan-teriakan kebencian, amarah, gampang mengharamkan, terlihat sikap arogan, merasa paling benar dan sok suci.

Apakah orang lain akan percaya bila saya katakan bahwa ajaran Ustadz Abdul Somad ini penuh kedamaian dan penuh kasih sayang? Tapi selama ini yang selalu dia perlihatkan kepada orang banyak adalah wajah yang penuh kebengisan, kebencian dan wajah keras seperti kena air keras dan mulut nya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Biarlah semua mata dapat melihat, menilai dan merasakan atmosfirnya, mana ajaran mulia dan mana ajaran yang tidak mulia.

Padahal sejatinya, semakin tinggi rasa kasih sayang kita kepada sesama manusia, maka semakin tinggi pula derajat cinta Tuhan terhadap kita.

Sebaliknya semakin kita membenci kepada sesama manusia, maka semakin rendah pula kedudukan kita dihadapan Tuhan.

Saya pribadi mencintai Nilai-Nilai ajaran kebenaran, kebaikan, toleran, penuh cinta dan kasih yang saya yakini hingga saat ini. Bahwa Allah saya adalah Kasih.

Untuk mengasihi, merangkul, menyayangi semua makhluk ciptaan Allah tanpa membedakan dan melihat apa agamanya. Membawa pesan damai, sejahtera, sukacita, pengampunan, kesabaran, kemurahan.

Dan ajaran agama islam yang saya yakini adalah agama ramah penuh kelembutan. Agama cinta penuh kasih. Bukan ajaran agama pemarah yang selalu menghakimi, mengharamkan dan mengkafirkan secara sepihak.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Tuesday, November 12, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: