Soal Dungu dan Kapir

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Ketika negeri mereka ambruk secara ekonomi, pendidikan, dan politik; dalam film dokumenter ‘Waiting for Superman’, seorang Amerika balik bertanya, “Kenapa kita tak membuat sikat gigi, dan menjualnya ke orang China? Jumlah mereka besar. Mengapa kita tidak berpikir itu? Mengapa justeru mereka yang melakukan itu pada kita?”

Kita tahu, Republik Rakyat China merupakan negara dengan penduduk terbesar di dunia, 1.394.750.000. India ke-dua, dengan 1.337.070.000, baru kemudian Amerika Serikat, 330.176.000. Itu semua data terbaru, 8 Februari 2019. Karena sistem pendataan mereka yang computeryzed.

 

 

Indonesia sebagai juara ke-empat, dengan jumlah penduduk 265.015.300. Di pusat data Ibukota Negara, angka itu data 18 Juli 2018. Ketinggalan jaman? Enggak juga. Di Pusat Studi Kependudukan UGM, Yogyakarta, tiap hari data itu terupdate tiap detik. Jadi itu soal sikap-mental para birokrat yang artinya bawahan pemerintahan Jokowi juga.

Banyaknya penduduk, bukanlah beban. Justeru makin besar SDM makin kaya potensi pemberdayaannya. China misalnya, mampu mengguyuri dunia dengan jumlah penduduknya yang besar. AS saja kecipuhan dalam perang dagang dengan China. Di Jakarta pun, di atas bus kota atau pun angkot, banyak ditawarkan benda-benda kayak peniti, kapur-barus, jarum jahit, ballpoint made in China, dengan harga murah-meriah.

Dalam hal tertentu, film misalnya, India dengan populasi terbesar ke-dua, mampu menolak invasi Hollywood ke negaranya. Industri film mereka, kayak perusahaan home-industri, mampu mengalahkan jumlah produksi Hollywood.

Tapi, durung-durung wis,... belum apa-apa sudah nglarang ini-itu, karena agama atau kepentingan politik. Mana yang dibilang antek aseng, sampai hadis nabi soal ‘belajar ke negeri China’ pun dibilang tidak soheh. Baru ketika Prabowo minta kadernya belajar ke negeri China, Amien Rais pun mingkem. Lebih mengerikan Prabowokah, daripada Kanjeng Nabi Muhammadkah shallallahu’ alaihi wasallam? Astagfirullahall’adziem.

Selisih penduduk Indonesia-AS makin kecil. Apakah akan jadi ancaman bagi Amerika? Presiden macam Sukarno dan Jokowi, bukan ideal-type AS. Kita lihat saja indikasi atau naga-naganya, setelah kita memulai negara modern dengan mengampu kepentingan AS, sejak Soeharto sukses menyingkirkan Sukarno pada 1965.

Orang-orang yang terusik kenyamannya, dengan kebijakan Jokowi, akan mati-matian ngomong soal pembubaran Petral, divestasi Freeport, satu harga BBM seluruh tanah air, adalah omong kosong. Karena hanya dengan cara itulah yang diyakini untuk membuat orang tidak percaya. Maka segala macam hoax dan fitnah lebih banyak diproduksi, karena mereka tak punya cara yang lebih baik. Pemroduksi hoax terbesar adalah Pemerintah? Bukan. Kaum pembenci dan tidak jujur, ialah pemroduksi hoax terbesar.

Pemerintah itu posisi, non-pemerintah sayangnya memposisikan diri sebagai oposisi. Kelompok opisisi menganggap pemerintah adalah musuh. Bukan partner yang mesti didukung dengan kritik.

Maka, apakah kita mampu bersaing di luar, jika di dalam rumah tangga kita bermusuhan, hanya karena rebutan presiden? Presiden sesungguhnya tidak penting, tanpa kehadiran parlemen atau anggota DPR yang genah. Demikian juga, dan apalagi, jika di pihak judikatif sama sekali tak seiring sejalan dengan pemerintahan.

Tapi, last but not least, rakyat yang sadar hak politiknyalah yang bisa menentukan arah negara ini. Kalau mereka cuek, entah karena putus asa atau ketidaktahuan, negara hanya akan jadi persoalan para elite, yang lebih pinter dalam merumitkan masalah sederhana.

Manusia tidak pernah akan melihat berakhirnya kesulitan sampai para pencinta kebijaksanaan mendapatkan kekuasaan politik, atau pemegang kekuasaan menjadi pencinta kebijaksanaan, ujar Mbah Plato. Tapi, kalau pemilihan umum mengubah segala sesuatu, kata sang filsuf Emma Goldman, ia akan dinyatakan ilegal. Terutama oleh yang tersingkirkan.

Hingga akhirnya ketidaktulusan lebih menonjolkan kepentingan masing-masing. Bahkan kepentingan untuk berdebat pun, dibelain hanya karena malu dikatakan bodoh. Penginnya dianggep profesor, makanya tega ndungu-ndunguin liyan. Sama kadar dan frekuensinya dengan yang suka ngapir-ngapirin itu.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Saturday, February 9, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: