Soal Dakwah Serahkan Pada Ahlinya

Ilustrasi

Oleh : Tamara Zavieka Abdullah

Harus di akui bahwa rumah sebelah, dalam merekrut masa dan menyebarkan info terlepas benar atau abal-abal, mereka lebih jago dari kita-kita. Karena memang mereka dipersiapkan sejak dini agresif menguasai dunia maya, menjaring simpatisan dan bermain cantik sebelum berperang. Walaupun ujung-ujungnya kita semua tertawa, seperti contohnya berita aksi 212 Monaslimin, yang konon para pentolan itu memberitakan dihadiri puluhan juta manusia. Ouh Ya!!!

Meskipun ini kabar jenaka ditelinga dan tidak bisa diterima akal, tapi faktanya demikian. Orang awam yang masuk kedalam ring mereka tetap kepede-an dan menurutnya kebenaran yang mereka sebar itu tak terbantahkan. Ampun dah!!!

Percayalah, mereka itu hanya minoritas. Sejak kapan Santri NU menjadi minoritas di negeri sendiri. Ini adalah sejarah mustahil kawan! Namun memang yang terjadi menurut pengamat media maya, para minoritas itu jauh lebih kompak, bersemangat dan canggih dalam pengendalian masa yang dikelola secara profesional oleh cyber-cybernya.

Mungkin secara akal waras akan muncul pertanyaan. Apakah kita ini sudah tertinggal? Menurutku, sama sekali tidak ada kata tertinggal. Jauh sebelum muncul pemikiran mereka yang merambati otak para umat dan ustadz tahu bulat dadakan. Setiap sendi kekuatan pemerintah, pendidikan dan ekonomi yang ada di negeri ini sudah kita kuasai. Namun semua itu akhirnya akan membuat kita gigit jari, jika pola pergerakan dan sikap kepede-an muka tembok itu tidak di imbangi.

Seperti hal diriku ini. Bukan seorang yang diperintah atau dibayar untuk terlibat dalam kancah perang pendapat atau sekedar membantah argumentasi mereka yang selalu terindikasi HOAX. Jariku bergerak melesat kedunia maya karena dua alasan yakni: sebab aku cinta NU dan tak terima NU dipermainkan sebegitunya oleh para begundal.

Berdiri sendiri, menjelajah dan melobi para penulis sejati demi mengimbangi gerak para aktor pembodohan yang semakin tak bisa didiamkan!

Kawan, jangan menunggu komando dalam perang non fisik ini. Biarlah para Yai dan Gus itu tampil sebagai insan mulia. Kita rakyat jelatanya tak boleh membebani beliau-beliau dalam kancah perang medsos yang penuh dengan kata nanah busuk dan kalimat darah amis yang membuat otak jongkok.

Jika kau tak bisa menulis, sebarkan saja tulisan penderek para insan mulia itu. Atau setidaknya kau kopas dan kau bagi dengan teman-temanmu. Apa sih susahnya! Ego kok dibesarin, misi mulia tuh digedein!

Buang jauh-jauh pikiran jika bergerak lalu apa yang akan kau dapatkan! Ini cetusan kalimat yang bodoh! Bukankah Islam yang penuh kasih sayang yang kamu genggam sepanjang hidupmu itu berkat perjuangan para Yai dan Gus NU. Tahukah kamu akan hal itu?!

Lantas mau menuntut apalagi pada Yai dan Gusmu yang menurutku alim dan bijak itu! Belum cukupkah cahaya terang yang dipancarkan oleh para Yai dan Gusmu sehingga kamu terbebas dari kejahiliyahan, kebutaan dan pembodohan para radikal itu? Coba pikirkan, belum cukupkah jasa besar mereka sehingga kau tak punya nyali untuk sekedar mengatakan siap berjuang sebagai balas budi kebaikan yang kamu terima!

Astaghfirullah, aku tidak setolol itu! Bagiku berjuang dengan segenap hati rela menerima segala resikonya, entah akan diterima atau tidaknya bagian perjuanganku ini nantinya. Yang terpenting aku telah mencoba dan berusaha tidak menjadi penjilat agama.

MELEK... Kang...MELEK!!!

Sumber : Status Facebook Tamara Zavieka Abdullah

Thursday, December 6, 2018 - 18:15
Kategori Rubrik: